Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Ekspetasi ke Mantan yang Bikin Kerap Berlarut-larut di Masa Lalu
ilustrasi pasangan (pexels.com/Alena Darmel)
  • Mengharapkan mantan meminta maaf dapat memperpanjang kekecewaan; rasa marah wajar, tetapi sikap mereka berada di luar kendali dan tidak seharusnya mengganggu kebahagiaan saat ini.
  • Menanti mantan berubah sesuai keinginan berpotensi menciptakan relasi toksik dan membuat seseorang terjebak dalam pemikiran “seandainya”, padahal perubahan tidak bisa dipaksakan.
  • Setiap pihak perlu bertanggung jawab atas tindakan dan perbaikan hubungan, termasuk meminta maaf bila salah; kedewasaan emosional diperlukan untuk merelakan hubungan yang tidak perlu dipertahankan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gak semua hubungan yang berawal baik berakhir dengan baik pula. Ada kalanya ketidakcocokan karakter, perbedaan pandangan, dan gesekan dalam relasi memutus hubungan dan menyebabkan perpisahan. Menyakitkan memang, tapi luka dan pengalaman masa lalu itulah yang membuat kita dewasa.

Sayangnya, beberapa orang gagal move on dari masa lalu mereka karena masih mengharapkan orang lain untuk memenuhi ekspetasinya lebih dulu. Biasanya, orang seperti ini masih dikuasai kepahitan, rasa marah bahkan dendam karena merasa ada yang belum selesai dengan kisahnya di masa lalu.

Alhasil, kamu sulit untuk bahagia dengan keadaanmu sekarang. Berikut tiga hal yang sering orang ekspetasikan pada orang lain yang diam-diam mencuri kebahagiaanmu sendiri.

1. Berekspetasi orang lain minta maaf lebih dulu

ilustrasi pria dan wanita (pexels.com/Edmond Dantès)

Saat kamu terluka, permintaan maaf memvalidasi rasa sakit tersebut. Di situlah, kamu berpikir bahwa kamu layak untuk menerima permintaan maaf dari orang yang telah melukaimu untuk memperbaiki keadaan.

Ketika ekspetasi gak bertemu dengan realitas, kamu hanya menelan rasa kecewa. Saat inilah, kamu mulai mengenakan mental korban. Kamu merasa paling malang dan menderita, bahkan gak jarang buat status untuk menyindir doi.

Tanpa mengecilkan rasa sakit yang kamu alami, coba belajar untuk jadi pribadi yang legawa. Jangan menuntut permintaan maaf dari orang lain. Sah-sah saja untuk merasa marah dan kesal, tapi ingatlah bahwa sikap orang lain berada di luar kendalimu. Gak seharusnya sikap mereka di masa lalu mencuri kebahagiaanmu sekarang.

2. Berekspetasi orang lain berubah sesuai keinginan kita

ilustrasi wanita sedih (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Hubungan yang mengatur lambat laun akan membentuk hubungan toksik. Kamu bukannya mengenal orang tersebut sebagaimana karakternya, melainkan sebagaimana ekspetasimu terhadapnya.

Ekspetasi seperti inilah yang membuat banyak orang terjebak dalam pemikiran “seandainya ...”, sembari menanti orang tersebut berubah. Tanpa disadari, kamu terus menuntut orang di masa lalu untuk datang dan memperbaiki hubungan kalian.

Masalahnya, gak semudah itu. Kamu gak bisa memaksa seseorang untuk berubah sesuai keinginan dan ekspetasimu. Pemikiran seperti inilah yang membuat kita stagnan di masa lalu.

3. Berekspetasi orang lain mengambil keputusan untukmu

ilustrasi wanita murung (pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

Saat hubungan sudah rusak, banyak orang menyerahkan beban untuk memperbaiki hubungan pada pasangan. Alih-alih meminta maaf dan berusaha mengomunikasikannya, kamu memberikan keputusan tersebut pada pasangan. Ketika ternyata ekspetasi tersebut gak berbanding dengan realitas, kamu akan selalu menyalahkan pasangan.

Setiap orang harus berani bertanggung jawab atas masalah mereka sendiri dan berupaya memperbaiki diri. Kalau kamu tahu kamu salah, maka minta maaflah. Kalau kamu tahu ada hal yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki hubungan, maka lakukanlah.

Jangan terpancing dengan egomu saja. Hubungan harus dibangun dengan kedewasaan emosional, bukan sekadar keinginan untuk memuaskan diri sendiri.

Gak perlu berlarut-larut di titik yang sama. Kalau memang ada beberapa hubungan yang memang perlu kamu relakan, maka relakan saja. Gak semua butuh atensi dan tenagamu, sayang waktu untuk memikirkan hal yang gak perlu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article