Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tanda Kamu Mengalami Biblioholism yang Sudah Tidak Sehat
ilustrasi perempuan membeli buku (pexels.com/cottonbro studio)
  • Biblioholism menggambarkan kebiasaan membeli atau mengoleksi buku secara kompulsif, terutama ketika dorongan belanja sulit dikendalikan dan mulai mengabaikan kebutuhan lain.
  • Tandanya meliputi pengeluaran buku yang mengganggu keuangan, koleksi menumpuk tetapi jarang dibaca, serta buku memenuhi ruang hingga menghambat aktivitas rumah.
  • Rasa gelisah saat tidak membeli buku dan lega yang hanya sementara perlu diperhatikan; evaluasi kebiasaan serta pertimbangkan bantuan profesional bila keseharian terganggu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pulang dari toko buku dengan membawa beberapa novel baru memang menyenangkan, apalagi ketika kamu sudah membayangkan waktu santai untuk membacanya. Namun, bagaimana jika rak semakin penuh, saldo rekening menipis, sementara buku yang belum tersentuh terus bertambah? Kebiasaan yang awalnya menyenangkan ini layak diperhatikan ketika keinginan membeli buku mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Istilah biblioholism kerap digunakan untuk menggambarkan keterikatan berlebihan pada buku, terutama kebiasaan membeli atau mengoleksinya secara kompulsif. Meski mencintai buku bukan masalah, perilaku tersebut patut dievaluasi ketika kamu kesulitan mengendalikan dorongan belanja atau mengabaikan kebutuhan lain. Yuk, simak lima tanda biblioholism yang perlu kamu kenali agar hobi membaca tetap terasa menyenangkan.

1. Sulit menahan keinginan membeli buku baru

ilustrasi perempuan memilih buku (pexels.com/cottonbro studio)

Diskon buku sering terasa seperti kesempatan yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Kamu awalnya hanya berniat melihat-lihat, tetapi akhirnya membawa pulang beberapa judul meski masih punya tumpukan to be read di rumah. Keinginan tersebut semakin sulit dikendalikan ketika kamu merasa harus membeli buku sebelum promonya berakhir.

Membeli buku sesekali untuk memanjakan diri masih tergolong wajar. Namun jika dorongan belanja terus muncul dan kamu kesulitan menolaknya meski sudah berjanji berhenti, kebiasaan itu perlu dievaluasi. Perhatikan apakah keputusan membeli didasarkan pada kebutuhan membaca atau sekadar keinginan sesaat.

2. Pengeluaran buku mulai mengganggu keuangan

ilustrasi perempuan memegang uang (unsplash.com/Rifki Kurniawan)

Awalnya, kamu hanya menyisihkan uang untuk satu atau dua buku setiap bulan. Lama-kelamaan, anggaran tersebut membengkak karena kamu terus tergoda membeli edisi terbaru, buku limited edition, atau koleksi penulis favorit. Akibatnya, uang untuk kebutuhan harian justru terpakai demi menambah isi rak.

Kondisi finansial menjadi petunjuk penting untuk menilai apakah hobi masih terkendali. Jika kamu mulai menunda membayar tagihan atau menggunakan uang kebutuhan pokok untuk membeli buku, kebiasaan tersebut sudah membawa konsekuensi nyata. Membuat anggaran khusus dan mencatat pengeluaran bisa membantumu melihat pola belanja dengan lebih jujur.

3. Rak penuh, tetapi buku jarang dibaca

ilustrasi rak buku (pexels.com/Alisa Fjolars)

Rak buku yang sudah penuh mungkin terasa seperti pemandangan biasa. Kamu terus membeli judul baru, sementara buku lama masih tersegel atau menunggu giliran dibaca selama berbulan-bulan. Koleksi akhirnya lebih banyak bertambah daripada benar-benar dinikmati.

Mengoleksi buku memang gak mengharuskanmu membaca semuanya dengan cepat. Namun jika kamu lebih menikmati membeli dan memiliki buku daripada membaca isinya, ada baiknya kamu meninjau kembali kebiasaan tersebut. Cobalah menyelesaikan beberapa buku yang sudah dimiliki sebelum membeli judul berikutnya.

4. Buku mulai menguasai ruang hidup

ilustrasi buku berantakan (magnific.com/magnific)

Rak tambahan awalnya terasa sebagai solusi sederhana untuk menampung koleksi yang bertambah. Namun, ketika buku mulai memenuhi meja kerja, menghalangi akses ke lemari, atau menumpuk di jalur berjalan, ruang pribadi ikut terdampak. Kondisi ini dapat menjadi tanda masalah penimbunan buku yang perlu diperhatikan.

Rumah seharusnya tetap nyaman digunakan untuk beraktivitas. Jika kamu kesulitan merapikan koleksi karena merasa berat melepaskan buku yang gak lagi dibutuhkan, cobalah mengevaluasi alasannya. Menyumbangkan buku yang sudah selesai dibaca bisa menjadi langkah awal untuk mengembalikan fungsi ruang.

5. Merasa gelisah saat gak membeli buku

ilustrasi perempuan gelisah (magnific.com/stockking)

Hari tanpa belanja buku terasa kurang menyenangkan, terutama ketika kamu melihat orang lain memamerkan koleksi terbarunya di media sosial. Kamu mungkin merasa tertinggal atau khawatir kehilangan kesempatan mendapatkan judul tertentu. Perasaan tersebut membuat aktivitas membeli buku perlahan menjadi cara untuk meredakan kegelisahan.

Perhatikan apakah rasa lega setelah membeli buku hanya bertahan sebentar sebelum dorongan serupa muncul kembali. Jika pola ini berulang dan sulit dikendalikan, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional, terutama ketika keuangan dan keseharian mulai terganggu. Mencintai buku tetap menyenangkan ketika kamu juga mampu menikmati hidup di luar koleksi.

Hobi mengoleksi buku gak harus dihentikan hanya karena rakmu penuh atau daftar bacaan belum selesai. Namun, kamu perlu jujur melihat dampaknya terhadap keuangan, ruang hidup, dan ketenangan diri. Yuk, nikmati hobi ini dengan lebih bijak agar buku tetap memperkaya pengalamanmu tanpa menjadi beban yang sulit kamu kendalikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article