Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Time Affluence, Ketika Punya Waktu Luang Terasa Lebih Berharga

Time Affluence, Ketika Punya Waktu Luang Terasa Lebih Berharga
ilustrasi waktu luang (pexels.com/Ksu and Eli Studio)
  • Time affluence adalah perasaan subjektif memiliki cukup waktu untuk diri sendiri, bukan semata jumlah jam luang; orang dengan jadwal sama bisa merasakannya berbeda.
  • Kebahagiaan dari waktu luang dipengaruhi cara menggunakannya. Aktivitas bermakna seperti hobi atau bertemu teman dapat terasa lebih memuaskan dibanding menghabiskan waktu tanpa tujuan.
  • Jeda singkat, seperti lima hingga sepuluh menit sebelum aktivitas, dapat menjadi ruang istirahat lewat minum kopi, membaca, berjalan, atau menikmati suasana sekitar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kesibukan sering kali terasa seperti bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bangun pagi, bekerja atau kuliah, menyelesaikan berbagai tugas, lalu tiba-tiba hari sudah berganti malam. Tidak jarang, waktu luang yang hanya beberapa menit pun, terasa terlalu berharga untuk dilewatkan. Bahkan saat punya kesempatan untuk beristirahat, pikiran masih sibuk memikirkan pekerjaan atau agenda berikutnya. Akibatnya, waktu kosong belum tentu terasa seperti waktu untuk benar-benar menikmati hidup.

Padahal, punya waktu untuk melakukan hal yang disukai bisa memberikan pengalaman yang berbeda. Entah itu ngopi santai tanpa terburu-buru, jalan sore, membaca buku, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah, momen seperti ini bisa terasa lebih berharga daripada yang kita kira. Hal tersebut berkaitan dengan konsep time affluence, istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan ketika seseorang merasa memiliki cukup waktu untuk dirinya sendiri. Menariknya, perasaan ini tidak selalu bergantung pada seberapa banyak waktu luang yang benar-benar dimiliki. Lalu, apa yang membuat seseorang bisa merasa “kaya waktu” di tengah kesibukannya sehari-hari?

  1. 1. Bukan berarti punya banyak waktu, tapi merasa punya cukup waktu

    Ilustrasi seseorang bersantai sejenak dalam suasana tenang untuk melepas penat dan memulihkan energi.
    Ilustrasi bersantai sebentar. (Unsplash.com/Bruno Cervera)

    Pernah merasa seharian sebenarnya tidak terlalu sibuk, tetapi tidak punya waktu untuk diri sendiri? Sebaliknya, ada juga hari yang jadwalnya padat, tetapi masih terasa cukup lega karena kita tahu kapan bisa beristirahat. Perbedaan pengalaman tersebut berkaitan dengan time affluence, yaitu perasaan bahwa kita masih memiliki waktu luang untuk melakukan hal-hal yang diinginkan. 

    Dalam Psychology Today, Deana Shevit Goldin, Ph.D., DNP, APRN, menyebut time affluence sebagai, “Perasaan subjektif bahwa kamu memiliki waktu luang.”

    Ukurannya bukan semata-mata dilihat dari berapa jam yang tersisa. Dua orang dengan jadwal yang sama, bisa saja memiliki perasaan yang berbeda terhadap waktu yang mereka miliki. Seseorang mungkin merasa santai karena masih bisa menyisihkan waktu untuk membaca, bertemu teman, atau sekadar rebahan tanpa memikirkan tugas. Sementara itu, orang lain bisa merasa terus dikejar waktu karena semua aktivitasnya terasa harus dilakukan buru-buru.

  2. 2. Bukan banyaknya waktu, tapi apa yang kita lakukan dengan waktu itu

    ilustrasi waktu luang (pexels.com/vlada karpovich)
    ilustrasi waktu luang (pexels.com/vlada karpovich)

    Kalau punya waktu luang memang menyenangkan, apakah semakin banyak waktu kosong berarti semakin bahagia? Ternyata belum tentu. Misalnya, ketika kita punya waktu kosong di satu sore itu, bisa terasa menyenangkan kalau digunakan untuk makan bersama sahabat atau melakukan hobi yang sudah lama ditinggalkan. Sebaliknya, beberapa jam tanpa agenda bisa terasa hambar kalau hanya dihabiskan sambil berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain. 

    Cassie Holmes, Ph.D., profesor di UCL Anderson School of Management yang meneliti hubungan antara waktu dan kebahagiaan, menjelaskan bahwa cara kita menggunakan waktu juga punya peran penting. “Bukan sekadar jumlah waktu yang kamu miliki, tetapi bagaimana kamu menggunakannya, yang menentukan kebahagiaanmu,” ujar Holmes dalam Speaking of Psychology dari American Psychological Association.

  3. 3. Waktu lima menit pun bisa jadi jeda yang berarti

    ilustrasi waktu luang (pexels.com/Lisa)
    ilustrasi waktu luang (pexels.com/Lisa)

    Waktu luang tidak selalu hadir dalam bentuk satu hari kosong atau beberapa jam tanpa agenda. Dalam keseharian, kita justru sering mendapat jeda-jeda kecil, seperti lima menit sebelum kelas, sepuluh menit sebelum meeting, atau saat sedang menunggu transportasi. Meski singkat, jeda tersebut tetap bisa menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang padat. Sayangnya, kita sering menganggap waktu beberapa menit terlalu sebentar untuk dinikmati. Akhirnya, waktu tersebut berlalu begitu saja tanpa benar-benar terasa sebagai waktu luang.

    Padahal, waktu yang sedikit juga bisa terasa menyenangkan ketika kita benar-benar menggunakannya untuk diri sendiri. Duduk sambil minum kopi, membaca beberapa halaman buku, berjalan sebentar, atau sekadar menikmati suasana sekitar bisa menjadi bentuk istirahat yang sederhana. Kita tidak harus selalu punya waktu berjam-jam untuk merasa lebih lega dari kesibukan. Ketika mulai memperhatikan jeda-jeda kecil tersebut, hari yang terasa penuh bisa memiliki sedikit ruang untuk bernapas. Dari sini, time affluence terasa bukan hanya tentang memiliki lebih banyak waktu, tetapi juga tentang merasakan bahwa waktu yang kita punya cukup untuk dinikmati.

    Kadang, kamu memang gak butuh waktu luang seharian buat merasa hidup lebih santai. Punya waktu buat ngopi santai, ngobrol sama teman, baca buku, atau sekadar rebahan tanpa merasa dikejar-kejar sesuatu juga sudah cukup. Di tengah jadwal yang padat, jeda kecil seperti itu ternyata bisa bikin kita merasa punya ruang untuk diri sendiri. Jadi, kalau belakangan ini rasanya waktu selalu kurang, mungkin bukan berarti kita benar-benar gak punya waktu. Bisa jadi, kita cuma belum memberi kesempatan buat diri sendiri menikmati waktu yang sebenarnya sudah ada.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More