Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Slow Living dan Frugal Living: Kombinasi untuk Hidup Lebih Tenang
Ilustrasi merasa tenang (pexels.com/Mattia De Vercelli)

Slow living dan frugal living merupakan dua gaya hidup yang semakin banyak diminati di tengah ritme kehidupan modern yang serba cepat. Meski memiliki fokus yang berbeda, keduanya saling melengkapi dalam membantu seseorang menjalani hidup yang lebih sederhana, terarah, dan minim tekanan.

Ketika kedua konsep tersebut diterapkan secara bersamaan, hasilnya bukan hanya kondisi keuangan yang lebih sehat, tetapi juga kesehatan mental yang lebih baik. Seseorang tidak lagi terjebak dalam budaya konsumtif maupun tuntutan untuk selalu sibuk.

1. Mengurangi keinginan berlebihan membuat pikiran lebih tenang

Ilustrasi orang hidup slow living (unsplash.com/Ryan Moreno)

Salah satu titik temu antara slow living dan frugal living adalah sama-sama mengajak seseorang untuk mengurangi keinginan yang tidak perlu. Alih-alih terus mengejar barang baru atau gaya hidup yang mahal, keduanya mendorong seseorang agar lebih menghargai apa yang sudah dimiliki.

Kebiasaan ini bisa membantu mengurangi tekanan finansial sekaligus menghindarkan diri dari stres akibat membandingkan hidup dengan orang lain. Manfaat terbesar dari memperlambat ritme hidup adalah mendapatkan kembali waktu dan ketenangan untuk membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain, pekerjaan, alam, maupun diri sendiri.

"Dengan menjalani hidup dengan perlahan, kita mengalami realitas yang jauh lebih nyata, karena kita menjadi hadir sepenuhnya. Kesederhanaan membawa kesadaran penuh, yang memiliki efek memperpanjang waktu," kata dosen senior psikologi di Universitas Leeds Beckett, Steve Taylor, Ph.D. dalam Psychology Today.

"Tentu saja, kesederhanaan tidak begitu sesuai dengan kehidupan modern, dengan semua tekanan dan tuntutannya. Tetapi kita semua memiliki kendali atas bagaimana kita menanggapi situasi, terutama di waktu luang kita," tambahnya.

2. Membeli lebih sedikit, dan memilih yang benar-benar bernilai

ilustrasi slow living (pexels.com/Sam Lion)

Frugal living bukan berarti pelit, melainkan memilih pengeluaran yang benar-benar memberikan manfaat jangka panjang. Orang yang menerapkan gaya hidup ini cenderung tidak mudah tergoda diskon atau tren sesaat. Mereka lebih memilih membeli barang berkualitas yang tahan lama dibandingkan sering membeli barang murah tetapi cepat rusak.

Kebiasaan tersebut juga sejalan dengan slow living yang menekankan kualitas daripada kuantitas. Melepaskan hal-hal yang tidak penting membantu seseorang kembali mengenali nilai dan tujuan hidupnya. Kesederhanaan bukan mengubah jati diri, melainkan mengembalikan seseorang pada dirinya yang sesungguhnya.

3. Mengelola waktu dan uang dengan lebih sadar

ilustrasi slow living (pexels.com/Cemrecan Yurtman)

Slow living mengajarkan bahwa waktu merupakan sumber daya yang sama berharganya dengan uang. Sementara itu, frugal living membantu seseorang menggunakan uang secara lebih bijak agar tidak perlu terus-menerus bekerja hanya untuk memenuhi gaya hidup konsumtif.

Ketika keduanya diterapkan bersamaan, seseorang memiliki kesempatan untuk menikmati hidup tanpa merasa dikejar target finansial yang berlebihan. Orang yang paling berhasil adalah mereka yang menggunakan uang untuk memperoleh lebih banyak waktu, misalnya dengan mengurangi pekerjaan yang tidak perlu atau mendelegasikan tugas tertentu sehingga dapat fokus pada hal-hal yang benar-benar penting.

4. Lebih bersyukur sehingga tidak mudah terjebak gaya hidup konsumtif

Ilustrasi merasa bersyukur (pexels.com/Photo by Alexey Demidov)

Orang yang menjalani slow living biasanya lebih mudah menikmati hal-hal sederhana, seperti memasak di rumah, berjalan kaki, membaca buku, atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Di sisi lain, frugal living mendorong seseorang untuk merasa cukup dengan apa yang dimiliki sehingga tidak mudah tergoda membeli barang demi mengikuti tren.

Kombinasi keduanya membantu membangun rasa syukur yang berdampak positif pada kesejahteraan psikologis. Rasa syukur mampu menghalangi munculnya emosi negatif seperti iri hati, penyesalan, dan rasa tidak puas yang dapat mengurangi kebahagiaan seseorang.

"Rasa syukur dapat menghalangi emosi negatif dan toxic, seperti iri hati, kebencian, penyesalan-emosi yang dapat menghancurkan kebahagiaan kita," kata profesor psikologi Robert A. Emmons, Ph.D. dalam Greater Good.

5. Fokus pada nilai hidup, bukan sekadar mengejar kekayaan

Ilustrasi merasa tenang (pexels.com/Mattia De Vercelli)

Tujuan utama slow living maupun frugal living bukanlah sekadar menghemat uang atau memperlambat aktivitas sehari-hari. Lebih dari itu, kedua gaya hidup tersebut mengajak seseorang untuk menentukan apa yang benar-benar penting dalam hidup.

Dengan demikian, waktu, tenaga, dan uang dapat digunakan untuk hal-hal yang memberikan makna, bukan sekadar memenuhi ekspektasi sosial. Prinsip tersebut selaras dengan penelitian oleh Dr. Sonja Lyubomirsky, profesor psikologi di University of California dalam jurnal "Becoming Happier Takes Both a Will and a Proper Way: An Experimental Longitudinal Intervention to Boost Well-Being"

"Individu yang secara sukarela mengikuti intervensi kebahagiaan dan menyelesaikan salah satu kondisi pengobatan (yaitu, mengekspresikan optimisme atau rasa syukur) melaporkan peningkatan kebahagiaan terbesar," demikian laporannya dikutip dalam National Library of Medicine.

"Lebih lanjut, jumlah upaya yang dilakukan peserta pada aktivitas intervensi berupa menyampaikan rasa syukur atau membayangkan masa depan terbaik mereka berhubungan langsung dengan peningkatan kesejahteraan mereka selanjutnya," lanjutnya.

Slow living dan frugal living bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan dua pendekatan yang saling melengkapi untuk menciptakan kehidupan yang lebih tenang, sehat, dan bermakna. Kebahagiaan tidak hanya berasal dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan menjalani hidup sesuai nilai dan kebutuhan yang benar-benar penting.

Editorial Team

Related Article