Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bukan Uang, Ini Pemicu Stres setelah Lebaran yang Sering Disepelekan

Bukan Uang, Ini Pemicu Stres setelah Lebaran yang Sering Disepelekan
ilustrasi stres (pexels.com/Gustavo Fring)
Intinya Sih
  • Perubahan ritme, seperti tidur dan makan, bikin tubuh serta fokus terganggu.

  • Notifikasi dan ekspektasi bikin pikiran terasa penuh serta tertekan.

  • Suasana sepi setelah Lebaran memicu rasa kosong dan overthinking.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Setelah euforia Lebaran mereda, tidak sedikit orang merasa cepat lelah tanpa sebab yang jelas. Padahal, rutinitas juga bisa dikatakan belum sepenuhnya kembali padat. Kondisi ini sering dianggap sepele, padahal ada banyak hal kecil yang tanpa sadar ikut memicu rasa tidak nyaman tersebut.

Peralihan suasana dari ramai ke sunyi atau dari santai ke tuntutan pekerjaan, bisa memberi efek yang tidak langsung terasa. Biar tidak berlarut, ada beberapa hal yang sering terlewat dan layak diperhatikan. Berikut beberapa pemicu yang jarang disadari.

1. Perubahan jam tidur mengganggu konsentrasi

ilustrasi tidur
ilustrasi tidur (pexels.com/Polina)

Selama Lebaran, jam tidur sering bergeser tanpa terasa, entah karena silaturahmi hingga larut malam atau kebiasaan bangun lebih siang. Ketika aktivitas kembali normal, tubuh belum siap mengikuti ritme baru sehingga muncul rasa lelah sejak pagi. Hal ini membuat fokus mudah buyar meski pekerjaan tidak terlalu berat.

Dampaknya tidak selalu terlihat dalam bentuk kantuk, tetapi juga lewat emosi yang cepat naik dan sulit tenang. Hal kecil, seperti antrean atau pesan yang belum dibalas, bisa terasa lebih mengganggu dari biasanya. Mengatur ulang jam tidur secara bertahap jauh lebih efektif dibanding memaksa langsung kembali disiplin dalam 1 malam.

2. Tumpukan pesan dan notifikasi membebani pikiran

ilustrasi tumpukan notifikasi
ilustrasi tumpukan notifikasi (pexels.com/Andrey Matveev)

Setelah libur panjang, HP biasanya dipenuhi pesan yang belum sempat dibaca, mulai dari pekerjaan hingga urusan pribadi. Banyaknya notifikasi ini sering menimbulkan rasa dikejar-kejar, seolah semuanya harus segera ditanggapi. Padahal, tidak semua pesan bersifat mendesak.

Kondisi ini membuat pikiran terasa penuh, bahkan sebelum hari benar-benar dimulai. Contoh sederhana, saat membuka ponsel pada pagi hari, kamu langsung disambut puluhan chat yang belum terbaca. Ini bisa mengubah suasana hati seketika. Menyortir mana yang perlu dibalas lebih dulu membantu mengurangi rasa sesak yang muncul tanpa alasan jelas.

3. Ekspektasi sekitar terasa mendadak tinggi

ilustrasi ekspektasi sekitar
ilustrasi ekspektasi sekitar (pexels.com/Ron Lach)

Usai liburan, ada anggapan bahwa semua orang sudah siap kembali produktif seperti biasa. Padahal, tidak semua orang memiliki proses yang sama untuk menyesuaikan diri. Tekanan ini sering datang dari hal sederhana, seperti target kerja, obrolan kantor, atau bahkan komentar ringan dari sekitar.

Kalimat seperti ,“Sudah liburan cukup lama kok masih males aja?” bisa terasa biasa. Namun, bagi sebagian orang, hal tersebut justru memicu rasa tertinggal. Tanpa disadari, hal ini membuat seseorang memaksakan diri bekerja lebih keras di awal, lalu cepat kelelahan. Memberi waktu adaptasi bukan berarti malas, melainkan bentuk penyesuaian yang wajar.

4. Perubahan pola makan memengaruhi energi

ilustrasi sarapan
ilustrasi sarapan (pexels.com/Arina Krasnikova)

Selama Lebaran, pola makan cenderung lebih bebas dengan pilihan makanan yang lebih beragam dan berat. Ketika kembali ke kebiasaan lama, tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan kembali asupan yang masuk. Perubahan ini sering memengaruhi energi sepanjang hari.

Akibatnya, tubuh terasa lebih cepat lemas atau justru tidak nyaman meskipun sudah makan. Sebagai contoh, sarapan sederhana setelah beberapa hari terbiasa makan berlemak bisa membuat perut terasa aneh. Menyesuaikan porsi dan jenis makanan secara perlahan membantu menjaga kondisi tetap stabil tanpa rasa kaget berlebihan.

5. Rumah yang kembali sepi membuat pikiran ke mana-mana

ilustrasi sendiri di rumah
ilustrasi sendiri di rumah (pexels.com/cottonbro studio)

Suasana rumah yang sebelumnya ramai mendadak berubah lebih tenang setelah semua aktivitas Lebaran selesai. Perubahan ini sering memunculkan rasa kosong yang sulit dijelaskan. Ketika suasana hening, pikiran cenderung lebih aktif memikirkan banyak hal sekaligus.

Hal ini bisa muncul saat malam hari ketika tidak ada lagi aktivitas bersama keluarga seperti sebelumnya. Tiba-tiba, hal-hal kecil yang sebelumnya tidak terpikir menjadi terasa mengganggu. Mengisi waktu dengan aktivitas ringan, seperti merapikan rumah atau berjalan santai, bisa membantu mengalihkan fokus tanpa perlu memaksakan diri.

Stres setelah Lebaran tidak selalu datang dari hal besar, justru sering muncul dari perubahan kecil yang terjadi bersamaan. Memahami sumbernya membuat cara mengelola stres terasa lebih masuk akal dan tidak berlebihan. Kalau beberapa hal ini mulai terasa, sudahkah memberi waktu untuk menyesuaikan diri tanpa terburu-buru?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us