Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Kerja dari Rumah Tidak Otomatis Mencegah Burnout?

Kenapa Kerja dari Rumah Tidak Otomatis Mencegah Burnout?
ilustrasi bekerja dari rumah (pexels.com/Christina Morillo)
  • WFH tidak otomatis mencegah burnout karena batas kerja dan kehidupan pribadi bisa kabur.

  • Kurangnya interaksi sosial dan terlalu banyak waktu di depan layar dapat meningkatkan kelelahan.

  • Fleksibilitas WFH juga bisa membuat jam kerja lebih panjang tanpa waktu pemulihan yang cukup.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bekerja dari rumah atau work from home (WFH) sering dianggap sebagai salah satu cara untuk mengurangi stres. Tidak perlu menghadapi kemacetan, kamu bisa bekerja sambil mengenakan pakaian yang nyaman hingga punya lebih banyak waktu untuk keluarga. Sekilas, bekerja dari rumah memang terdengar jauh lebih santai dibandingkan harus pergi ke kantor setiap hari.

Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Bekerja dari rumah ternyata tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari burnout. Dalam kondisi tertentu, WFH justru bisa membuat seseorang lebih rentan mengalami kelelahan emosional akibat pekerjaan.

Masalahnya bukan semata-mata pada lokasi kita bekerja, melainkan bagaimana batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, hubungan sosial, penggunaan teknologi, serta waktu istirahat dikelola. Lantas, kenapa bekerja dari rumah tetap bisa membuat kita burnout? Mari, kita bahas bersama!

  1. 1. Batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur

    ilustrasi bekerja
    ilustrasi bekerja (pexels.com/Vitaly Gariev)

    Salah satu masalah terbesar saat bekerja dari rumah ialah sulitnya memisahkan waktu kerja dan waktu pribadi. Ketika meja makan bisa berubah menjadi meja kerja dan laptop berada hanya beberapa langkah dari tempat tidur, kita tidak memiliki batas fisik yang jelas antara kantor dan rumah. Akibatnya, otak pun bisa kesulitan mendapatkan sinyal bahwa pekerjaan sudah selesai.

    Di kantor, perjalanan pulang biasanya menjadi semacam masa transisi. Begitu keluar dari gedung, kita perlahan meninggalkan urusan pekerjaan. Saat WFH, transisi tersebut hampir tidak ada. 

    Notifikasi pekerjaan yang masuk pada malam hari juga bisa membuat kita merasa harus selalu siap merespons. Lama-kelamaan, muncul perasaan seperti sedang bekerja sepanjang hari meski sebenarnya jam kerja sudah berakhir. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, waktu untuk benar-benar beristirahat menjadi semakin sedikit. Inilah yang kemudian dapat meningkatkan risiko burnout.

  2. 2. Lebih sedikit interaksi sosial dengan rekan kerja

    ilustrasi mengobrol dengan rekan kerja
    ilustrasi mengobrol dengan rekan kerja (pexels.com/fauxels)

    Bekerja dari rumah memang membuat kita lebih bebas dari obrolan kantor yang kadang mengganggu konsentrasi. Namun, interaksi kecil tersebut ternyata juga memiliki manfaat. Di kantor, seseorang mungkin bisa sekadar mengobrol dengan rekan kerja saat membuat kopi, bercanda sebentar, atau mencurahkan keluhan setelah menghadapi tugas yang sulit. Percakapan sederhana seperti ini dapat menjadi bentuk dukungan sosial.

    Saat bekerja secara remote, interaksi tersebut biasanya digantikan oleh pesan singkat, surel, atau rapat virtual. Masalahnya, komunikasi digital tidak selalu mampu memberikan rasa terhubung yang sama. Kurangnya interaksi juga bisa membuat pekerja merasa sendirian ketika menghadapi tekanan. Mereka mungkin tetap berkomunikasi dengan rekan kerja setiap hari, tetapi belum tentu merasa benar-benar mendapatkan dukungan. Padahal, merasa dihargai, didengarkan, dan terhubung dengan orang lain merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan psikologis di tempat kerja.

  3. 3. WFH membuat karyawan lebih banyak menatap layar

    ilustrasi bekerja dari rumah
    ilustrasi bekerja dari rumah (unsplash.com/Windows)

    Salah satu anggapan tentang bekerja dari rumah ialah kita bisa bekerja dengan lebih santai. Kenyataannya, WFH justru sering membuat waktu di depan layar bertambah. Rapat yang sebelumnya dilakukan secara langsung kini bisa berubah menjadi beberapa pertemuan virtual dalam sehari. Belum lagi, ada pesan dari berbagai aplikasi, surel, dokumen digital, dan pekerjaan yang harus dilakukan melalui komputer.

    Terlalu banyak rapat virtual juga dapat menyebabkan apa yang sering disebut sebagai kelelahan Zoom. Kita harus terus memperhatikan layar, mendengarkan pembicaraan, membaca ekspresi orang lain, bahkan kadang memikirkan bagaimana penampilan kita di depan kamera. Semua aktivitas tersebut membutuhkan energi mental.

    Belum lagi, karyawan harus berpindah-pindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain sambil mengerjakan beberapa tugas sekaligus. Bukannya membuat pekerjaan lebih praktis, kondisi ini justru bisa membuat otak lebih cepat lelah. Terlalu banyak informasi yang masuk dalam waktu bersamaan membuat otak harus terus bekerja untuk memprosesnya.

  4. 4. Fleksibilitas justru bisa membuat jam kerja semakin panjang

    ilustrasi perempuan sedang bekerja dari rumah
    ilustrasi perempuan sedang bekerja dari rumah (pexels.com/Monstera Production)

    Bekerja dari rumah memang memberikan fleksibilitas. Kita mungkin bisa menentukan kapan ingin menyelesaikan tugas tertentu atau mengambil waktu istirahat sejenak. Namun, fleksibilitas juga memiliki sisi lain. Karena tidak ada batas yang jelas antara rumah dan kantor, seseorang bisa tergoda untuk bekerja sedikit lebih lama. "Sebentar lagi selesai" bisa berubah menjadi bekerja sampai malam.

    Tidak perlu bepergian ke kantor juga berarti tidak ada perjalanan pulang yang secara alami mengakhiri hari kerja. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat bisa kembali diisi dengan pekerjaan. Jika jam kerja terus bertambah tanpa diimbangi waktu pemulihan yang cukup, tubuh dan pikiran akhirnya tidak memiliki kesempatan untuk benar-benar mengisi ulang energi. Ini bukan hanya tentang berapa lama kita bekerja yang penting, tetapi juga apakah kita memiliki cukup waktu untuk pulih setelah bekerja.

  5. 5. Punya kendali atas pekerjaan saja belum cukup

    ilustrasi bekerja dari rumah
    ilustrasi bekerja dari rumah (pexels.com/Christina Morillo)

    Salah satu keuntungan WFH ialah meningkatnya otonomi. Kita mungkin memiliki lebih banyak kebebasan dalam menentukan tempat dan cara bekerja. Namun, kebebasan tersebut tidak selalu berarti stres menjadi lebih rendah. Otonomi justru bisa menjadi masalah ketika tidak dibarengi dukungan yang cukup dari perusahaan. Sebagai contoh, pekerja diberikan kebebasan bekerja dari mana saja, tetapi tetap dituntut selalu tersedia dan merespons pesan kapan pun.

    Pekerja remote juga kadang merasa kontribusi seseorang tidak terlihat oleh atasan karena jarang berinteraksi secara langsung. Jika berlangsung lama, kondisi ini bisa memengaruhi motivasi dan membuat seseorang merasa pekerjaannya kurang dihargai. Artinya, bekerja dari rumah bukan hanya soal memberikan kebebasan kepada karyawan. Mereka juga membutuhkan ekspektasi kerja yang jelas, komunikasi yang sehat, dukungan dari atasan, dan kesempatan untuk tetap terhubung dengan rekan kerja.

    Pada akhirnya, bekerja dari rumah bukan tentang bekerja lebih sedikit atau lebih santai. Yang lebih penting ialah apakah kita masih memiliki batas antara bekerja, beristirahat, dan menjalani kehidupan di luar pekerjaan. Sebab, ketika rumah berubah menjadi kantor tanpa batas waktu, tempat yang seharusnya menjadi ruang untuk beristirahat justru bisa terasa seperti tempat kerja 24 jam.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More