Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trauma Trigger Bisa Muncul dari Hal Sepele, Ketahui Penyebabnya

4 min read
Trauma Trigger Bisa Muncul dari Hal Sepele, Ketahui Penyebabnya
ilustrasi marah (pexels.com/Shvets Production)
  • Trauma trigger adalah pemicu yang mengingatkan pengalaman traumatis, sehingga tubuh dan pikiran dapat bereaksi kuat lewat takut, panik, tegang, marah, atau ingin menghindar.
  • Pemicu dapat berupa suara, aroma, tempat, tanggal, sentuhan, konflik, atau karakteristik seseorang; trauma bisa berakar dari kekerasan, perundungan, kecelakaan, kehilangan, hingga hubungan tidak sehat.
  • Trigger berulang dapat memengaruhi tidur, konsentrasi, kecemasan, dan hubungan; mengenali pola, melakukan grounding, mengatur napas, serta mencari bantuan profesional dapat membantu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah gak kamu tiba-tiba merasa sangat gak nyaman ketika mendengar suara, melihat suatu tempat, mencium aroma tertentu, atau bertemu seseorang? Reaksimu mungkin berlebihan jika dilihat dari situasi saat itu. Jantung berdebar, tubuh menegang, ingin menangis, marah, panik, atau justru ingin segera pergi. Padahal sebenarnya, pemicunya mungkin terlihat seperti hal biasa.

Kondisi seperti ini bisa berkaitan dengan trauma trigger, yaitu sesuatu yang mengingatkanmu pada pengalaman traumatis yang pernah dialami. Trauma gak selalu muncul dalam bentuk ingatan yang jelas seperti memutar kembali sebuah kejadian di kepala. Terkadang tubuh dan pikiran justru bereaksi lebih dulu ketika menemukan sesuatu yang terasa familiar dengan pengalaman buruk di masa lalu. Reaksi tersebut menjadi cara tubuh berusaha melindungi diri. Berikut penjelasan lengkapnya.

  1. 1. Apa itu trauma trigger?

    Pasangan
    ilustrasi pasangan marah (pexels.com/timur-weber)

    Trauma trigger adalah sesuatu yang dapat memunculkan kembali respons emosional, fisik, atau psikologis yang berkaitan dengan pengalaman traumatis. Trigger bisa berupa apa saja. Tidak selalu sesuatu yang secara langsung berhubungan dengan kejadian traumatis, tapi memiliki kemiripan yang membuat otak menghubungkannya dengan pengalaman tersebut.

    Misalnya, seseorang pernah mengalami kekerasan dalam hubungan dengan pasangan yang sering berbicara menggunakan nada suara tinggi. Bertahun-tahun kemudian, mendengar orang lain membentak bisa membuatnya langsung merasa takut atau ingin menjauh. Meskipun orang yang membentak tersebut bukan pelaku dan situasinya berbeda. Trigger juga bisa muncul melalui suara, aroma, tempat, tanggal tertentu, percakapan, sentuhan, ekspresi wajah, bahkan kondisi emosional.

  2. 2. Kenapa trauma trigger bisa terjadi?

    Kehilangan, Kesedihan
    ilustrasi kesedihan (unsplash.com/kedwards060)

    Trauma trigger dapat terjadi karena pengalaman traumatis meninggalkan jejak yang cukup kuat pada ingatan dan respons tubuh seseorang. Ketika mengalami kejadian yang sangat menakutkan, menyakitkan, atau membuat tak berdaya, otak berusaha mengenali berbagai hal yang berkaitan dengan situasi tersebut sebagai bagian dari cara melindungi diri. Penyebabnya juga tak harus berupa satu kejadian besar.

    Trauma bisa berkaitan dengan kekerasan fisik atau emosional, pelecehan, perundungan, kecelakaan, kehilangan orang terdekat, hubungan yang tak sehat, bencana, atau pengalaman lain yang membuat gak aman. Beberapa pemicu yang cukup umum antara lain suara, bau, tempat yang mengingatkan pada kejadian masa lalu, tanggal atau momen tertentu, percakapan, kontak fisik, konflik, nada bicara seseorang, hingga melihat orang dengan karakteristik yang mengingatkan pada pelaku.

  3. 3. Dampak trauma trigger bagi kesehatan mental dan hubungan

    Kesedihan, kegagalan
    ilustrasi kesedihan (pexels.com/ Timur Weber)

    Trauma trigger yang sering muncul dapat membuat seseorang lelah secara emosional. Ia mungkin menjadi lebih waspada terhadap lingkungan sekitar karena terus berusaha mengantisipasi hal-hal yang berpotensi membuatnya tidak nyaman. Seseorang juga bisa mengalami kecemasan, sulit tidur, sulit berkonsentrasi, perubahan suasana hati, rasa takut, atau menghindari tempat dan situasi tertentu. Respons terhadap trauma juga dapat berkaitan dengan kondisi psikologis yang membutuhkan bantuan profesional.

    Dampaknya juga bisa terasa dalam hubungan dengan orang lain. Seseorang bisa kesulitan memercayai orang baru, gak nyaman ketika terlalu dekat secara emosional, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa aman dalam sebuah hubungan. Misalnya, seseorang yang pernah mengalami pengkhianatan akan sangat cemas ketika pasangannya gak membalas pesan segera. Reaksi tersebut bukan berarti ia pasti posesif. Bisa jadi ada pengalaman masa lalu yang membuat situasi tersebut terasa mengancam.

  4. 4. Cara menyikapi trauma trigger

    Dukungan mental
    ilustrasi memberikan dukungan mental (pexels.com/Liza Summer)

    Menghadapi trauma trigger bukan berarti memaksa diri untuk langsung berani menghadapi semua hal yang menakutkan. Proses pemulihan setiap orang berbeda-beda. Penting untuk kamu bisa memperhatikan situasi apa yang biasanya membuat tubuh atau emosimu berubah secara drastis. Jika memungkinkan, catat pemicu, apa yang kamu rasakan, serta apa yang membantu membuatmu kembali tenang.

    Mengenali pola ini bukan berarti menyalahkan diri sendiri, tapi membantu memahami respons tubuh dengan lebih baik. Ketika trigger muncul, coba kembali perhatikan keadaan saat ini. Coba untuk grounding dengan menyebutkan benda yang terlihat di sekitar, rasakan telapak kaki menyentuh lantai, dan atur napas perlahan, ini dapat membantu mengingatkan tubuh bahwa kamu sedang berada di tempat yang berbeda dan aman. Mencari bantuan profesional kesehatan mental juga jadi langkah yang sangat berarti.

    Trauma trigger menunjukkan bahwa pengalaman buruk bisa meninggalkan dampak yang nyata. Sesuatu yang tampak sederhana bagi orang lain bisa sangat berat bagi orang dengan trauma. Respons tersebut tak seharusnya dijadikan alasan untuk menyalahkan, meremehkan, atau meragukan pengalaman mereka, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More