Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Review Buku Until August, Perselingkuhan di Pernikahan Harmonis
ilustrasi novel Until August (dokumentasi pribadi/Marliana Kuswanti)
  • Until August, novel terakhir Gabriel García Márquez yang diterbitkan pascawafatnya, mengikuti Ana Magdalena yang menjalani hubungan satu malam saat berziarah ke makam ibunya.
  • Pernikahan Ana tampak harmonis: ia dan suami saling mencintai, tidak bertengkar, serta tetap intim, tetapi keduanya mengalami ketidaksetiaan dalam bentuk berbeda.
  • Kisah ini menggambarkan perselingkuhan tetap memengaruhi hubungan dan memicu kehampaan, kecurigaan, serta konflik batin, meski dilakukan dalam pernikahan yang terlihat baik-baik saja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Until August atau Sampai Agustus adalah novel terakhir dari penulis ternama Gabriel García Márquez. Gabriel berjuang menulis naskah novel tersebut dalam kondisi mulai mengalami kehilangan ingatan. Ia sendiri menganggap naskah itu tidak cukup bagus dan lebih baik dihancurkan.

Namun, anak-anaknya mengamankan naskah tersebut hingga bertahun-tahun pascawafatnya sang penulis. Seandainya mereka tidak berinisiatif untuk menerbitkan naskah ayahnya, tentu saat ini masyarakat di berbagai negara tak akan dapat membaca karya ini. Novel ini mengisahkan cinta satu malam Ana Magdalena dengan pria-pria yang berbeda setiap ia berziarah ke pulau tempat ibunya dimakamkan.

Padahal, rumah tangganya terlihat sempurna. Baik Ana maupun suaminya saling mencintai. Apa yang dapat dipelajari pembaca dari kisah tentang pernikahan harmonis yang ternyata juga tak terbebas dari perselingkuhan yang ada di dalam buku Until August ini?

1. Perselingkuhan diam-diam vs open marriage

ilustrasi pasangan (pexels.com/Gary Barnes)

Ana Magdalena menjalin cinta terlarang tanpa sepengetahuan suaminya. Namun, suaminya justru mendapat izin dari Ana Magdalena untuk menjalin hubungan dengan perempuan lain. Dengan catatan, perempuan itu bukan orang yang dikenal oleh Ana.

Artinya, ada dua model ketidaksetiaan di sini. Pertama, perselingkuhan tanpa sepengetahuan pasangan seperti yang dilakukan Ana. Kedua, konsep relasi yang belakangan kerap dibicarakan yaitu open marriage, seperti yang disepakati Ana dengan suaminya.

Apa pun model perselingkuhannya, sulit untuk memastikan apakah yang terjadi di antara Ana dan suaminya dengan pasangan selingkuh masing-masing melibatkan perasaan atau sebatas hubungan seks. Bagaimanapun juga, tindakan manusia tidak dimotivasi hanya oleh dorongan tunggal. Seperti hawa nafsu saja tanpa emosi-emosi lainnya atau sebaliknya.

2. Bukan berhenti mencintai, tapi keinginan sensasi berbeda

ilustrasi berpelukan (pexels.com/Wolrider YURTSEVEN)

Perbuatan serong baik yang dilakukan oleh Ana Magdalena maupun suaminya tidak dilatarbelakangi oleh keretakan rumah tangga. Perkawinan mereka baik-baik saja. Baik Ana maupun suaminya saling memuja.

Dalam kondisi seperti ini, perselingkuhan kemungkinan semata-mata didorong oleh keinginan untuk mendapatkan sensasi yang berbeda. Walau tidak disadari apalagi diakui, boleh jadi dalam rumah tangga yang adem ayem sebenarnya justru ada kejenuhan. Apalagi setelah perkawinan berjalan puluhan tahun.

Hubungan seks yang masih rutin dan lancarnya komunikasi tak menghalangi keinginan buat merasakan sesuatu yang berbeda bersama orang lain. Baik hubungan intim maupun percakapan dengan pasangan resmi dapat terasa otomatis. Seperti rutinitas sepanjang hari kerja yang perlu diselingi hiburan pada akhir pekan.

3. Hati bukan batu, lama-lama hubungan tetap terpengaruh

ilustrasi pasangan (pexels.com/Vitaly Gariev)

Bahkan dalam fenomena open marriage, ketika perselingkuhan direstui oleh pasangannya, lambat laun tetap dapat menimbulkan luka. Apalagi saat hubungan gelap itu bertahan lama selayaknya kekasih sungguhan. Itu pula yang terjadi pada Ana Magdalena.

Meski dirinya juga bertualang asmara satu malam bersama pria-pria asing, pada akhirnya hal itu tidak mencegahnya merasa hampa. Hubungannya dengan suami tetap terpengaruh. Demikian pula suaminya ketika mulai mengendus aroma perselingkuhan Ana Magdalena.

Ini sebabnya menjaga perkawinan agar tetap suci dari perselingkuhan sangat penting. Apalagi perselingkuhan hingga berhubungan badan. Manusiawi apabila suami istri tersebut bertemu di rumah atau berada dalam satu kamar, akan muncul perasaan jijik dan asing.

4. Tidak ada pertengkaran bukan jaminan keamanan rumah tangga

ilustrasi pasangan lansia (pexels.com/Yaroslav Shuraev)

Ana Magdalena dan suaminya juga tidak bertengkar. Mereka bersama-sama membesarkan anak. Bahkan hubungan seks mereka selalu penuh gairah. Namun, itu semuanya ternyata tidak cukup untuk membebaskan masing-masing dari perbuatan serong.

Ada serigala dalam diri manusia. Ketika terdapat cukup banyak alasan untuk seseorang berselingkuh, serigala berupa hawa nafsu itu seperti berdiri di atas angin. Contohnya, LDR dan sikap pasangan yang dingin.

Namun, hawa nafsu tak lantas tidak ada hanya karena rumah tangga berjalan baik-baik saja selama bertahun-tahun. Faktor kebosanan yang diam-diam dirasakan plus adanya kesempatan dapat membuat orang melakukan perselingkuhan tersebut. Meski ia tahu bahwa rasanya itu tidak masuk akal.

5. Beban rasa bersalah cenderung lebih besar

ilustrasi pasangan (pexels.com/HONG SON)

Bila rumah tangga sudah terlebih dahulu bermasalah, orang yang berselingkuh merasa memiliki pembenaran. Misalnya, pasangannya sangat kasar sehingga ia selalu tertekan saat di rumah. Ketika di luar rumah dia bertemu orang lain yang memperlakukannya dengan sangat baik, hati pun mudah luluh.

Rasa bersalah mungkin tetap ada. Bagaimanapun juga, perselingkuhan tersebut sudah menodai kesucian janji pernikahan. Akan tetapi, beban mental serta moral bagi pelakunya tidak terlalu besar. Berbeda dengan ketika pernikahan berjalan cukup baik.

Bahkan pasangan suami istri dinilai sangat serasi serta menjadi pasangan idola buat orang-orang di sekitarnya. Anak-anaknya pun tidak pernah membayangkan orangtua bakal ketahuan berselingkuh suatu saat nanti. Cepat atau lambat, pelaku perselingkuhan akan sangat tertekan oleh perbuatannya sendiri. Seperti Ana Magdalena yang mengalami konflik batin serius.

Buku Until August sangat layak menjadi bacaan penikmat karya sastra dunia. Kisah di dalamnya boleh jadi cerminan banyak rumah tangga. Tidak ada pernikahan yang bebas dari ujian. Bahkan dalam perkawinan yang kelihatannya sangat sempurna serta jauh dari masalah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article