Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Imun Tubuh Bisa Drop saat Haji?

Kenapa Imun Tubuh Bisa Drop saat Haji?
Proses pemberangkatan jemaah haji NTB Embarkasi Lombok. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Ibadah haji menantang sistem imun karena kombinasi aktivitas fisik berat, cuaca ekstrem, kurang tidur, dan paparan mikroorganisme dari jutaan orang di berbagai negara.
  • Kelelahan, dehidrasi, serta stres fisik dan emosional membuat tubuh sulit pulih sehingga daya tahan menurun dan risiko infeksi meningkat selama menjalani ibadah haji.
  • Menjaga imun butuh tidur cukup, hidrasi baik, pola makan seimbang, vaksinasi lengkap, kebersihan diri, serta mengenali batas tubuh agar tetap sehat sepanjang ibadah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Banyak jemaah haji berangkat dalam kondisi sehat, tetapi seiring waktu menjalani rangkaian ibadah di Arab Saudi, mulai muncul batuk, flu, kelelahan berat, atau demam. Ini biasanya bukan karena masuk angin, bukan pula karena efek cuaca.

Dari sudut pandang medis, haji menciptakan kondisi yang sangat menantang sistem imun. Jutaan orang berkumpul dalam area terbatas, jalan kaki jarak jauh dan berpindah-pindah tempat, cuaca ekstrem, kurang tidur, dan terpapar mikroorganisme dari berbagai belahan dunia dalam waktu bersamaan. Kombinasi itu semua bisa bikin daya tahan tubuh lebih mudah drop.

Table of Content

1. Aktivitas fisik berlebihan bisa menekan sistem imun

1. Aktivitas fisik berlebihan bisa menekan sistem imun

Rangkaian ibadah haji melibatkan jemaah berjalan jauh, berdiri lama, berpindah lokasi dalam kepadatan tinggi, dan beraktivitas hampir tanpa jeda selama berhari-hari.

Aktivitas fisik berat berkepanjangan tanpa pemulihan cukup dapat menyebabkan penurunan sementara fungsi sistem imun. Kondisi ini sering disebut sebagai open window, yaitu periode ketika tubuh lebih rentan terhadap infeksi setelah kelelahan ekstrem.

Tubuh sebenarnya mampu beradaptasi dengan aktivitas fisik. Namun, pada haji, tantangannya tidak hanya satu faktor. Kelelahan fisik sering terjadi bersamaan dengan dehidrasi, kurang tidur, stres panas, dan asupan nutrisi yang tidak optimal. Akibatnya, pemulihan tubuh menjadi lebih sulit.

2. Kurang tidur mengganggu pertahanan tubuh

Banyak jemaah haji mengorbankan tidur. Faktor-faktor seperti jadwal ibadah yang padat, perpindahan lokasi, kondisi penginapan, serta lingkungan yang padat membuat kualitas tidur banyak jemaah menurun drastis.

Padahal, tidur berperan besar dalam regulasi sistem imun. Kurang tidur dapat menurunkan aktivitas sel imun dan meningkatkan peradangan dalam tubuh. Orang yang terus-terusan tidur kurang dari 6 jam secara konsisten juga diketahui lebih rentan terkena infeksi saluran napas.

Masalahnya, efek kurang tidur tidak selalu langsung terasa. Awalnya mungkin jemaah masih merasa kuat, tetapi daya tahan tubuh pelan-pelan melemah. Dalam situasi seperti haji, kondisi ini bisa menjadi pintu masuk bagi infeksi yang sebenarnya ringan, tetapi berkembang lebih cepat karena tubuh tidak memiliki waktu pemulihan cukup.

3. Cuaca panas dan dehidrasi membebani tubuh

Rombongan jemaah haji berpakaian ihram berjalan menuju Masjidil Haram di Makkah pada malam hari dengan suasana ramai dan penuh semangat.
Jemaah haji datang ke Masjidil Haram, Makkah (IDN Times/Sunariyah)

Bukan rahasia Arab Saudi memiliki suhu ekstrem, terutama saat musim panas. Paparan panas berkepanjangan membuat tubuh bekerja ekstra untuk menjaga suhu inti tetap stabil.

Dehidrasi dan heat stress dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk respons imun dan kemampuan tubuh melawan infeksi. Saat tubuh kekurangan cairan, sirkulasi darah dan distribusi nutrisi ke sel imun juga bisa terganggu.

Dehidrasi ringan sering tidak disadari oleh jemaah karena lebih fokus pada ibadah. Gejalanya bisa tampak sepele seperti lemas, pusing, bibir kering, atau sakit kepala. Namun, ketika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memperburuk kelelahan dan menurunkan daya tahan tubuh.

4. Kerumunan massa dalam jumlah besar mempermudah penyebaran infeksi

Saat haji, jutaan orang dari berbagai negara berkumpul dalam satu area dengan interaksi yang sangat dekat. Kondisi ini menciptakan lingkungan ideal bagi penyebaran penyakit menular, terutama infeksi saluran napas. Batuk, pilek, dan influenza termasuk masalah kesehatan paling sering dialami jemaah haji.

Selain kerumunan massa, setiap jemaah juga membawa mikroorganisme berbeda dari negara asal masing-masing. Sistem imun tubuh akhirnya harus menghadapi paparan patogen dalam jumlah dan variasi yang jauh lebih besar dibanding kehidupan sehari-hari.

5. Usia dan penyakit kronis meningkatkan risiko

Sebagian besar jemaah haji berasal dari kelompok usia dewasa hingga lansia. Banyak juga yang hidup dengan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, penyakit paru, atau gangguan jantung.

Penuaan secara alami menyebabkan sistem imun mengalami penurunan fungsi yang dikenal sebagai immunosenescence. Ini membuat tubuh lebih lambat merespons infeksi dan lebih sulit pulih setelah sakit.

Ketika faktor usia bertemu dengan kelelahan fisik, kurang tidur, dan kerumunan massa, risiko gangguan kesehatan menjadi lebih tinggi. Karena itu, lansia dan individu dengan komorbid sering dianjurkan mempersiapkan kondisi fisik lebih matang sebelum berangkat haji.

5. Pengaruh dari stres fisik dan emosional

Di luar rangkaian ibadah haji, jemaah harus menghadapi antrean panjang, khawatir tersesat atau ditinggal rombongan, adaptasi lingkungan baru, hingga tekanan untuk menjalankan ibadah dengan sempurna dapat memicu stres psikologis.

Tubuh merespons stres melalui hormon seperti kortisol. Dalam kadar tinggi dan berkepanjangan, hormon ini dapat menekan fungsi sistem imun. Akibatnya, tubuh jadi lebih mudah terserang infeksi atau butuh waktu lebih lama untuk pulih. Ini menjelaskan kenapa beberapa jemaah merasa drop meski secara fisik tidak terlalu aktif. Beban mental dan emosional ternyata juga berkontribusi terhadap imun tubuh.

6. Cara menjaga imun selama beribadah haji

Jemaah haji berpakaian ihram berjalan melakukan sa'i antara Bukit Safa dan Marwah di dalam area Masjidil Haram, Makkah.
Jemaah haji melakukan sa'i dari Bukit Safa ke Marwah di Makkah (IDN Times/Sunariyah)

Menjaga imun tubuh selama haji pendekatannya melibatkan tidur cukup, menjaga hidrasi tubuh, pola makan, hingga pengaturan energi tubuh.

Selain itu, penting juga untuk mendapatkan vaksinasi wajib dan yang dibutuhkan sebelum berangkat, menjaga kebersihan tangan, pakai masker saat diperlukan, dan segera beristirahat ketika tubuh mulai terasa terlalu lelah.

Selain itu, jemaah harus mengenali batas tubuhnya sendiri. Tidak semua aktivitas harus dipaksakan. Dalam kondisi tertentu, istirahat justru menjadi bagian penting dari menjaga kesehatan.

Tubuh mampu beradaptasi, tetapi ini tetap butuh waktu dan energi untuk mempertahankan keseimbangannya. Penurunan imun selama haji adalah respons alami terhadap kombinasi tekanan fisik, lingkungan, dan emosional yang besar dalam waktu singkat. Memahami faktor-faktor penyebab imun drop akan membantu jemaah lebih realistis dalam menjaga kesehatan selama berhaji.

Referensi

“Position Statement. Part One: Immune Function and Exercise,” PubMed, 2011, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21446352/.

National Institutes of Health. “Sleep Deprivation and Immune Function.” Diakses Mei 2026.

World Health Organization. “Health Conditions for Travellers to Saudi Arabia for Hajj and Umrah.” Diakses Mei 2026.

Qanta A Ahmed, Yaseen M Arabi, and Ziad A Memish, “Health Risks at the Hajj,” The Lancet 367, no. 9515 (March 1, 2006): 1008–15, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(06)68429-8.

Janko Nikolich-Žugich, “The Twilight of Immunity: Emerging Concepts in Aging of the Immune System,” Nature Immunology 19, no. 1 (December 5, 2017): 10–19, https://doi.org/10.1038/s41590-017-0006-x.

Suzanne C. Segerstrom and Gregory E. Miller, “Psychological Stress and the Human Immune System: A Meta-Analytic Study of 30 Years of Inquiry.,” Psychological Bulletin 130, no. 4 (January 1, 2004): 601–30, https://doi.org/10.1037/0033-2909.130.4.601.

Centers for Disease Control and Prevention. “Hajj and Umrah Travel.” Diakses Mei 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More