Ilustrasi merasa tenang (pexels.com/Mattia De Vercelli)
Tujuan utama slow living maupun frugal living bukanlah sekadar menghemat uang atau memperlambat aktivitas sehari-hari. Lebih dari itu, kedua gaya hidup tersebut mengajak seseorang untuk menentukan apa yang benar-benar penting dalam hidup.
Dengan demikian, waktu, tenaga, dan uang dapat digunakan untuk hal-hal yang memberikan makna, bukan sekadar memenuhi ekspektasi sosial. Prinsip tersebut selaras dengan penelitian oleh Dr. Sonja Lyubomirsky, profesor psikologi di University of California dalam jurnal "Becoming Happier Takes Both a Will and a Proper Way: An Experimental Longitudinal Intervention to Boost Well-Being"
"Individu yang secara sukarela mengikuti intervensi kebahagiaan dan menyelesaikan salah satu kondisi pengobatan (yaitu, mengekspresikan optimisme atau rasa syukur) melaporkan peningkatan kebahagiaan terbesar," demikian laporannya dikutip dalam National Library of Medicine.
"Lebih lanjut, jumlah upaya yang dilakukan peserta pada aktivitas intervensi berupa menyampaikan rasa syukur atau membayangkan masa depan terbaik mereka berhubungan langsung dengan peningkatan kesejahteraan mereka selanjutnya," lanjutnya.
Slow living dan frugal living bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan dua pendekatan yang saling melengkapi untuk menciptakan kehidupan yang lebih tenang, sehat, dan bermakna. Kebahagiaan tidak hanya berasal dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan menjalani hidup sesuai nilai dan kebutuhan yang benar-benar penting.