5 Renungan sebelum Halalbihalal, Asli Minta Maaf atau Cuma Formalitas?

- Tradisi halalbihalal sering kehilangan makna karena berubah jadi formalitas, padahal seharusnya jadi momen tulus untuk saling memaafkan dan mempererat hubungan sosial.
- Penulis menekankan pentingnya memaafkan dengan hati, bukan sekadar ucapan, serta tidak mengulangi kesalahan yang sama hanya karena ada kesempatan meminta maaf tiap tahun.
- Renungan juga diarahkan pada kejujuran diri: berani memaafkan diri sendiri, sadar akan kesalahan pribadi, dan memberi perhatian lebih pada orang-orang terdekat dalam proses saling memaafkan.
Lebaran dan halalbihalal seperti sudah satu paket dalam tradisi di Indonesia. Jika Idulfitri adalah hari raya keagamaan bagi umat Islam, halalbihalal lebih ke kegiatan keluarga dan kemasyarakatan. Tidak afdal rasanya merayakan Lebaran tanpa saling memaafkan.
Sampai acara khusus dirasa perlu diselenggarakan untuk memastikan orang-orang bertemu secara langsung. Gak cukup cuma bermaaf-maafan melalui chat, misalnya. Akan tetapi, seringnya halalbihalal dilaksanakan dapat mengurangi kedalaman makna.
Lama-lama sifatnya hanya seremonial baik di lingkungan keluarga, tempat tinggal, maupun kantor. Temukan kembali arti penting acara halalbihalal dengan kamu merenungkan lima hal berikut. Bersalaman bukan sekadar saling menempelkan telapak tangan.
1. Memaafkan orang lain dari hati atau hanya di bibir saja?

Saat orang yang punya kesalahan cukup besar hadir di acara halalbihalal, bagaimana perasaanmu? Kalian bahkan telah bersalaman. Dia juga mengucapkan permintaan maaf terlebih dahulu. Mungkin jawabanmu ketika itu sama-sama, kamu juga minta maaf.
Dirimu pun merasa tak lepas dari kesalahan 100 persen. Namun, apakah jawaban ini tulus keluar dari hati atau hanya pemanis di bibir? Aslinya kamu masih kesal sekali bahkan dalam hati berjanji tidak bakal memaafkannya.
Percuma ada halalbihalal jika ternyata pemberian maaf cuma bersifat basa-basi. Belajarlah untuk memaafkan orang lain dengan sungguh-sungguh. Agar bukan cuma dia yang merasa lega, melainkan juga dirimu. Orang yang pernah berbuat salah bisa gak peka serta senang-senang saja mengira kamu telah memaafkannya. Namun, hatimu malah menjadi tak pernah tenang dalam kepura-puraan.
2. Halalbihalal jadi agenda tahunan, jangan gampang mengulang kesalahan

Halalbihalal serta segala bentuk ucapan mohon maaf lahir dan batin sudah menjadi keniscayaan dalam tradisi Lebaran masyarakat. Sampai ada lelucon yang sekaligus tanpa sadar benar-benar diterapkan dalam hidup. Yaitu, orang malah menjadi longgar dalam menjaga perilaku serta ucapannya.
Pikir mereka, gak apa-apa berbuat salah dan melukai perasaan orang. Toh, nantinya bakal ada lagi acara halalbihalal. Mereka tinggal kembali meminta maaf. Andai seseorang tak mau memaafkan, dia yang berdosa.
Pandangan seperti ini kudu sepenuhnya dihilangkan. Percuma kamu meminta maaf sekarang, tetapi besok-besok enteng sekali melakukan kesalahan yang sama. Siapa pun yang terus dirugikan olehmu bakal muak dan tambah susah memaafkan.
3. Diri sendiri sudah dimaafkan atau belum?

Saat acara halalbihalal mungkin kamu sampai gak bisa menghitung jumlah orang yang berjabat tangan denganmu. Sapa dan tawa di antara kalian renyah sekali. Semuanya saling memaafkan atas berbagai kesalahan yang pernah diperbuat.
Baik secara sengaja maupun tidak disengaja. Namun, bagaimana dengan diri sendiri? Apakah kamu juga telah memaafkan diri sendiri atas berbagai kesalahan yang pernah dilakukan?
Seperti kamu dulu salah mengambil keputusan dan akibat negatifnya masih terasa sampai sekarang. Memaafkan orang lain adalah sikap yang mulia. Akan tetapi, memaafkan diri tidak boleh dilupakan. Tanpa kamu memaafkan diri, hidup pasti jauh dari damai. Diri yang seharusnya disayangi justru dibenci.
4. Merasa gak punya salah atau tidak sadar diri?

Momen Lebaran yang dilanjutkan dengan halalbihalal sangat unik. Ada beberapa tipe orang di situasi begini. Ada orang yang minta maaf pada semua orang termasuk orang-orang yang hanya mengenal dan dikenalnya sepintas lalu.
Ada juga orang yang sibuk japri ucapan selamat Idulfitri serta mohon maaf lahir dan batin dengan modal copy paste ucapan Lebaran orang lain. Ada pula orang yang gak japri siapa pun dan merasa cukup bikin status permohonan maaf. Alasannya, jauh lebih praktis.
Satu lagi, orang yang menerima permintaan maaf dari berbagai kenalan, tetapi tak sekali pun gantian minta maaf. Bila kamu termasuk tipe ini, tanyakan baik-baik pada diri sendiri. Apakah dirimu sama sekali gak punya salah ke orang lain atau terlalu tak sadar diri dan selalu merasa paling benar?
5. Kesalahan paling sering dilakukan pada orang terdekat

Coba pikirkan kembali. Barangkali selama ini setiap Idulfitri tiba kamu sibuk bukan main kasih ucapan selamat dan minta maaf ke teman. Pokoknya semua kenalan gak ada yang terlewatkan. Bahkan di grup-grup alumni sekalipun kalian terakhir berinteraksi secara langsung bertahun-tahun lalu.
Sudahkah dirimu meminta maaf dengan sungguh-sungguh pada orang-orang terdekat? Seperti orangtua, pasangan, anak, kakak, adik, dan ART yang bekerja di rumahmu? Kalian berinteraksi setiap hari.
Sangat mungkin dirimu banyak melakukan kesalahan pada mereka. Contohnya, anak bungsu yang salah, tapi anak sulung yang dimarahi. Pasangan yang tak terhitung lagi menjadi pelampiasan emosimu tiap ada masalah dalam pekerjaan. Juga janji-janji manis yang belum diwujudkan olehmu. Plus ART yang kerap kena omelan apa pun yang dilakukannya.
Bila halalbihalal diikuti dengan sepenuh hati tentu akan baik sekali. Silaturahmi senantiasa terjaga dan gak ada persoalan yang berkepanjangan sampai menjadi dendam. Namun, kalau kegiatan ini sekadar basa-basi pasti rasanya membosankan dan bikin capek doang.