"Sering kali, orang mengaitkan kebahagiaan dengan faktor eksternal—kekayaan, ketenaran, dan gagasan populer lainnya tentang kesuksesan. Semua hal ini tidak kekal. Bagi kaum Stoa (pengikut aliran filsafat Stoikisme), kebahagiaan sejati tidak dapat hilang," jelas Marianna Pogosyan, Ph.D, seorang dosen dan konsultan psikologi kepada Psychology Today.
Upin Ipin Punya Stoic Mindset? Ini Pelajaran yang Relate buat Gen Z

- Upin & Ipin, serial Malaysia yang tayang sejak 2007, dinilai memuat pesan moral relevan bagi Gen Z melalui pola pikir Stoik yang berfokus pada hal-hal dalam kendali diri.
- Serial ini menampilkan kebahagiaan dari aktivitas sederhana, bukan materi atau status, selaras dengan gagasan Stoik bahwa kesejahteraan sejati berasal dari dalam diri.
- Upin dan Ipin digambarkan tetap empatik, mencari solusi tanpa menyalahkan orang lain, serta terbuka mengungkapkan kesedihan kepada keluarga sebagai bentuk belas kasih dan kejujuran perasaan.
Serial animasi produksi Malaysia bernama Upin & Ipin, sudah tayang sejak tahun 2007 di Malaysia dan baru masuk Indonesia pada 2008. Sudah belasan tahun dengan beratus-ratus episode, serial Upin & Ipin menyimpan banyak pesan moral di balik setiap episodenya.
Meskipun animasi ini pertama kali dirilis sebagai tayangan untuk mendidik anak-anak tentang ibadah puasa, sebenarnya ada banyak pesan menohok yang justru sangat relevan dengan kehidupan gen Z saat ini. Banyak pelajaran hidup berharga dari Upin & Ipin yang sebenarnya menunjukkan mindset Stoikisme (Stoic). Cara berpikir ini berakar dari ajaran kuno yang berkembang di Yunani dan Roma yang menunjukkan kemampuan seseorang untuk fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.
Dengan kata lain, orang-orang dengan pola pikir Stoic ini percaya bahwa mereka gak bisa mengubah hal-hal yang terjadi di luar kontrol manusia. Jadi, ketika ada masalah, orang dengan pola pikir stoic menjadikan hal tersebut sebagai pelajaran. Nah, sikap-sikap seperti ini juga ditunjukkan dalam serial Upin & Ipin, lho!
1. Bahagia karena hal sederhana

Upin & Ipin Buka Bersama (Les' Copaque Production/ Upin & Ipin) Apa yang dilakukan Upin dan Ipin sebenarnya erat dengan pola pikir Stoikisme yang percaya bahwa kebahagiaan sejati itu gak bisa hilang. Upin dan Ipin sering berkumpul dengan teman-temannya untuk bermain, menikmati es campur di kedai Uncle Muthu, keliling kampung naik sepeda, dan lain-lain.
Mereka bahagia dengan hal-hal sederhana itu. Sementara itu, rasanya sekarang gen Z dihadapkan dengan berbagai standar kesuksesan. Padahal, kebahagiaan gak selamanya soal materi, kekayaan, atau status sosial.
Justru, kebahagiaan bisa datang dari hal-hal yang kadang terlupakan atau terabaikan. Padahal, kebahagiaan adalah keadaan psikologis. Kebahagiaan merupakan salah satu aspek yang diukur dalam The Stoic Attitudes and Behaviours Scale (SABS) yang menjelaskan bahwa kesejahteraan sejati bergantung pada hal-hal yang ada di dalam diri sendiri, bukan pada kekayaan atau kesuksesan.
2. Tetap menghargai orang lain meskipun tidak dihargai kembali

karakter Upin dan Ipin yang selalu pakai baju sama (dok. Les' Copaque Production/Upin &) Ipin) Hasil dari pengukuran menggunakan The SABS menunjukkan data yang jelas. Orang-orang yang punya nilai stoic yang tinggi, dilaporkan punya kepuasaan hidup yang lebih tinggi juga, resiliens yang kuat, serta tingkat kemarahan dan kecemasan yang rendah. Hal-hal ini juga terpancar dari sikap Upin dan Ipin.
Mesti tidak dihargai kembali, mereka tetap menghargai dan baik kepada orang lain. Upin dan Ipin merupakan contoh karakter yang punya empati dan mengutamakan kebutuhan teman-temannya. Sama dengan kaum Stoa yang percaya bahwa perbuatan salah bukan lahir dari niat jahat, melainkan ketidaktahuan.
"Menurut kaum Stoik, satu-satunya hal yang dapat kita kendalikan secara langsung adalah bagaimana kita berpikir tentang sesuatu dan apa yang kita lakukan secara sukarela. Hidup akan berjalan jauh lebih lancar jika kita hanya fokus pada hal-hal ini. Misalnya, anggaplah Anda khawatir telah membuat seorang kolega marah. Alih-alih menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan situasi tersebut, renungkan apakah ada sesuatu yang bermanfaat yang dapat Anda lakukan," kata Tim LeBon, M.Phil, seorang penulis buku, direktur penelitian Modern Stoicism, dan terapis CBT kepada Psychology Today.
Stoic mindset tentang seseorang yang sebenarnya, punya kendali langsung atas dirinya. Ketika ada masalah, mereka tidak akan berlama-lama terjebak dalam keadaan itu, tidak juga menyalahkan orang lain. Lebih baik energinya digunakan untuk mencari solusi daripada mengeluhkan suatu hal yang sudah terjadi.
3. Berbelas kasih dan jujur dengan perasaannya

dok. Les' Copaque/ Upin & Ipin Di era modern sekarang, gak semua orang bisa dengan mudah mengungkapkan perasaan mereka. Bahkan tak jarang, permasalahan seputar kesehatan mental berawal dari perasaan dan pikiran yang tidak terungkapkan. Inilah yang tidak dilakukan oleh Upin dan Ipin.
Mereka tidak selalu terlihat ceria dan bahagia. Terkadang, ada hal-hal yang membuat Upin dan Ipin merasa sedih. Tapi, mereka tidak memendam perasaan itu dan mengungkapkannya pada Kak Ros atau Opah. Kebiasaan ini yang sebenarnya perlu ditanamkan oleh gen Z bahwa gak perlu selalu menjadi kuat dan terlihat baik-baik saja.
Marianna Pogosyan, Ph.D, seorang dosen dan konsultan psikologi, mengatakan kepada Psychology Today, "Menurut etika Stoa, menjalani hidup yang baik itu butuh pengakuan bahwa Anda tidak terisolasi dan terputus dari orang lain."
Menurutnya, pola pikir ini mendorong seseorang untuk mau berbagi dengan orang lain. Bukan berbagai dalam hal materi, melainkan punya keterbukaan untuk menunjukkan kekuatan dan kelemahan kepada orang lain.
Jadi, itu dia beberapa sikap atau pelajaran dari Upin & Ipin yang ternyata sangat erat dengan stoic mindset. Kalau kamu mempelajarinya lebih dalam, sebenarnya stoic mindset menunjukkan prinsip hidup yang membawa banyak manfaat, lho!








![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin, Kami Tebak Bagaimana Gaya Bekerjamu](https://image.idntimes.com/post/20240731/screenshot-2024-07-31-110715-9c84d19ef5d0013432e1371c5ba91423.png)












