Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pelajaran di Balik Aktivitas Memasak, Tak Bisa Dilakukan Seenaknya
ilustrasi memasak (pexels.com/Gustavo Fring)
  • Bukan sekadar mencampur bumbu dan bahan, ada banyak pelajaran di balik aktivitas memasak.

  • Kamu suka masakan asin, tetapi masakan yang asin berlebih juga tak enak. Seperti kehidupan, sesuatu yang berlebihan juga tidak baik.

  • Banyak hidangan lezat membutuhkan waktu lama untuk memasaknya. Oleh sebab itu, hargailah proses dalam kehidupan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Seberapa sering kamu memasak? Saat kondisi ekonomi kurang baik begini, saran yang paling banyak diberikan untuk menekan pengeluaran ialah memasak sendiri. Memang agak ribet, sih.

Namun, usaha yang dilakukan akan sepadan dengan uang belanja yang dapat disimpan. Sesekali membeli makanan siap santap tentu tidak apa-apa. Selebihnya memasak sendiri. Di balik aktivitas yang bagi banyak orang merupakan rutinitas tiap hari ini, tahukah kamu bahwa ada banyak pelajaran tentang hidup?

Coba kamu perhatikan setiap langkah ketika mengolah bahan agar menjadi hidangan tertentu. Rupanya, ada pelajaran di balik aktivitas memasak tersebut. Hanya saja selama ini dirimu barangkali kurang memperhatikan makna dan kaitannya dengan kehidupan.

1. Persiapan sangat memengaruhi proses memasak dan hasil akhir

ilustrasi bersiap memasak (pexels.com/Anna Shvets)

Sebelum memasak, pasti ada persiapan yang dilakukan. Seperti menyiapkan bahan dan bumbu yang diperlukan. Bahkan, mengecek kira-kira gas dalam tabung masih cukup sampai masakan matang atau tidak. Bayangkan seandainya persiapan tak dilakukan atau cuma asal-asalan.

Repot sekali bila di tengah kamu memasak baru sadar jenis rempahnya kurang atau gas habis. Masakan bisa gagal. Demikian juga dalam hidup selalu dibutuhkan persiapan. Seperti persiapan dana darurat, dana pendidikan anak, tabungan pensiun, hingga persiapan fisik dan mental untuk menghadapi apa pun.

2. Ada tahap yang bisa di-skip atau harus sesuai

ilustrasi memasak (pexels.com/Yan Krukau)

Ketika kamu membaca resep, pasti ada tahapan-tahapan dalam memasak. Dari sesederhana cara mengiris bawang dan cabai sampai ke pengolahan bahan utama. Semuanya diberi nomor dan memakai kalimat ringkas agar mudah diikuti.

Ada tahap memasak yang bila dilewati gak masalah. Contoh, bumbu sayur sop umumnya ditumis sebentar sebelum diberi air. Akan tetapi, jika kamu sedang menghindari minyak goreng, bumbu halus bisa langsung dimasukkan ke air mendidih bersama sayur.

Beda lagi apabila dirimu memasak mangut lele. Lele mesti digoreng atau diasap dulu. Seandainya kamu memilih memasukkan lele mentah ke kuah berbumbu, justru mudah hancur ketika dimasak agak lama. Kamu hendak berbuat apa pun juga sama. Jangan asal melewatkan sesuatu seperti nasihat atau langkah kerja tanpa memikirkan risikonya.

3. Nyala api yang besar tak selalu baik

ilustrasi memasak (pexels.com/Samir)

Orang yang tak pernah memasak mungkin berpikir tambah besar apinya tambah bagus. Masakan menjadi sangat cepat matang. Padahal, api besar justru dapat membuat masakan gosong. Atau, cuma matang di luar, tetapi bagian dalamnya masih mentah.

Sementara api kecil selain menghindari masakan gosong, juga membuat bumbu lebih meresap. Apa hikmahnya? Semangatmu yang menggebu-gebu dalam berbagai hal tak selalu baik. Itu malah dapat menutup pikiran jernihmu dan membuatmu kurang hati-hati.

4. Bumbu sama, lain orang lain rasa

ilustrasi mengiris bawang merah (pexels.com/mali maeder)

Meniru masakan bukan hal mudah. Dari wujud, tentu bisa sangat mirip. Namun, rasanya sukar dibuat persis. Sekalipun daftar bumbu dan langkah memasak juga telah diberikan.

Kamu, misalnya, belum tentu dapat memasak suatu masakan sama persis dengan ibumu. Begitu pula dalam usaha kuliner. Kerap kali rasa masakan agak berubah setelah usaha turun ke generasi berikutnya.

Dalam hidup, kamu tidak perlu berusaha terlalu keras meniru orang lain 100 persen. Dirimu cukup mencontoh beberapa hal baik darinya, tapi tetap disesuaikan dengan situasimu. Hindari pula perbandingan berlebihan yang cuma membuatmu merasa amat buruk.

5. Masakan yang sedap ialah yang rasanya pas

ilustrasi memasak (pexels.com/RDNE Stock project)

Katakanlah kamu cukup suka masakan dengan rasa cenderung asin. Namun, bukan berarti rasa masakan tambah asin tambah enak buatmu. Rasa asin yang bisa diterima dan dinikmati olehmu tetap ada batasnya.

Artinya, segala yang berlebihan memang gak baik. Seperti kerja berlebihan dengan alasan mengejar pensiun dini. Jangan sampai dirimu kelelahan dan ambruk. Begitu pula gaya hidup yang melampaui kemampuan atau justru terlalu pelit demi irit. Perhatikan letak titik pasmu dalam berbagai hal.

6. Satu orang memasak, penikmatnya banyak

ilustrasi memasak bersama (pexels.com/Ruyat Supriazi)

Tentu ada orang yang memasak buat dirinya sendiri. Namun, lebih banyak orang memasak di rumah untuk dinikmati oleh sekian orang. Seperti ibu atau ayah memasak untuk sekeluarga. Begitu pula di warung makan.

Hanya beberapa orang yang memasak, tetapi ratusan orang datang untuk membelinya. Kamu juga perlu meneladani hal ini. Dirimu memang cuma satu orang. Akan tetapi, usahakan hidupmu bisa memberi manfaat bagi banyak orang dengan cara-cara yang tepat. Seperti berbagi ilmu pengetahuan.

7. Banyak hidangan lezat butuh waktu memasak sangat lama

ilustrasi memasak (pexels.com/Sarah Chai)

Contohnya, rendang dan gudeg. Keduanya butuh waktu memasak yang lama supaya rasanya enak. Bumbunya sangat meresap. Bukan berarti makanan yang dimasak dalam waktu lebih singkat tidak enak. Namun, ini cukup menjadi inspirasi untukmu dalam berproses.

Tidak perlu gegabah menginginkan segalanya berjalan dengan cepat. Seakan-akan hari ini bermimpi, besok harus terlaksana. Kalau impianmu tidak cepat tergapai, rasanya sudah gagal total. Padahal, boleh jadi dirimu justru sedang dimatangkan prosesnya agar layak mendapatkan hasil maksimal.

Ternyata memasak bukan sekadar mencemplungkan berbagai bumbu dan bahan. Memasak ialah proses panjang dari bahan mentah yang gak enak dimakan langsung menjadi lezat. Ada banyak pelajaran di balik aktivitas memasak yang bisa diterapkan di dalam hidupmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article