Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Pelajaran Hidup pada Usia 35+, Mental makin Matang

7 Pelajaran Hidup pada Usia 35+, Mental makin Matang
ilustrasi seorang perempuan (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya Sih
  • Usia 35+ menandai kematangan mental dan kemandirian, di mana seseorang belajar mengandalkan diri sendiri serta lebih selektif dalam memberi perhatian pada orang lain.
  • Pada fase ini, tanggung jawab finansial meningkat dan energi difokuskan untuk hal produktif, bukan drama atau urusan yang tidak penting.
  • Sikap legawa terhadap realitas tumbuh seiring usia, namun semangat bermimpi tetap ada dengan tujuan yang lebih realistis dan fokus pada perjalanan pribadi tanpa membandingkan diri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Menurutmu, usia 35 tahun ke atas termasuk sudah tua atau belum? Kalau kamu berumur dua puluhan tahun, mungkin 35+ tampak senior. Namun, kelak ketika dirimu menginjak usia tersebut, malah gak merasa tua.

Rasanya seperti masih semuda 10 sampai 15 tahun yang lalu. Ada juga orang berusia 35 tahun ke atas, tetapi secara fisik terlihat lebih muda dari umurnya. Sering kali ini karena ia menjaga gaya hidupnya sebaik mungkin.

Dari segi pengalaman hidup, pada umur ini seseorang mulai matang. Ia jelas belum sekaya orang berusia 60 tahun ke atas dalam hal pengalaman. Namun, bila nanti umurmu sudah di pertengahan kepala tiga, tujuh pelajaran hidup pada usia 35+ berikut ini bakal kalian kantongi.

1. Dalam banyak situasi kamu hanya bisa mengandalkan diri sendiri

seorang pria
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Leszek Czyzewski)

Di umur 35 tahun, sudah gak memungkinkan buatmu bermanja-manja pada orang lain. Bahkan pada pasangan sekalipun. Kesibukan pasangan tidak hanya mengurusmu. Kamu harus siap mengandalkan diri sendiri dalam berbagai situasi.

Ujian kemandirian menjadi lebih besar apabila kamu hidup sendiri. Tak seorang pun bisa menoleransi ketidakmampuanmu menangani berbagai persoalan. Kalaupun mentok ada hal-hal yang gak dapat diatasi sendiri, satu-satunya cara ialah mengupah orang yang tepat buat mengerjakannya. Bukan sekadar kamu meminta tolong secara gratisan.

2. Berhenti memedulikan orang yang gak peduli padamu

seorang perempuan
ilustrasi seorang perempuan (pexels.com/GlassesShop GS)

Ada perbedaan yang cukup besar antara umurmu 20-an dengan 35+. Di usia dua puluhan, kamu bisa siap mengorbankan segalanya demi seseorang. Di matamu, itu sikap heroik yang menandakan besarnya kepedulian.

Dirimu juga tak mengharapkan apa-apa. Akan tetapi, di umur 35 tahun ke atas, kamu bakal lebih perhitungan. Dirimu tidak mau lagi hubungan apa pun berjalan sepihak saja. Kepedulianmu mesti dihargai. Caranya, dengan orang yang dipedulikan juga bisa gantian memedulikanmu.

3. Bukan waktunya bersikap seakan-akan kamu gak butuh uang

seorang pria
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Sami Abdullah)

Malah di usia ini bisa dibilang segalanya adalah tentang uang. Bukan materialistis. Namun, kamu sudah memikul lebih banyak tanggung jawab. Tanggung jawab pada diri sendiri pun telah penuh. Gak seperti ketika usiamu masih 20-an.

Saat kamu masih berumur seperempat abad, andai pun gagal menghidupi diri, pasti keluarga sontak membantu. Dirimu dipandang masih belajar mandiri. Bukan harus telah mandiri seperti saat usiamu 35 tahun. Kamu bahkan barangkali sudah berkeluarga dan tanggung jawab keuanganmu bertambah.

4. Terlalu lelah untuk segala drama

seorang pria
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Nans K)

Umur kepala tiga, khususnya 35+, merupakan titik produktivitas orang dewasa. Kamu bukan lagi baru belajar mencari uang. Dirimu juga masih cukup jauh dari waktu pensiun. Ini masa keemasan dalam pekerjaan.

Mungkin kariermu memang masih agak jauh dari puncak. Namun, ibarat proses pembangunan rumah, dirimu bukan lagi berkutat pada fondasi, melainkan telah mendirikan dinding. Kamu tidak punya banyak energi untuk hal-hal yang dirasa gak penting. Apalagi, sifatnya hanya drama.

5. Legawa menghadap ketidaksesuaian ekspektasi dengan realitas

seorang pria
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Saat usiamu lebih muda, kamu suka sekali membicarakan hal-hal yang ideal. Segalanya diawali dengan kata seharusnya. Setiap hal yang tak berjalan sesuai keinginanmu dianggap sebagai masalah besar. Pandangan begini gak akan bertahan selamanya.

Setelah umurmu beranjak ke pertengahan kepala tiga, kamu bakal lebih melek tentang hidup. Dirimu tidak bisa menyetir semuanya. Tak sedikit ekspektasimu yang berbenturan dengan realitas. Kamu tahu bakal stres sendiri bila tidak mampu bersikap legawa.

6. Namun, tetap perlu punya mimpi untuk diwujudkan

seorang pria
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Ahmet Hilmi Ermiş)

Tidak tepat apabila sikap legawa menghadapi ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan diartikan sebagai orang berhenti bermimpi. Seperti disebutkan dalam poin 4, usia 35+ merupakan titik produktivitas. Otomatis ada sejumlah mimpi untuk dikejar.

Kalau baru berusia 30-an tahun, dirimu berhenti bermimpi, justru dapat menjadi tanda masa depan suram. Masa depanmu masih sangat panjang. Bedanya dengan ketika umurmu 20-an, mimpi-mimpimu kali ini lebih realistis. Mimpi disesuaikan dengan keadaan sekarang dan sumber daya yang dimiliki.

7. Tidak penting lagi membandingkan diri, hanya maju dan hadapi dunia

seorang pria
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Vijay R)

Kamu bakal lebih cuek ketika usia makin menanjak. Tak seperti saat umurmu 20 tahun. Semua hal seakan-akan perlu dibandingkan dengan orang lain. Ini yang membuat krisis seperempat abad terasa sangat buruk.

Akan tetapi, ketika usiamu sudah 35 tahun ke atas, kamu tidak lagi sibuk menengok ke kanan dan kiri. Dirimu gak lagi menjadikan perbandingan dengan orang lain sebagai sesuatu yang penting. Kamu hanya ingin bergerak maju di jalurmu sendiri tanpa keraguan dan rasa takut.

Usia lebih dari 35 tahun belum tua, melainkan mulai matang secara psikis. Malahan, ada banyak pelajaran hidup pada usia 35+, lho! Seumpama pohon, baik akar, batang, maupun daunnya sudah tumbuh dengan baik. Tinggal menunggu waktu berbunga sampai berbuah banyak. Modal pengalamannya cukup buat menjalani hidup dengan lebih baik lagi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us