Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Red Flags DM yang Sering Dianggap Cuma Bercanda
ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Panagiotis Falcos)
  • Pesan seksual tak diinginkan, meski disebut bercanda, dapat termasuk pelecehan digital dan tidak menghapus ketidaknyamanan penerima.
  • Pertanyaan pribadi yang terus mendesak, ejekan merendahkan, serta DM berulang setelah diabaikan atau diblokir merupakan pola yang perlu diwaspadai.
  • Ancaman atau paksaan yang dibungkus humor perlu dianggap serius; simpan bukti percakapan, lalu hentikan kontak, blokir, atau laporkan bila diperlukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

DM atau direct message sering dianggap sebagai ruang yang lebih santai dibandingkan komunikasi tatap muka. Karena sifatnya personal, orang kadang merasa lebih bebas mengirim candaan, komentar tentang penampilan, pertanyaan yang terlalu pribadi, bahkan pesan bernada seksual.

Masalahnya, tidak semua hal yang dikemas sebagai "cuma bercanda" memang lucu atau tidak berbahaya bagi penerimanya. Batas antara bercanda dan melewati batas sebenarnya bisa dilihat dari konteks, hubungan, serta respons penerima pesan.

1. "Cuma bercanda" tapi isinya pesan seksual

ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Alex Green)

Salah satu red flag paling jelas adalah ketika seseorang yang belum terlalu dekat, tiba-tiba mengirim komentar seksual tentang tubuh, pakaian, atau penampilanmu. Kadang pesan tersebut ditutup dengan kalimat seperti "Bercanda, jangan baper" atau emoji tertawa.

Kalimat semacam itu tidak otomatis menghapus rasa tidak nyaman yang mungkin muncul setelah menerima pesan tersebut. UN Women menjelaskan bahwa pelecehan seksual secara digital dapat berupa pesan seksual yang tidak diinginkan.

"Revolusi digital tidak hanya memperparah bentuk-bentuk kekerasan berbasis gender yang sudah ada (seperti pelecehan seksual, penguntitan, ujaran kebencian, misinformasi, pencemaran nama baik, dan peniruan identitas), tetapi juga memunculkan bentuk-bentuk kekerasan baru (seperti peretasan, astroturfing, kekerasan berbasis video dan gambar termasuk deepfake, doxing, perundungan siber, dan online grooming, di antara bentuk lainnya," jelasnya dikutip dari UN Women Knowledge Hub.

Organisasi tersebut juga menegaskan bahwa unwanted messages termasuk salah satu bentuk yang paling sering digunakan dalam pelecehan berbasis teknologi. Dengan kata lain, label "joke" tidak otomatis membuat pesan seksual menjadi pantas.

2. Sering menanyakan hal pribadi dengan alasan "penasaran"

ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/freepik)

Red flag berikutnya muncul ketika seseorang terus menggali informasi pribadi melalui DM. Awalnya mungkin terlihat sederhana, seperti bertanya kamu tinggal di mana, pulang kerja jam berapa, tinggal dengan siapa, atau sedang bersama siapa.

Namun, jika pertanyaan tersebut terus berulang dan semakin spesifik, pola itu perlu diperhatikan. Jadi, kamu tidak wajib menjawab semua pertanyaan hanya karena seseorang bertanya dengan nada ramah.

Respons seperti "Aku kurang nyaman membahas itu" sudah cukup menjadi batas. Kalau setelah itu orang tersebut tetap mendesak dengan kalimat seperti "Ih, ditanya doang kok," atau "Aku kan cuma penasaran," justru desakan tersebut bisa menjadi red flag tambahan.

3. Menghina, merendahkan, lalu bilang "kan cuma bercanda"

ilustrasi seseorang sedang bermain media sosial (pexels.com/ Keira Burton)

Ada juga DM yang awalnya berupa ejekan. Seseorang mungkin mengomentari bentuk tubuh, pekerjaan, pendidikan, wajah, hubungan asmara, atau kehidupan pribadi dengan cara yang merendahkan. Ketika kamu menunjukkan ketidaknyamanan, dia kemudian berlindung di balik kalimat, "Santai dong, cuma bercanda."

“Kita dibanjiri oleh media sosial sehingga sulit untuk memisahkan wacana yang tidak santun dari algoritma yang memperkuatnya,” ujar psikolog Barbara Tint, PhD, dari Portland State University dan University of Oregon Law School yang membahas perilaku tidak beradab di media sosial kepada American Psychological Association (APA).

Kalau sebuah "candaan" selalu membuat satu orang menjadi sasaran dan membuatnya merasa dipermalukan, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk menganggapnya lucu. Humor yang sehat masih memberikan ruang bagi kedua pihak untuk merasa nyaman.

4. Terus mengirim pesan setelah kamu tidak merespons

ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/mikoto.raw Photographer)

Tidak membalas DM juga merupakan bentuk komunikasi. Memang, tidak semua pesan yang tidak dibalas berarti seseorang ingin hubungan tersebut berhenti. Namun, ketika seseorang berkali-kali mengirim pesan, membuat akun baru setelah diblokir, atau terus mengejar respons meskipun kamu jelas tidak memberikan respons, situasinya mulai berbeda.

"Pelecehan daring dan penguntitan siber: pesan berulang (unwanted messages) yang tidak diinginkan, cyber-flashing, pengambilan foto diam-diam yang tidak pantas (creepshots), serta pengawasan seperti melacak lokasi atau memantau aktivitas kamu," demikian laporan UN Women.

Mereka mencantumkan pesan atau DM yang terus datang, bahkan setelah seseorang melakukan blok sebagai salah satu tanda yang patut diwaspadai. Jadi, "dia cuma berusaha mendapatkan perhatian" bukan selalu penjelasan yang cukup untuk perilaku tersebut.

5. Mengancam atau memaksa, tapi dibungkus sebagai candaan

ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Panagiotis Falcos)

Red flag yang paling serius adalah ketika seseorang mulai menggunakan ancaman atau tekanan. Contohnya seperti, "Kalau kamu blok aku, fotomu aku sebar," "Jangan dekat-dekat sama orang itu kalau gak mau aku kasih tahu sesuatu," atau "Kirim foto dulu, kalau gak aku bakal upload chat kita." Walaupun diakhiri emoji tertawa, isi pesannya tetap perlu dianggap serius.

"Ancaman untuk menyebarkan foto pribadi jika kamu tidak menuruti tuntutan. Perilaku mengontrol terkait percakapan dan kontak yang kamu miliki, misalnya di ponselmu. Komentar atau pesan pribadi (DM) yang melecehkan dan kasar, yang terus berdatangan bahkan setelah kamu memblokir orang tersebut," dikutip dari UN Women yang menjelaskan beberapa tanda bahaya dalam digital abuse.

Jika menerima pesan seperti ini, jangan merasa harus menghadapi pelaku sendirian. Simpan bukti berupa screenshot, username, waktu, dan konteks percakapan sebelum memblokir atau melaporkannya jika diperlukan. Kalau seseorang melewati batas, kamu boleh mengatakan tidak, menghentikan percakapan, memblokir, atau mencari bantuan.

 

Tidak semua candaan di DM merupakan masalah, tetapi candaan juga bukan alasan untuk mengabaikan batas orang lain. Pesan seksual yang tidak diinginkan, pertanyaan pribadi yang berlebihan, penghinaan, pesan berulang setelah diabaikan, hingga ancaman yang dibungkus humor adalah beberapa red flag yang sebaiknya tidak dianggap sepele.

Curated For You

Editorial Team

Related Article