Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Self Care untuk Mengatasi Panic Attack karena Berita Negatif
ilustrasi perempuan panik (magnific.com/lookstudio)
  • Notifikasi berita negatif dapat memicu tubuh masuk mode waspada, seperti dada sesak, napas berubah, dan tangan dingin, meski seseorang sedang berada di tempat aman.
  • Saat panik, hentikan sementara paparan layar, lakukan grounding dengan benda sekitar, dan atur napas nyaman dengan hembusan lebih panjang untuk menurunkan intensitas ketegangan.
  • Batasi waktu membaca berita dari sumber jelas, lanjutkan aktivitas netral setelah panik mereda, serta pertimbangkan bantuan profesional bila serangan berulang atau mengganggu keseharian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Notifikasi berita darurat bisa membuat tubuh ikut bereaksi sebelum pikiran sempat mencerna. Dalam hitungan detik, dada terasa sesak, napas berubah, dan tangan mulai dingin. Situasi seperti ini membuat proses mengatasi panic attack terasa lebih sulit, apalagi ketika berita terus muncul di layar.

Reaksi tersebut gak selalu berarti kamu lemah menghadapi informasi buruk. Tubuh bisa masuk mode waspada ketika otak menangkap sesuatu sebagai ancaman, meski kamu sedang aman di rumah. Karena itu, kamu perlu cara sederhana untuk menurunkan intensitas panik tanpa terpaku pada layar. Berikut ini beragam self care untuk mengatasi panic attack karena berita negatif.

1. Jauhkan ponsel selama beberapa menit

ilustrasi menyimpan handphone di saku (magnific.com/nensuria)

Saat panik muncul, jari-jari sering tetap menggulir layar demi mencari informasi terbaru. Padahal, setiap unggahan baru bisa membuat tubuh kembali membaca situasi sebagai ancaman. Menghentikan aliran informasi memberi otak kesempatan untuk keluar dari siklus waspada tersebut.

Letakkan ponsel di tempat yang gak langsung terlihat dan fokus pada ruangan. Kamu gak sedang mengabaikan keadaan, tetapi memberi tubuh jeda sebelum menerima informasi berikutnya. Cara ini juga membantu membangun kebiasaan self-care ketika ingin tetap tenang saat menggunakan media sosial.

2. Rasakan benda di sekitar tubuhmu

ilustrasi perempuan memegang gelas (magnific.com/magnific)

Ketika pikiran berlari mengikuti berita, perhatian biasanya gak lagi berada di tempat kamu berdiri. Coba pegang meja, sandaran kursi, atau kain pakaian lalu perhatikan teksturnya secara perlahan. Sensasi sederhana itu membantu mengembalikan perhatian pada sesuatu yang nyata dan sedang terjadi sekarang.

Teknik ini dikenal sebagai grounding karena mengarahkan fokus pada pengalaman fisik. Kamu bisa menyebutkan beberapa benda yang terlihat, suara yang terdengar, dan sensasi yang terasa. Tujuannya bukan memaksa panik menghilang, melainkan membuat perhatian gak terus terseret oleh informasi menakutkan.

3. Atur napas tanpa memaksakannya

ilustrasi perempuan mengatur napas (magnific.com/magnific)

Napas yang pendek dan cepat sering muncul ketika tubuh sedang waspada. Alih-alih menarik napas dalam-dalam secara berlebihan, biarkan tarikan napas nyaman lalu buat hembusannya sedikit lebih panjang. Lakukan perlahan sambil menjaga posisi tubuh tetap rileks.

Perubahan kecil pada pola napas bisa menjadi sinyal bahwa situasi cukup aman untuk menurunkan intensitasnya. Gak perlu menghitung dengan rumit jika itu justru membuatmu makin tegang. Fokus saja pada ritme yang nyaman sampai napas terasa lebih stabil.

4. Batasi paparan berita secara sadar

ilustrasi perempuan menggunakan handphone (magnific.com/magnific)

Masalahnya sering bukan satu berita, melainkan kebiasaan mengecek pembaruan setiap beberapa menit. Kamu mungkin membuka satu unggahan, berpindah ke komentar, lalu mencari sumber lain sampai tubuh kembali tegang. Pola tersebut membuat otak sulit membedakan kebutuhan informasi dengan dorongan untuk terus memastikan semuanya aman.

Tentukan waktu khusus untuk membaca perkembangan penting, lalu berhenti ketika kebutuhan informasimu sudah terpenuhi. Pilih sumber yang jelas dan hindari komentar ketika kondisi emosimu belum stabil. Batas seperti ini bukan berarti kamu cuek, tetapi membantu menjaga kapasitas mental saat situasi di luar kendali.

5. Kembali pada aktivitas yang membuat tubuh stabil

ilustrasi perempuan minum air putih (magnific.com/magnific)

Setelah intensitas panik menurun, jangan langsung kembali mencari berita terbaru. Minum air, duduk nyaman, berjalan pelan, atau melakukan aktivitas sederhana yang familiar. Tubuh membutuhkan pengalaman netral agar perhatian gak kembali tersedot pada ancaman yang baru dilihat.

Perhatikan apakah situasi seperti ini sering berulang atau semakin sulit dikendalikan. Jika serangan panik terus muncul, mengganggu aktivitas, atau membuatmu takut menjalani keseharian, pertimbangkan mencari bantuan profesional. Merawat diri bukan cuma menenangkan tubuh saat panik, tetapi juga memahami kapan kamu membutuhkan dukungan lebih lanjut.

Berita buruk memang gak selalu bisa kamu hindari, tetapi cara menerimanya masih bisa diatur. Self care untuk mengatasi panic attack karena berita negatif berhak kamu lakukan jika tubuh mulai kewalahan. Hal ini perlu dicoba demi kewarasanmu. Jadi, kamu tak perlu merasa bersalah, ya! Mulai dari sekarang, yuk, kenali batas dirimu agar tetap bisa peduli pada keadaan tanpa kehilangan ketenangan diri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article