ilustrasi pasangan mengobrol (freepik.com/freepik)
Setelah konflik, sebagian orang memilih membanjiri pasangannya dengan kata-kata manis. Tujuannya bukan menyelesaikan masalah, tapi meredakan suasana secepat mungkin. Panggilan seperti “cinta”, “angel”, atau “my love” muncul tanpa ada pembahasan soal akar konflik. Sekilas terasa damai, tapi sebenarnya masalah hanya ditunda, bukan diselesaikan.
Menurut penelitian dalam jurnal Affective Science, manusia sering menggunakan strategi bahasa untuk menciptakan jarak psikologis saat merasa gak nyaman. Bahasa yang lebih abstrak atau emosional bisa membantu menenangkan diri, tapi juga menghambat keterlibatan mendalam dengan masalah yang ada. Dalam konteks hubungan, panggilan sayang bisa menjadi alat distraksi emosional supaya konflik gak perlu dibahas lebih jauh.
Kalau pola ini terus berulang, hubungan kamu bisa terlihat harmonis di luar, tapi rapuh di dalam. Kamu mungkin sering “baikan”, tapi jarang benar-benar selesai. Intimasi yang sehat bukan soal cepat berdamai, lho, tapi berani duduk bersama dalam ketidaknyamanan dan mencari solusi yang jujur.
Panggilan sayang bukanlah sesuatu yang salah, dan dalam hubungan yang sehat, justru bisa memperkuat ikatan emosional. Masalah muncul ketika kata-kata manis dipakai untuk menutupi jarak, meremehkan perasaan, atau menghindari tanggung jawab emosional. Kalau kamu sering merasa ditenangkan tapi jarang benar-benar dipahami, itu tanda untuk lebih waspada.
Hubungan yang sehat selalu memberi ruang untuk kejujuran, bukan hanya kenyamanan semu. Karena pada akhirnya, cinta bukan soal seberapa manis panggilannya, tapi seberapa dalam kamu dan pasangan saling hadir secara nyata.