Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Job Hugging makin Masuk Akal di Pasar Kerja Sekarang?

Kenapa Job Hugging makin Masuk Akal di Pasar Kerja Sekarang?
ilustrasi job hugging (pexels.com/Gustavo Fring)
  • Job hugging dinilai rasional karena pekerjaan saat ini memberi kepastian gaji untuk kebutuhan hidup, sementara peluang kerja baru belum tentu tersedia atau mencapai tahap wawancara.
  • Banyak lowongan menawarkan syarat tinggi, tugas luas, dan kompensasi yang belum tentu layak; kenaikan gaji di kantor baru juga bisa kalah oleh biaya, beban, atau status kerja.
  • Kerja luar negeri tidak otomatis mudah karena ada aturan dan kualifikasi. BPS mencatat 7,46 juta penganggur pada Agustus 2025, dengan TPT 4,85 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

“Kerja di sini capek, bulan depan mau resign” mungkin sudah menjadi kalimat yang rutin terdengar di grup kantor, obrolan tongkrongan, hingga unggahan media sosial. Tetapi nyatanya, orang yang paling sering mengucapkan kalimat tersebut justru sering kali yang paling lama bertahan di tempat kerja itu.

Kelihatannya keputusan semacam itu memang terlihat membingungkan karena jika sudah tidak betah, mengapa tidak sekalian resign saja? Namun, urusan pekerjaan tidak sesederhana soal betah atau tidak betah, sebab setelah resign, ke mana akan melangkah? Coba perhatikan sejumlah alasan berikut mengapa job hugging makin masuk akal di pasar kerja sekarang, di mana mencari pekerjaan baru tidak semudah mengucapkan atau menyuruh orang lain untuk resign.

  1. 1. Resign sekarang berarti kehilangan sesuatu yang sudah pasti

    ilustrasi gaji
    ilustrasi gaji (pexels.com/Defrino Maasy)

    Pekerjaan yang menyebalkan tetap memiliki satu hal yang sangat berharga, yaitu kepastian tanggal gajian. Setiap bulan ada uang yang masuk untuk membayar kos atau cicilan, makan, transportasi, tagihan, kebutuhan keluarga, dan berbagai pengeluaran lain yang tidak ikut berhenti hanya karena seseorang sudah muak dengan pekerjaannya. Sementara itu, pekerjaan berikutnya masih berupa kemungkinan yang bahkan belum tentu sampai ke tahap wawancara.

    Tak heran kalau seseorang bisa mengeluhkan kantornya setiap hari, tetapi tetap datang bekerja keesokan paginya. Bukan karena dia tidak tahu pekerjaannya atau bahkan tempat kerjanya buruk, melainkan karena pendapatan yang ada sekarang jauh lebih sesuai daripada peluang pindah kerja yang belum ditemukan. Dalam kondisi seperti ini, mempertahankan pekerjaan sambil diam-diam mencari kesempatan lain justru menjadi keputusan yang rasional daripada mengambil risiko menganggur tanpa kepastian.

  2. 2. Masalahnya bukan tidak ada lowongan, tetapi belum tentu ada lowongan yang layak

    ilustrasi lowongan pekerjaan
    ilustrasi lowongan pekerjaan (pexels.com/Ron Lach)

    Membuka situs pencarian kerja bisa membuat pasar kerja terlihat sangat bergairah. Ada posisi marketing, content writer, customer service, sales, account executive, social media specialist, hingga berbagai pekerjaan dengan nama yang terdengar keren. Namun, setelah syarat dan kompensasinya dibaca sampai selesai, pilihan yang benar-benar ada belum tentu sebanyak yang terlihat di halaman pencarian.

    Ada pekerjaan yang menuntut kemampuan bahasa Inggris tingkat tinggi, pengalaman beberapa tahun, penguasaan banyak perangkat lunak, kesediaan bekerja di luar jam kantor, bahkan kesiapan mengerjakan berbagai tugas di luar posisi utama. Setelah semua syarat tersebut dipenuhi, gajinya masih dalam nominal rupiah yang belum tentu jauh di atas upah minimum. Wajar jika akhirnya ada orang yang melihat pekerjaan lamanya yang menyebalkan lalu berpikir, “Ya sudah, setidaknya yang ini gue udah tahu dapat gaji berapa.”

  3. 3. Kenaikan gaji di tempat baru belum tentu sepadan dengan risikonya

    ilustrasi gaji
    ilustrasi gaji (unsplash.com/Defrino Maasy)

    Pindah kerja memang bisa menjadi cara untuk mendapatkan gaji lebih tinggi, tetapi nominal yang disebut saat interview bukan satu-satunya hal yang perlu dihitung. Kantor baru mungkin menawarkan tambahan Rp1 juta, tetapi lokasinya membutuhkan ongkos yang jauh lebih mahal, jam kerjanya lebih panjang, status kerjanya tidak jelas, atau beban pekerjaannya jauh lebih berat. Ada pula perusahaan yang terlihat menjanjikan saat proses wawancara, tetapi kondisi sebenarnya baru terungkap setelah seseorang resmi bergabung.

    Karena itu, pekerja tidak selalu mencari pekerjaan dengan gaji paling tinggi. Banyak orang sebenarnya hanya menginginkan pekerjaan yang cukup untuk hidup tanpa harus terus-menerus khawatir kehilangan penghasilan. Jika pekerjaan sekarang sudah memberikan penghasilan yang stabil, lingkungan yang sudah dipahami, dan setidaknya masih mampu menopang kebutuhan sehari-hari, keputusan untuk bertahan menjadi lebih mudah dimaklumi meskipun keluhannya tidak pernah habis.

  4. 3. Pasar kerja luar negeri bukan solusi yang serba-mudah

    ilustrasi kerja remote
    ilustrasi kerja remote (unsplash.com/Waddas Magalhães)

    Ketika pekerjaan di dalam negeri terasa sulit didapat, saran berikutnya biasanya terdengar seperti solusi pamungkas. Apalagi kalau bukan “Coba, cek LinkedIn cari kerja di luar negeri.” Kedengarannya menarik, tetapi pasar kerja internasional juga memiliki standar dan batasannya sendiri. Perusahaan harus mempertimbangkan kebutuhan tenaga kerja, aturan imigrasi, izin kerja, kualifikasi kandidat, bahasa, pengalaman, dan berbagai persyaratan lain sebelum merekrut seseorang dari negara yang berbeda.

    Situasi negara asal kandidat juga bisa menjadi pertimbangan dalam proses perekrutan internasional, terutama ketika perusahaan harus memperhitungkan risiko administratif dan kondisi tertentu di negara tempat tinggal kandidat. Jadi, bekerja di luar negeri atau bekerja remote untuk perusahaan luar negeri bukan sekadar memiliki kemampuan yang mereka butuhkan lalu mengirimkan CV, diterima lalu mendapat gaji dalam dolar. Kesempatannya memang ada, tetapi tidak semua orang bisa langsung mengambilnya.

  5. 4. Jangan semua beban soal pekerjaan dilemparkan kembali ke pekerja

    ilustrasi lowongan pekerjaan
    ilustrasi lowongan pekerjaan (unsplash.com/Zulfugar Karimov)

    Ada nasihat tentang karier yang terdengar sangat indah, tetapi sering kehilangan relevansi saat diterapkan dalam kehidupan nyata. Misalnya, memberi nasihat untuk terus belajar, meningkatkan kemampuan, keluar dari zona nyaman, lalu mencari pekerjaan yang lebih baik. Semua itu memang berguna, tetapi pekerja tetap membutuhkan sesuatu yang tidak bisa mereka ciptakan sendiri, yaitu ketersediaan lapangan kerja.

    Jika jumlah pencari kerja jauh lebih banyak daripada pekerjaan yang benar-benar tersedia dengan upah dan kondisi yang layak, meningkatkan kemampuan saja tidak otomatis memberi semua orang pilihan untuk pindah.  Dalam kampanye yang lalu pernah dijanjikan pembukaan 19 juta lapangan kerja melalui berbagai sektor seperti hilirisasi, ekonomi kreatif, UMKM, dan transisi energi hijau. Janji tersebut kemudian menjadi salah satu target yang terus ditagih publik setelah pemerintahan berjalan. BPS sendiri mencatat 7,46 juta orang menganggur pada Agustus 2025 dengan tingkat pengangguran terbuka 4,85 persen, sementara rata-rata upah buruh/karyawan berada di kisaran Rp3,33 juta.

    Jadi, ketika seseorang memilih bertahan di pekerjaan yang sebenarnya sudah membuatnya lelah, tidak adil jika reaksinya hanya, “Kenapa masih gak resign juga?” atau “Kenapa takut keluar dari zona nyaman?” atau “Nyaman banget ya job hugging”. Bisa saja orang tersebut sedang melihat kenyataan yang sangat sederhana, yakni pekerjaan sekarang memang tidak ideal, tetapi pekerjaan penggantinya belum tentu ada. Oleh sebab itu, job hugging makin masuk akal di pasar kerja sekarang. Meski begitu, keputusan tersebut tidak selalu mencerminkan bahwa seseorang kehilangan ambisi; kadang itu hanya satu dari sekian banyak cara bertahan hidup ketika pilihan di pasar kerja belum sebanyak yang dibayangkan.

    Referensi

    "Job Hugging in 2026: Is Playing It Safe Killing Your Career?" ResumeHog. Diakses pada September 2026.

    "Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,85 persen. Rata-rata upah buruh sebesar 3,33 juta rupiah." BPS. Diakses pada September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More