Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dari Hannah Al Rashid, Kita Belajar Arti Cinta yang Tak Membatasi

5 min read
Dari Hannah Al Rashid, Kita Belajar Arti Cinta yang Tak Membatasi
Podcast Sini, Sis! bertajuk Hannah & Nadine w/ Kartika Jahja get REAL about divorce and how we got through it (youtube.com/@sinisispod)
  • Hannah Al Rasyid membagikan pengalaman perceraian dan proses menyadari pentingnya tetap menjadi diri sendiri dalam hubungan.

  • Cinta yang sehat tetap membutuhkan batasan diri, kewaspadaan, serta kemandirian finansial untuk melindungi diri.

  • Hannah dan Nadine ingin merebut kembali narasi hidup mereka dan membuka ruang bagi perempuan untuk bercerita.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ada satu jenis mencintai yang jarang diajarkan, yaitu mencintai tanpa kehilangan diri sendiri dalam prosesnya. Banyak dari kita tumbuh dengan pemahaman bahwa cinta berarti memberi, mengalah, dan menyesuaikan diri sebanyak mungkin. Sampai kadang lupa bahwa versi diri yang terus menyusut demi orang lain juga butuh ruang untuk pulih dan kembali utuh.

Pemahaman ini belakangan jadi lebih nyata lewat obrolan jujur Hannah Al Rashid baru-baru ini membagikan proses itu lewat podcast Sini, Sis! bertajuk Hannah & Nadine w/ Kartika Jahja get REAL about divorce and how we got through it. Dalam percakapan itu, Hannah gak cuma membagikan ceritanya soal perceraian, namun juga menyentuh sesuatu yang lebih universal, yaitu bagaimana cinta seharusnya gak pernah menuntut kita untuk mengecilkan diri sendiri. Dari sinilah, muncul tiga pelajaran tentang cinta yang tak membatasi diri, yang rasanya relevan buat siapa saja, terlepas dari sudah atau belum pernah mengalami perpisahan.

  1. 1. Menyadari kapan diri sendiri mulai menghilang

    Hannah Al Rashid
    Hannah Al Rashid (instagram.com/hannahalrashid)

    Ada proses yang berjalan pelan-pelan, jauh sebelum seseorang benar-benar sadar bahwa ia sudah lama berhenti jadi dirinya sendiri di dalam suatu hubungan. Hannah menggambarkan ini lewat pengalamannya sendiri, bagaimana ia merasa ditahan. Bukan cuma oleh orang lain, tapi juga oleh perasaan dan proses emosionalnya sendiri.

    "Sometimes you are held hostage by other people, sometimes you held hostage by your own feelings and your own process," ungkap Hannah.

    Fenomena ini sebenarnya punya nama dalam psikologi, yaitu self-abandonment. Dilansir Positive Psychology oleh Laura Copley, PhD, LPC, Licensed Trauma Therapist, mengatakan bila pola ini biasanya gak terjadi dalam satu momen dramatis, namun terbentuk dari kebiasaan kecil mengabaikan kebutuhan dan batasan diri sendiri demi menjaga perasaan orang lain sampai akhirnya seseorang kehilangan koneksi dengan jati dirinya yang asli. Hannah pun mengalami titik balik itu saat ia sadar bahwa orang yang ia nikahi dulu sudah bukan lagi orang yang sama dan ia gak bisa lagi terus meredupkan diri demi ego orang lain.

    "The person I divorced is not the person I married, and I think I had a lot of anger in that realization and a lot of heartbreak in that realization," tuturnya.

    Dengan kata lain, cinta yang membatasi kerap menggerogoti tubuh kita secara perlahan. Membentuk kita menjadi sebuah entitas yang berbeda, yang bahkan sulit kita kenali. Pun, pelan-pelan, keputusan dalam hidup kita bukan lagi tentang apa yang kita inginkan, tetapi tentang apa yang bisa membuat hubungan tetap aman.

    Itu mengapa, cinta yang tak membatasi adalah cinta yang tetap membuat kita menjadi diri sendiri dan merasa aman. Cinta yang tak membatasi mungkin tidak selalu terasa seperti sesuatu yang besar. Kadang, ia justru terasa sederhana, seperti bisa menjadi diri sendiri tanpa terus-menerus takut kehilangan orang yang kita cintai.

  2. 2. Cinta yang sehat tetap butuh kesadaran untuk melindungi diri

    Hannah Al Rashid
    Hannah Al Rashid (instagram.com/hannahalrashid)

    Salah satu hal paling jujur yang Hannah sampaikan adalah soal pentingnya tetap waspada dalam hubungan. Bahkan, ketika kita merasa sudah cukup mapan dan mandiri secara finansial. Ada stereotip lama yang bilang perempuan selalu diuntungkan secara materi dalam hubungan, padahal kenyataannya bisa jauh lebih rumit dari itu.

    "Like Hollywood claimed, women are the gold diggers, men are ones with money, and that tell you that is not always the case," ujar Hannah.

    Dari sisi psikologi, ada alasan kuat kenapa kemandirian finansial jadi bentuk perlindungan diri yang penting dalam hubungan. Menurut Psychology Today, yang ditulis oleh Courtney Crisp Psy.D., clinician untuk Executive Mental Health, memiliki batasan yang jelas dan tingkat kemandirian finansial tertentu terbukti bisa mengurangi risiko seseorang mengalami manipulasi atau kontrol finansial dari pasangannya. Karena ketergantungan finansial sering kali justru jadi faktor yang membuat seseorang sulit keluar dari hubungan yang sudah gak sehat. Hannah sendiri menyesal gak lebih sadar soal hal ini lebih awal.

    "Sebagai perempuan yang punya karier dan financially independent, it's very important for you to protect yourself. Cause some people will take advantage of you," jelasnya.

    Cinta yang tak membatasi bukan hanya tentang memberi pasangan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri. Di dalamnya juga ada kesadaran bahwa kita tetap bertanggung jawab atas diri kita sendiri, termasuk soal finansial. Di situlah cinta yang tak membatasi menjadi lebih bermakna. Kita tak membatasi pasangan, tetapi kita juga tidak membiarkan diri sendiri kehilangan batas, identitas, atau kemandirian.

  3. 3. Merebut kembali narasi diri sendiri

    Podcast Sini, Sis! bertajuk Hannah & Nadine w/ Kartika Jahja get REAL about divorce and how we got through it
    Podcast Sini, Sis! bertajuk Hannah & Nadine w/ Kartika Jahja get REAL about divorce and how we got through it (youtube.com/@sinisispod)

    Dalam closing Podcast tersebut, Hannah dan Nadine membeberkan alasan mereka membuat podcast ini sebenarnya sederhana, yaitu keinginan untuk merebut kembali narasi hidup mereka sendiri. Selama ini, banyak hal dalam hubungan dan perpisahan yang terlanjur dianggap tabu untuk dibicarakan terbuka hingga perempuan yang justru paling banyak diam soal pengalamannya sendiri, padahal merekalah yang paling berhak bercerita.

    Cinta yang tak membatasi diri pada akhirnya bukan cuma soal bagaimana kita memperlakukan orang lain. Namun, juga soal keberanian untuk tetap utuh saat mencintai, melindungi diri saat dibutuhkan, dan bersuara saat selama ini dipaksa diam.

    Dari situ, kisah Hannah terasa jadi pengingat bahwa mencintai diri sendiri cukup untuk berani jujur adalah bentuk cinta yang paling mendasar sebelum mencintai siapa pun yang lain. Semoga kita senantiasa menerima cinta yang besar dan tulus.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More