ilustrasi mengingat kekurangan (pexels.com/Andres Ayrton)
Saat ditanya pencapaian yang paling membanggakan, kamu perlu berpikir cukup lama. Sebaliknya, kalau diminta menyebutkan kekurangan diri, jawabannya bisa langsung keluar satu per satu. Padahal, bukan berarti hidupmu tidak memiliki hal-hal yang patut disyukuri; hanya saja perhatianmu lebih sering tertuju pada hal-hal yang belum berhasil didapatkan. Hal-hal kecil yang sebenarnya sudah berkembang pun sering luput dari perhatianmu sendiri.
Cara memandang diri seperti ini sering terbentuk sedikit demi sedikit sejak masa kecil. Ketika kesalahan lebih sering dibahas daripada perkembangan yang sudah dicapai, seseorang akan terbiasa mencari apa yang kurang setiap kali melihat dirinya sendiri. Tidak heran kalau rasa cukup terasa sulit muncul karena pikiran sudah lebih dulu sibuk mencari hal yang belum sempurna. Seiring waktu, kebiasaan tersebut membuatmu lebih sulit menghargai proses yang sudah berhasil dilewati daripada hasil yang belum berhasil dicapai.
Pengalaman masa kecil memang tidak bisa diulang, tetapi bukan berarti pengaruhnya harus terus menentukan bagaimana cara kamu menjalani hidup ketika dewasa. Semakin cepat mengenali kebiasaan yang ternyata berasal dari masa kecil, semakin mudah juga belajar melihat diri dengan cara yang lebih sehat. Dari kelima tanda sulit merasa cukup karena pengalaman masa kecil, mana yang pernah kamu rasakan?