6 Tanda Kamu dan Pasangan Cocok Jadi Volunteer, Mengabdi Bersama!

- Kecocokan sosial dalam hubungan terlihat dari empati bersama terhadap korban kesusahan, termasuk kemampuan memahami penderitaan orang lain tanpa bersikap cuek.
- Pasangan yang serasi sebagai relawan tidak hanya bersedih, tetapi terdorong bertindak, aktif mencari atau memulai gerakan sosial, serta meluangkan waktu untuk membantu.
- Keduanya saling percaya saat terpisah demi misi kemanusiaan, mengutamakan kepedulian sesama di luar uang dan kenyamanan, serta menikmati kegiatan sosial bersama.
Agar hubungan bertahan lama, memuaskan, dan terasa nyambung kamu serta pasangan harus punya banyak kecocokan. Bukan sekadar ketertarikan di awal yang mudah memudar seiring waktu. Salah satu pengikat hubungan yang kuat adalah kecocokan dalam hal social compatibility.
Social compatibility sendiri bermakna keserasian sosial. Artinya, kalian punya pandangan serta ketertarikan yang mirip dalam bidang sosial kemanusiaan dan lingkungan. Salah satunya dengan menjadi volunter atau relawan bencana dan aksi sosial lainnya.
Kecocokan ini sifatnya tidak hanya sementara selagi kalian masih saling mencari perhatian. Namun, sudah menjadi dorongan hati kalian sejak belum berpacaran atau menikah. Kalian merupakan pasangan volunter yang serasi apabila memiliki sejumlah tanda berikut.
1. Empati tinggi terhadap orang-orang yang kesusahan

ilustrasi pasangan volunter (pexels.com/Julia M Cameron) Kalau cuma salah satu dari kalian yang hatinya mudah tersentuh melihat penderitaan orang lain, berarti kalian gak punya kecocokan dalam hal social compatibility. Namun, jika kalian sama-sama terdorong untuk selalu mengikuti berita bencana dan menanggapinya dengan penuh empati artinya sefrekuensi. Kalian bukan tipe orang yang sedikit-sedikit berpikir bodo amat.
Semua orang juga punya kesusahan masing-masing. Baik kalian sudah atau belum pernah mengalami musibah yang sama, hati seperti seketika terketuk. Kalian dapat membayangkan dan merasakan berada di posisi orang lain yang sedang menderita.
2. Sama-sama gak puas cuma ikut sedih, tapi harus ikut berbuat

ilustrasi percakapan pasangan (pexels.com/Vince Andrada) Lebih jauh lagi, kalian bukan tipe pasangan yang hanya duduk di depan televisi atau scrolling medsos buat update informasi terkini terkait bencana. Kalian dengan segera merasa terpanggil. Kamu dan pasangan ingin melakukan sesuatu buat orang-orang yang membutuhkan.
Sekecil apa pun peran itu, kalian akan merasa lebih puas apabila tidak tinggal diam. Kalian percaya bahwa dampak besar tercipta dari kesediaan tiap-tiap orang untuk berbuat. Bukan sekadar menunggu 1 atau 2 orang hebat tiba-tiba muncul menjadi penyelamat di tengah situasi darurat.
3. Gak ada yang ngajak jadi volunter, aktif cari atau bikin gerakan sendiri

ilustrasi pasangan peduli dunia (pexels.com/Mikhail Nilov) Kamu dan pasangan selalu senang serta bersemangat apabila diajak bergabung dalam kegiatan kemanusiaan atau pelestarian lingkungan. Kalian bukannya gak punya pekerjaan atau aktivitas lain. Akan tetapi, demi aksi sosial kalian siap berusaha untuk meluangkan waktu.
Jika pun sedang tidak ada orang atau lembaga yang mengajak kalian buat bergabung, dirimu serta pasangan juga tak tinggal diam. Tingginya semangat kalian buat aksi-aksi sosial membuat kalian secara aktif mencari jalan supaya bisa ikut menjadi volunter resmi. Andai lingkungan sekitar belum punya kesadaran tentang pentingnya bersama-sama turun tangan dalam kegiatan sosial, itu pun bukan halangan.
Malah kalian menjadikannya momentum buat memulai dari diri sendiri serta berusaha mengajak orang lain. Siapa tahu dengan begitu ada lebih banyak orang yang tertarik untuk menjadi bagian dari tim relawan. Saat kalian telah bertekad ambil bagian, seluruh rintangan menjadi tak berarti.
4. Tidak takut LDR-an atau gampang cemburu demi ikut aksi kemanusiaan

ilustrasi berfoto bersama (pexels.com/RDNE Stock project) Kamu dan pasangan tentu bakal senang sekali seandainya bisa berada dalam kegiatan sosial yang sama sebagai volunter. Namun, kalian paham bahwa itu tidak selalu bisa terjadi. Kalian gak boleh memaksakan diri kudu sepaket buat membantu di lokasi bencana.
Egois sekali apabila kamu dan pasangan seakan-akan tidak mau dipisahkan dalam situasi yang sedarurat itu. Makanya, kalian berkomitmen siap buat LDR-an kapan saja demi menjadi relawan. Pokoknya, siapa yang bisa gabung ya berangkat duluan.
Tidak masalah bagi kalian jika nantinya pasangan di sana dikelilingi relawan lawan jenis. Kalian sudah saling percaya satu sama lain. Pun kepentingan masyarakat luas lebih utama daripada sekadar cemburu-cemburuan gak jelas.
5. Berpandangan hidup gak bisa cuma mikir diri sendiri dan ngejar uang

ilustrasi pasangan volunter (pexels.com/cottonbro studio) Kalian tahu bahwa diri sendiri juga perlu dipikirkan. Bahkan dalam aksi penyelamatan atau membantu apa pun, kalian paham keselamatan diri mesti terlebih dahulu diprioritaskan. Akan tetapi, kamu serta pasangan satu prinsip dalam hal hidup juga harus punya ruang buat memikirkan sesama.
Tidak masalah kalian saling mengenal atau tidak dengan orang yang akan dibantu. Kalian bahkan menjadikan kesediaan buat melakukan aksi sosial sebagai salah satu indikator kekayaan. Yaitu, kaya hati.
Kalian gak suka konsep hidup yang terlalu egois atau cuma sibuk mencari uang. Ada waktunya buat kalian memikirkan diri sendiri dan bekerja keras untuk mengumpulkan tabungan. Akan tetapi, ada juga masanya kalian berbuat untuk sesama. Kalian tak menganggapnya sekadar buang-buang waktu, tenaga, uang, dan pikiran.
6. Lebih suka ikut kegiatan sosial daripada jalan-jalan dan rebahan doang

ilustrasi pasangan volunter (pexels.com/Antoni Shkraba) Bukannya kalian tidak butuh menyenangkan diri sendiri. Tentu dirimu dan pasangan juga sesekali jalan-jalan atau rebahan selagi libur. Namun, frekuensinya gak terlalu sering. Bila ada bencana atau kegiatan lain yang butuh dukungan volunter, kalian memilih untuk mengikutinya.
Itu bukan tanda kalian menomorduakan kenyamanan pribadi. Bagi kalian, bisa berpartisipasi dalam berbagai aksi sosial juga memberikan rasa yang sangat menyenangkan. Kalian merasa hidup menjadi lebih bermanfaat bersama penderitaan sesama yang terangkat.
Punya pasangan sebaiknya memang bisa saling mengimbangi. Bukan satu orang memiliki kepedulian tinggi pada sesama dan lingkungan. Satu lagi cuek serta menganggapnya gak penting. Kamu dan pasangan yang suka menjadi relawan juga akan mengajarkan nilai-nilai yang sama pada anak.






















