Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Self-Care atau Toxic Positivity? Kenali 4 Bedanya agar Tak Keliru

4 min read
Self-Care atau Toxic Positivity? Kenali 4 Bedanya agar Tak Keliru
Ilustrasi happy saat bekerja (magnific.com/benzoix)
  • Self-care memberi ruang untuk menerima emosi negatif dan realitas, lalu mengelolanya secara sehat; toxic positivity justru menekan emosi dengan optimisme yang tidak realistis.
  • Self-care mengizinkan seseorang tidak sempurna dan menjalani hari buruk sebagai hal wajar, sedangkan toxic positivity menuntut terlihat kuat, bahagia, dan baik-baik saja terus-menerus.
  • Self-care berfokus pada pemulihan, memproses masalah, serta mengambil jeda saat lelah; toxic positivity menjadi pelarian yang memendam masalah dan memaksa produktivitas hingga berisiko burnout.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Di zaman sekarang, kesadaran akan kesehatan mental terbilang tinggi. Banyak pengguna media sosial menggalakkan soal self-care, seperti mengunggah aktivitasnya saat merawat diri dengan takarir yang seolah mampu menyebarkan energi positif, hingga mengunggah kutipan inspiratif yang mendorong audiens untuk senantiasa optimis.

Namun, di balik narasi self-care dan dorongan untuk selalu positive thinking yang bertebaran di media sosial, ada batas tipis di antara keduanya yang kerap kita lewati. Nah, saat ajakan untuk terus bahagia beralih menjadi tuntutan untuk menekan emosi negatif, self-care justru berubah menjadi toxic positivity. Biar kamu semakin hati-hati, berikut perbedaan antara self-care yang tulus dan nyata dengan toxic positivity!

  1. 1. Menerima emosi tidak sama dengan menolak realitas

    ilustrasi orang merentangkan tangan dan tersenyum bahagia
    ilustrasi orang merentangkan tangan dan tersenyum bahagia (pexels.com/Khoa Le)

    Self-care yang sebenarnya itu memberi ruang untuk kamu merangkul emosimu, gak terbatas pada emosi positif saja, tapi juga emosi negatif seperti sedih, marah, kecewa, maupun lelah. Berbeda dengan toxic positivity yang menuntut kamu untuk memedam emosi-emosi negatif itu. Ketika self-care mencoba menerima realitas, toxic positivity justru menolaknya. Kenapa dikatakan menolak? Sebab, toxic positivity memaksakan optimisme yang gak realistis dan menganggap emosi negatif sebagai bentuk dari kegagalan.

    Bayangkan, kamu sedang lelah dan bad mood, tapi dirimu sendiri memaksamu untuk bahagia agar energi burukmu gak menular ke sekitar hingga merusak suasana. Nah, hal seperti itulah yang justru membuat emosi negatifmu semakin menumpuk dan menumpuk. Self-care yang benar adalah membiarkan emosi negatif itu ada dan menyadari bahwa tugasmu bukan untuk menyenangkan semua orang. Namun, ingat, hal itu bukan berarti kamu bisa berlaku seenaknya ya saat bad mood. Kamu tetap perlu mengelola dan menyalurkan emosi itu dengan cara yang sehat.

  2. 2. Self-care menerima ketidaksempurnaan, toxic positivity menuntut sempurna

    ilustrasi orang menatap tajam
    ilustrasi orang menatap tajam (pexels.com/SHVETS production)

    Memang baik kok menjadi bahagia dan ceria, tapi memaksakan diri untuk terlihat kuat sepanjang waktu akan melelahkan mentalmu. Self-care yang benar gak menuntut kamu untuk menjadi sempurna, melainkan mengizinkanmu menerima bahwa gak apa-apa untuk gak baik-baik saja.

    Kalau kamu merasa harimu buruk karena masalah yang bagai datang bertubi-tubi, ya terima saja hal itu sebagai bagian dari perjalanan hidupmu, bukan malah menutupinya dengan slogan hidup harus terus bahagia. Ingat bahwa hari buruk itu wajar dan menjadi tidak sempurna adalah hal yang sangat manusiawi.

  3. 3. Self-care berfokus pada pemulihan, toxic positivity sekadar pelarian

    ilustrasi perempuan berlari
    ilustrasi perempuan berlari (pexels.com/yating yang)

    Self-care melatih tentang resiliensi. Resiliensi atau ketahanan mental merupakan kemampuan seseorang beradaptasi dengan baik dalam kesulitan, kemalangan, kegagalan, maupun tantangan hidup. Saat kamu mempraktikan self-care yang nyata, kamu gak sedang lari dari masalah, melainkan membuka ruang pada dirimu sendiri untuk memproses rasa sakit itu, memahaminya, hingga berdamai dengannya.

    Sebaliknya, toxic positivity adalah pelarian. Ketika kamu mengucapkan toxic positivity pada diri sendiri, kamu mungkin akan merasa lega dan tenang. Namun, hal itu hanya akan berlangsung sesaat. Sebab, tanpa kamu sadari, perasaan lega dan tenang itu hanyalah ilusi dari hasil kamu memendam emosi dan masalahmu.

  4. 4. Self-care memberikan jeda, toxic positivity memaksamu terus berlari

    ilustrasi orang yang tenang
    ilustrasi orang yang tenang (pexels.com/Spencer Selover)

    “Jangan malas-malasan, stop istirahatnya, harus produktif!” Apa yang kamu rasakan ketika mendengar kalimat itu? Sepintas, kamu mungkin akan membenarkannya karena memang produktif itu penting. Kalimat itu seakan menegaskan bahwa waktu itu amat berharga dan manusia harus bisa memanfaatkannya sebaik mungkin, atau mengingatkanmu pada nasihat untuk pantang menyerah.

    Namun, kalau kalimat itu diucapkan untuk semua kondisi, termasuk ketika tubuh dan pikiranmu sedang ada di titik lelah, bukannya tergerak, kamu justru akan merasa makin burnout dan merasa bersalah. Self-care yang nyata itu paham bahwa manusia punya batasnya. Merawat diri berarti membiarkan diri mengambil jeda, menepi sejenak dari hiruk pikuk yang ada, atau melambat.

    Alih-alih mengatakan kalimat yang mengandung toxic positivity seperti itu, akan lebih tenang mengatakan pada diri sendiri kalimat seperti: “produktif memang penting, tapi istirahat jauh lebih penting untuk tetap bisa berprogres dan berproses.”

    Intinya, self-care itu bukan soal terlihat sempurna atau selalu bahagia di media sosial, melainkan tentang keberanian jujur pada diri sendiri dan menjadi tidak sempurna. So, jangan campur adukkan self-care dengan toxic positivity, ya. Yuk, mulai benar-benar self-care! Pahami tubuh dan pikiranmu, tanyakan apa yang mereka butuhkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More