Kesibukan sering kali terasa seperti bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bangun pagi, bekerja atau kuliah, menyelesaikan berbagai tugas, lalu tiba-tiba hari sudah berganti malam. Tidak jarang, waktu luang yang hanya beberapa menit pun, terasa terlalu berharga untuk dilewatkan. Bahkan saat punya kesempatan untuk beristirahat, pikiran masih sibuk memikirkan pekerjaan atau agenda berikutnya. Akibatnya, waktu kosong belum tentu terasa seperti waktu untuk benar-benar menikmati hidup.
Padahal, punya waktu untuk melakukan hal yang disukai bisa memberikan pengalaman yang berbeda. Entah itu ngopi santai tanpa terburu-buru, jalan sore, membaca buku, atau sekadar rebahan tanpa merasa bersalah, momen seperti ini bisa terasa lebih berharga daripada yang kita kira. Hal tersebut berkaitan dengan konsep time affluence, istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan ketika seseorang merasa memiliki cukup waktu untuk dirinya sendiri. Menariknya, perasaan ini tidak selalu bergantung pada seberapa banyak waktu luang yang benar-benar dimiliki. Lalu, apa yang membuat seseorang bisa merasa “kaya waktu” di tengah kesibukannya sehari-hari?
