Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Bentuk Unfinished Grief yang Bisa Kamu Rasakan, Relate?
ilustrasi berduka (pexels.com/Danny Doneo)
  • Unfinished grief dapat muncul meski seseorang kembali beraktivitas, berupa kata yang belum tersampaikan, penyesalan atas masa lalu, serta pertanyaan tanpa jawaban atau perpisahan yang jelas.
  • Bentuk lain terlihat saat seseorang merasa bersalah menikmati hidup setelah kehilangan, karena kebahagiaan terasa seperti melupakan orang yang dirindukan.
  • Kehilangan juga dapat mengubah rutinitas dan identitas diri; proses berduka melibatkan memberi ruang pada kerinduan, pertanyaan, dan perubahan yang masih tersisa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Berduka tidak selalu berarti terus-menerus menangis atau merasa sedih setiap hari. Ada kalanya kamu sudah kembali menjalani rutinitas seperti biasa, bisa tertawa, bekerja, dan bertemu orang lain, tetapi masih ada bagian dari kehilangan yang terasa belum benar-benar selesai. Perasaan seperti ini bisa muncul tanpa disadari dan baru terasa ketika ada situasi tertentu yang mengingatkanmu pada orang atau hal yang telah hilang.

Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan unfinished grief, yaitu pengalaman berduka yang masih menyisakan emosi, pertanyaan, atau hal-hal yang belum terselesaikan. Bukan berarti kamu gagal melanjutkan hidup atau harus terus merasa sedih. Namun, ada beberapa bentuk unfinished grief yang mungkin diam-diam masih kamu rasakan. Apa saja unfinished grief tersebut? Yuk, simak lima di antaranya di bawah ini!

1. Masih ada hal yang ingin kamu sampaikan

ilustrasi berduka (pexels.com/Arina Krasnikova)

Kehilangan seseorang bisa meninggalkan banyak kata yang tidak sempat disampaikan. Mungkin ada ucapan terima kasih yang tertunda, permintaan maaf yang belum pernah terucap, atau sekadar cerita yang sebenarnya ingin kamu bagikan kepadanya. Setelah orang tersebut pergi, keinginan untuk mengatakan hal-hal itu bisa tetap muncul dari waktu ke waktu.

Perasaan tersebut bisa terasa semakin kuat pada momen tertentu, seperti ketika kamu mengalami sesuatu yang biasanya akan kamu ceritakan kepadanya. Kamu mungkin tiba-tiba berpikir, "Seandainya dia masih ada, aku pasti akan menceritakan ini." Memiliki pikiran seperti ini bukan berarti kamu belum menerima kehilangan, tetapi ada bagian dari hubungan tersebut yang masih kamu bawa dalam kehidupan sekarang.

2. Sering memikirkan hal-hal yang seharusnya bisa dilakukan berbeda

ilustrasi berduka (pexels.com/Ivan S)

Setelah kehilangan, pikiran tentang masa lalu bisa dipenuhi oleh berbagai kemungkinan. Kamu mungkin mengingat kembali percakapan, keputusan, atau momen tertentu lalu bertanya-tanya apakah semuanya bisa berakhir berbeda jika kamu melakukan sesuatu dengan cara lain.

Pikiran seperti "seandainya waktu itu aku..." dapat memunculkan penyesalan dan rasa bersalah. Padahal, kamu menilai masa lalu menggunakan pengetahuan yang baru kamu miliki sekarang. Menyadari hal tersebut dapat membantu kamu melihat bahwa tidak semua hal yang terjadi berada dalam kendalimu.

3. Masih merasa perlu mendapatkan jawaban

ilustrasi berduka (pexels.com/RDNE Stock project)

Tidak semua kehilangan memberikan penutup atau closure yang jelas. Ada keadaan ketika kamu pergi tanpa sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi, tidak mendapatkan kesempatan mengucapkan selamat tinggal, atau masih memiliki banyak pertanyaan yang tidak mungkin lagi dijawab.

Ketidakjelasan tersebut bisa membuat pikiran terus kembali ke kejadian yang sama. Kamu mungkin berusaha mencari penjelasan untuk memahami mengapa sesuatu harus berakhir seperti itu. Namun, tidak semua pertanyaan memiliki jawaban yang bisa ditemukan. Terkadang, proses berduka juga berarti belajar menerima bahwa ada hal-hal yang memang tidak akan pernah sepenuhnya kamu ketahui.

4. Merasa bersalah ketika mulai menikmati hidup lagi

ilustrasi berduka (pexels.com/Alex Green)

Ada orang yang merasa tidak nyaman ketika dirinya mulai bahagia setelah kehilangan. Kamu mungkin tertawa bersama teman, menikmati perjalanan, mencapai sesuatu yang membanggakan, lalu tiba-tiba merasa bersalah karena orang yang kamu rindukan sudah tidak bisa ikut merasakan momen tersebut.

Perasaan ini bisa membuat kebahagiaan terasa seperti bentuk melupakan atau meninggalkan orang yang telah pergi. Padahal, menjalani kehidupan kembali tidak menghapus rasa sayang atau kenangan yang kamu miliki. Kamu tetap bisa merindukan seseorang sekaligus menikmati kehidupan yang sedang kamu jalani sekarang.

5. Masih merasa kehilangan bagian dari dirimu yang dulu

ilustrasi berduka (pexels.com/Kampus Production)

Kehilangan tidak hanya mengubah hubunganmu dengan orang lain, tetapi terkadang juga mengubah cara kamu melihat diri sendiri. Mungkin orang tersebut memiliki peran penting dalam kehidupanmu sehingga setelah kepergiannya, ada bagian dari rutinitas, identitas, atau kehidupanmu yang ikut berubah.

Kamu mungkin merasa tidak lagi menjadi versi dirimu yang sama seperti sebelumnya. Perasaan tersebut dapat muncul ketika menyadari bahwa ada pengalaman tertentu yang tidak akan pernah bisa diulang dengan cara yang sama. Namun, berubah setelah kehilangan bukan berarti ada yang salah dengan dirimu. Kamu hanya sedang belajar menjalani kehidupan dengan bagian baru yang terbentuk dari pengalaman tersebut.

Unfinished grief bukan berarti kamu harus melupakan masa lalu agar bisa melanjutkan hidup. Terkadang, ada kehilangan yang memang meninggalkan pertanyaan, kerinduan, atau perasaan yang tidak langsung selesai. Yang terpenting bukan memaksa semuanya hilang, melainkan memberi ruang untuk memahami apa yang masih kamu rasakan dan perlahan belajar hidup berdampingan dengannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article