Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You
    It helps you see more of our articles when you search on Google
    Seperti Apa Bentuk Peer Pressure dalam Pertemanan?
    ilustrasi pertemanan (pexels.com/Vietnam Photographer)
    • Peer pressure adalah pengaruh teman sebaya yang mendorong seseorang mengikuti pilihan atau kebiasaan kelompok, meski rencana dan keinginannya berbeda.
    • Bentuknya meliputi bujukan berulang setelah menolak, membeli barang demi tidak terlihat berbeda, serta ikut tindakan kelompok meski sebenarnya ragu.
    • Tekanan juga terlihat saat seseorang terus mengalah, berkata “terserah”, atau selalu mengiyakan ajakan karena takut tidak diajak dan kehilangan pertemanan.
    This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

    Pernah gak kamu pulang nongkrong sambil berpikir, “Kenapa tadi aku ikut, ya?” Padahal sebelum berangkat kamu sudah punya rencana lain, bahkan sempat bilang gak mau ikut.

    Hal seperti ini berkaitan dengan peer pressure, yaitu pengaruh dari teman sebaya yang membuat seseorang terdorong untuk mengikuti pilihan atau kebiasaan teman-temannya. Lalu, seperti apa bentuk peer pressure dalam pertemanan? Simak selengkapnya di bawah ini.

    1. Teman terus membujuk setelah kamu bilang tidak

    ilustrasi membujuk teman (pexels.com/RODNAE Productions)

    Misalnya, kamu sudah bilang gak bisa ikut nongkrong karena ada urusan di rumah. Bukannya berhenti, teman malah lanjut membujuk, “Yaelah, sebentar doang,” atau “Masa gak bisa ditinggal?” Satu dua kali mungkin bisa dianggap angin lalu, tetapi kalau terus begitu, kamu bisa merasa gak enak sendiri karena sudah menolak terus-menerus.

    Akhirnya kamu tetap ikut meski sebenarnya gak ingin hadir. Bukan karena rencana awalmu berubah, melainkan karena capek terus menjelaskan alasan penolakan. Di titik ini, kamu bukan lagi sekadar menerima ajakan teman, tetapi merasa harus mengiyakan supaya mereka berhenti membujuk.

    2. Ikut membeli atau memakai sesuatu karena semua teman memilikinya

    ilustrasi membeli kacamata (pexels.com/Gustavo Fring)

    Pernah melihat satu barang dipakai hampir semua teman, lalu tiba-tiba kamu juga ingin punya? Bisa jadi memang kamu suka barang tersebut, tetapi kadang keinginan itu muncul karena sebenarnya kamu gak mau kelihatan berbeda sendirian. Contohnya bisa sesederhana membeli sepatu dengan model yang sama, mengganti ponsel, memakai merek pakaian tertentu, atau mengikuti gaya makeup yang sedang ramai di tongkrongan.

    Masalahnya bukan pada barang yang dibeli. Kalau memang suka dan uangnya ada, tentu gak ada yang salah dengan ikut tren. Namun, kalau kamu sebenarnya gak membutuhkan atau gak terlalu suka, tetapi tetap membeli karena takut dianggap gak mengikuti perkembangan, keputusan semacam itu sudah banyak dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan.

    3. Ikut melakukan sesuatu karena semua teman melakukannya

    ilustrasi pertemanan (unsplash.com/Eve)

    Tekanan dari teman juga bisa muncul ketika kamu sebenarnya gak mau melakukan sesuatu, tetapi akhirnya ikut karena semua orang di kelompok melakukannya. Misalnya, teman-teman mengajak bolos, membuat lelucon yang kelewat batas kepada orang lain, atau melakukan sesuatu yang sejak awal bikin kamu ragu. Kamu mungkin sudah kepikiran untuk menolak, tetapi melihat semua orang ikut membuatmu takut dianggap pengecut atau gak solid.

    Hal seperti ini bisa terjadi tanpa ada satu orang pun yang secara terang-terangan menyuruhmu. Cukup dengan melihat teman-teman lain melakukannya, kamu sudah merasa harus ikut supaya gak menjadi satu-satunya orang yang berbeda. Di sinilah pengaruh kelompok terasa kuat, karena keputusanmu berubah bukan karena kamu tiba-tiba menginginkannya, tetapi karena gak mau berdiri sendirian.

    4. Lebih sering bilang “terserah” meski sebenarnya punya pilihan sendiri

    ilustrasi bilang terserah (pexels.com/Trinity Kubassek)

    Saat mau makan bareng, kamu sebenarnya ingin makan ayam geprek. Teman-teman memilih bakso, lalu ketika ditanya, kamu menjawab, “Terserah.” Hal kecil seperti ini mungkin gak berarti apa-apa kalau hanya sesekali terjadi.

    Namun, coba perhatikan kalau jawaban tersebut sudah menjadi kebiasaan. Kamu terus mengikuti keputusan kelompok karena merasa pendapat sendiri gak perlu disampaikan. Lama-lama, bukan karena gak punya pilihan, kamu hanya sudah terbiasa mengalah sebelum mengutarakan apa yang sebenarnya kamu mau.

    5. Takut gak diajak lagi kalau terlalu sering menolak

    ilustrasi menolak ajakan (pexels.com/Budgeron Bach)

    Terakhir, tanda peer pressure dalam pertemanan adalah selalu mengatakan "iya" karena takut suatu hari namanya gak lagi masuk ke daftar orang yang diajak. Misalnya, teman mengajak pergi malam-malam dan kamu sebenarnya ingin istirahat, tetapi tetap datang karena kepikiran, “Kalau kali ini gak ikut, nanti mereka bakal jalan tanpa aku lagi.” Pikiran seperti itu bisa membuat ajakan sederhana terasa seperti sesuatu yang harus diterima.

    Padahal, teman yang dekat belum tentu harus selalu pergi bersama. Kamu bisa saja gak ikut satu acara dan tetap ngobrol seperti biasa keesokan harinya. Kalau setiap penolakan membuatmu takut kehilangan teman, mungkin yang perlu diperhatikan bukan cuma ajakannya, tetapi juga kenapa mengatakan tidak terasa begitu sulit.

    Namanya juga berteman, wajar kalau sesekali ikut pilihan orang lain. Kamu gak harus selalu punya keputusan yang berbeda hanya untuk membuktikan diri, tetapi kamu juga gak perlu terus mengatakan "iya" supaya tetap dianggap teman. Ada kalanya ikut karena memang mau, dan ada kalanya pulang lebih dulu atau memilih gak datang tanpa merasa bersalah.

    This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

    Curated For You

    Editorial Team

    Related Article