Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Kebiasaan Kecil yang Diam-diam Picu Rasa Kebencian dalam Hubungan
ilustrasi pasangan (pexels.com/Joshua Mcknight)
  • Ketimpangan usaha, seperti hanya satu pihak mengingat momen penting, merencanakan kencan, dan memikirkan masa depan, dapat memicu kelelahan emosional serta rasa kesepian.
  • Pengorbanan yang selalu dibebankan pada satu orang menciptakan hubungan tidak seimbang, membuatnya merasa lelah, tidak dipandang, dan tidak dihargai pasangan.
  • Perbedaan pertumbuhan serta kesalahpahaman yang dipendam dapat memperlebar jarak; komunikasi jujur, terbuka, dan penuh respek diperlukan agar masalah tidak berubah menjadi ketidakpedulian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sama dengan cinta, kebencian juga muncul dari hal kecil yang kerap dipendam-pendam. Justru hal sepeleh yang seringkali diremehkan, punya dampak yang jauh lebih signifikan dibanding yang kamu bayangkan. Selain berdampak pada kualitas hubungan, kebiasaan kecil tentang bagaimana kamu memperlakukan pasangan juga bisa berdampak pada perasaan kalian untuk satu sama lain.

Kebencian gak sama dengan rasa marah. Kalau kemarahan bersifat aktif, keras, dan mudah dikenali, benci biasanya terpendam. Tahu-tahu, kalian sudah berjarak. Ini, nih, empat tiny habits yang bisa picu rasa benci dalam relasi. Jangan dilakukan, ya!

1. Hanya satu pihak yang effort dalam hubungan

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/cottonbro studio)

Hubungan butuh kerja dari kedua pihak. Hal sesederhana mengingat tanggal anniversary, menjadwalkan date, planning untuk masa depan—meski sepeleh, tapi bisa jadi beban emosional bila hanya dilakukan sendirian. Kamu jadi merasa excited sendiri, tanpa ada timbal balik yang sesuai dari pasangan.

Sementara doi gak sadar, kamu sudah “burn out” duluan dalam hubungan. Kamu merasa kesepian, karena tiap perhatian dan cinta yang kamu beri seolah bertepuk sebelah tangan. Seiring waktu, perhatian yang dulunya adalah manifestasi cinta, kini mulai terasa seperti tanggung jawab yang melelahkan.

2. Salah satu kerap berkorban demi yang lain

ilustrasi pasangan marah (pexels.com/RDNE Stock project)

Membangun hubungan adalah tentang kompromi dan saling mengerti satu sama lain. Bukan hanya melakukan apa yang kamu inginkan atau apa yang pasangan inginkan, melainkan mencari jalan tengah yang menguntungkan kedua pihak.

Coba bayangkan apa yang terjadi kalau hanya satu pihak saja yang berkorban. Misal, kamu harus selalu menyesuaikan jadwal dengan doi yang sering cancel date mendadak. Atau, kamu harus selalu menuruti kemauan pasangan untuk melakukan kegiatan yang sebenarnya bukan kesukaanmu.

Hal ini menimbulkan “kesenjangan timbal balik” yang bisa jadi jurang dalam relasi. Hubungan yang gak seimbang membuat pihak yang selalu berkorban merasa lelah, gak dipandang, bahkan gak dihargai oleh pasangannya sendiri.

3. Satu pihak bertumbuh, sementara yang lain stagnan di tempat

ilustrasi pasangan kesal (pexels.com/Mikhail Nilov)

Tujuan dalam berkomitmen ialah mengejar pertumbuhan yang setara, baik untukmu maupun pasangan. Bila satu bertumbuh pesat sementara yang lain kerap stagnan di tempat yang sama, ini bisa menghasilkan gap serius dalam relasi.

Entah dalam karakter, pola pikir, maupun karier, kesenjangan pertumbuhan bisa menimbulkan ketegangan dalam hubungan. Pasangan yang berkembang akan merasa sering terbebani oleh tanggung jawab sebagai penopang, sementara pihak lain akan merasa dihakimi, tidak mampu, dan tertinggal. Bila tidak dikomunikasikan, ketidakselarasan jalan hidup akan membuat jarak yang lebih besar bagimu dan pasangan.

4. Kerap disalahpahami oleh pasangan

ilustrasi bekerja di kantor (pexels.com/Mikhail Nilov)

Sebenarnya bukan soal dituduh, melainkan tidak dipercayai dan dipandang sebagai apa adanya—itulah yang membuat hubungan terasa menyesakkan. Ketika hal ini terjadi, jangan terus dibiarkan berlarut-larut. Coba komunikasikan dengan jujur, terbuka, dan penuh respek pada pasangan.

Memang kelihatan sederhana, tapi bila kesalahpahaman disimpan terus-menerus, maka bisa jadi batu sandungan serius dalam hubungan. Rasa lelah akibat terus disalahartikan bisa bermanifestasi menjadi ketidakpedulian dan penarikan diri.

Mengenali kebiasaan kecil yang bisa memicu kebencian bisa membantumu untuk menghindari hal tersebut dalam relasi. Jangan tunggu parah dulu baru ditanggulangi, justru dari sekarang kamu harus belajar untuk membangun kebiasaan sehat dalam hubungan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article