Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tips Cegah Pamer karena Mampu Berkurban meski Ekonomi Sulit

Tips Cegah Pamer karena Mampu Berkurban meski Ekonomi Sulit
ilustrasi membopong kambing (pexels.com/Mehmet Turgut Kirkgoz)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti pentingnya menjaga keikhlasan saat berkurban di tengah kondisi ekonomi sulit, agar ibadah tidak berubah menjadi ajang pamer kemampuan finansial.
  • Dianjurkan untuk menghindari situasi yang memicu rasa ingin dipuji, seperti menyaksikan penyembelihan langsung atau membicarakan kurban secara terbuka kepada orang lain.
  • Penulis mengingatkan bahwa kemampuan berkurban adalah ujian keimanan dan rezeki yang bisa berubah, sehingga perlu disyukuri dengan rendah hati tanpa menunjukkan kesombongan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Mampu melaksanakan ibadah kurban untuk orang berusia muda sepertimu adalah pencapaian tersendiri. Secara finansial, jelas ini menandakan kamu telah mampu berkurban. Artinya, dirimu memiliki kelebihan rezeki untuk membeli hewan kurban.

Kedua, kamu sudah memahami tanggung jawabmu untuk berbagi dengan sesama dalam bentuk daging kurban. Apalagi dalam situasi ekonomi seperti sekarang. Banyak orang merasa hidup makin sulit.

Apa-apa mahal seiring kenaikan harga bahan bakar. Kamu sebagai salah satu orang yang masih dapat menjalankan ibadah kurban harus ekstra menjaga hati. Jangan sampai kemampuan berkurban justru membuatmu pamer. Tips cegah pamer karena mampu berkurban meski ekonomi sulit berikut ini akan menjagamu dari sifat yang tidak disukai Allah SWT.

1. Gak usah menyaksikan penyembelihan jika memperberat godaan pamer

kambing siap sembelih
ilustrasi kambing siap sembelih (pexels.com/cottonbro studio)

Tentu sebenarnya orang yang berkurban disunahkan untuk melihat hewan kurbannya disembelih. Hanya saja, jika kamu khawatir itu membuka peluang untukmu, ingin pamer mending gak usah. Nama pekurban biasanya akan diumumkan keras-keras.

Apabila dirimu ada di sana menyaksikan penyembelihan, pasti semua mata tertuju padamu. Sedikit banyak bisa muncul perasaan hebat dan ingin dikagumi oleh orang lain. Apalagi seandainya ada tetangga yang pernah mengejekmu secara materi.

Kamu seperti tambah bangga bisa menunjukkan kemakmuran hidupmu melalui penyembelihan hewan kurban tersebut. Lebih baik dirimu di rumah saja dan menunggu daging diantarkan ke rumah. Atau, biar saudara yang menyaksikan penyembelihan.

2. Kurban di daerah yang tak seorang pun mengenalmu

domba dimandikan
ilustrasi domba dimandikan (pexels.com/Galeri Muu)

Sekarang masyarakat yang ingin berkurban punya banyak pilihan lokasi. Kamu bisa titip hewan kurban untuk disembelih di mana pun. Apalagi jika di daerahmu sudah banyak sekali orang yang berkurban.

Daging yang dibagikan sampai melimpah dan memenuhi kulkas hingga berbulan-bulan kemudian. Ada baiknya kurbanmu dialihkan ke wilayah lain yang minim pekurban. Seperti daerah-daerah pelosok.

Di satu sisi, hewan kurbanmu membantu warga di sana supaya dapat merasakan daging juga. Di sisi lain, tidak seorang pun di sana mengenalmu. Kamu lebih terjaga dari keinginan untuk pamer. Hanya dirimu serta panitia atau sistem di yayasan penyalur hewan kurban yang mengetahuinya.

3. Kalau dipuji hebat, cukup katakan, "Alhamdulillah, pas ada saja."

peternakan kambing
ilustrasi peternakan kambing (pexels.com/donny yularso)

Jika kamu berkurban di lingkungan tempat tinggal atau kantor, boleh jadi bakal kebanjiran pujian. Apalagi dirimu masih muda, bukan pekerja dengan gaji sangat tinggi, tapi sudah bisa berkurban. Hewan pilihanmu pun punya kualitas bagus.

Ukurannya besar. Harganya lebih mahal daripada hewan ternak yang lebih kecil. Pujian hebat barangkali terlontar dari banyak orang. Ini menjadi godaan besar bagi keinginan memamerkan kemampuanmu dalam berkurban.

Respons setiap pujian yang tertuju padamu dengan rendah hati. Gak usah bilang kamu memang mencari hewan kurban terbaik meski harganya lebih mahal. Pujian-pujian itu cukup direspons dengan, "Alhamdulilah, pas ada saja."

4. Gak usah berkoar-koar pada siapa pun

memotong daging
ilustrasi memotong daging (pexels.com/征宇 郑)

Tahan diri untuk tidak menyebarluaskan kurbanmu. Kamu membeli hewan ternak pakai uang pribadi. Pahala berkurban juga buatmu. Maka tak ada urgensinya dirimu menceritakan soal kurban tersebut kepada orang lain.

Bahkan keluarga selain istri dan anak juga sebaiknya gak usah sengaja dikasih tahu. Apalagi sekadar teman, tetangga, atau warganet. Jika kamu ditanya seseorang tahun ini akan berkurban atau tidak, jawab saja insya Allah.

Sementara setelah Iduladha berlalu dan pertanyaan serupa muncul, jawablah alhamdulillah. Gak usah memvariasikan jawaban yang rentan membuatmu jatuh ke dalam sikap pamer. Seperti, "Kurban dong. Masa mobilku saja ratusan juta, tapi gak kurban?" Kamu malah menjadi pamer dua hal sekaligus, yaitu kurbanmu dan kendaraanmu.

5. Ingat, berkurban menguji keikhlasan dan pamer merusaknya

pemotongan daging
ilustrasi pemotongan daging (pexels.com/Nico Andrei Sta. Ana)

Saat kamu hendak melaksanakan ibadah kurban, dirimu sedang diuji dalam hal keimanan dan keikhlasan. Dirimu mesti percaya bahwa kamu gak akan jatuh miskin karena menjalankan ibadah kurban setelah cukup mampu. Kamu juga yakin Allah SWT akan meridai kurbanmu dan memberikan balasan di dunia maupun akhirat.

Begitu pula keikhlasanmu dites. Kamu mengeluarkan uang jutaan rupiah semata-mata untuk menunaikan perintah Allah SWT. Bukan mengejar kekaguman dan pujian dari orang lain. Jangan sampai keikhlasan ini rusak lantaran dirimu haus pujian dari sesama manusia.

6. Juga belum tentu tahun depan dirimu dapat kembali berkurban

memotong daging
ilustrasi memotong daging (pexels.com/Darksight Image)

Bahkan bila beberapa tahun ini kamu rutin berkurban, gak ada jaminan tahun depan kamu kembali dapat melakukannya. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dalam setahun mendatang. Keadaan ekonomimu bisa saja mengalami penurunan yang cukup drastis.

Tentu kamu bukannya harus ketar-ketir. Namun, jadikan ingatan akan hal tersebut sebagai dorongan untuk tetap rendah hati. Jangan sampai sikap pamer berujung pada malu berat saat di tahun-tahun mendatang dirimu sedang tidak bisa membeli hewan kurban.

Alih-alih pamer ikut berkurban, kamu justru harus banyak berdoa. Pertama, supaya kurbanmu diterima di sisi Allah SWT. Kedua, agar hidupmu selalu diridai-Nya. Ketiga, kamu dipertemukan kembali dengan Iduladha berikutnya dan bisa berkurban lagi.

Mampu berkurban harus sangat disyukuri. Kamu tentu telah berusaha keras supaya dapat membeli kambing atau sapi. Akan tetapi, berhati-hatilah terhadap sikap pamer yang kadang muncul tanpa disadari olehmu. Maka dari itu, tips cegah pamer karena mampu berkurban meski ekonomi sulit patut untuk diterapkan, tidak hanya dibaca saja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo

Related Articles

See More