Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Bekerja dengan Gen Z

Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Bekerja dengan Gen Z
ilustrasi kerja sama team (pexels.com/hillaryfox)
Share Article

Gen Z mulai memenuhi dunia kerja dengan membawa cara pandang, kebiasaan, dan ekspektasi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka tumbuh sebagai digital native yang terbiasa dengan internet, smartphone, dan akses informasi secara cepat. Namun, memahami Gen Z di tempat kerja gak cukup hanya dengan melihat kedekatan mereka dengan teknologi.

Bagi perusahaan, mengenali cara Gen Z berkomunikasi, bekerja, dan melihat perkembangan karier bisa membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih sesuai. Mereka juga punya berbagai potensi yang bisa menjadi nilai tambah jika dikelola dengan cara yang tepat. Nah, sebelum mulai bekerja bersama Gen Z, berikut beberapa hal yang perlu kamu ketahui.

  1. 1. Mereka ingin memahami tujuan dari pekerjaan

    ilustrasi berkomunikasi dengan rekan kerja (pexels.com/fauxels)
    ilustrasi berkomunikasi dengan rekan kerja (pexels.com/fauxels)

    Gen Z gak selalu ingin mengerjakan tugas hanya karena itu merupakan bagian dari tanggung jawabnya. Mereka cenderung ingin mengetahui alasan di balik sebuah pekerjaan dan bagaimana tugas tersebut berkontribusi terhadap tujuan perusahaan. Karena itu, menjelaskan konteks dan dampak pekerjaan bisa membuat mereka lebih memahami peran yang sedang dijalankan.

    Menurut Jim Link, Chief Human Resources Officer Randstad North America, Gen Z perlu melihat hubungan antara pekerjaan sehari-hari dan manfaat jangka panjang bagi perusahaan. Mereka ingin mengetahui bahwa usaha yang dilakukan benar-benar memberikan kontribusi terhadap hasil akhir organisasi. Jadi, jangan hanya memberikan instruksi, tetapi jelaskan juga kenapa pekerjaan tersebut penting.

    “Mereka harus mampu menghubungkan berbagai hal antara tugas sehari-hari yang mereka kerjakan dengan manfaat jangka panjang bagi perusahaan, biasanya dalam bentuk kontribusi terhadap hasil akhir perusahaan,” ujar Jim Link, Chief Human Resources Officer Randstad North America, dikutip dari Business Insider.

  2. 2. Komunikasi tatap muka tetap penting bagi mereka

    ilustrasi kerja sama team (pexels.com/hillaryfox)
    ilustrasi kerja sama team (pexels.com/hillaryfox)

    Meski tumbuh bersama teknologi digital, Gen Z gak selalu ingin berkomunikasi lewat chat atau email. Mereka tetap menghargai percakapan langsung, terutama saat membutuhkan arahan, mentoring, atau membahas hal yang lebih personal. Interaksi tatap muka juga bisa membuat hubungan antara karyawan dan atasan terasa lebih dekat.

    Dan Schawbel, pendiri Millennial Branding, dikutip dari Business Insider, menjelaskan bahwa Gen Z lebih mementingkan pekerjaan dan orang-orang yang bekerja bersama mereka daripada sekadar ruang kantor. Sementara itu, Jim Link menilai mentoring, coaching, dan arahan secara langsung akan semakin penting bagi generasi ini. Inilah pentingnya perusahaan tetap perlu memberi ruang untuk komunikasi tatap muka di tengah kebiasaan digital Gen Z.

  3. 3. Berikan fleksibilitas dalam cara mereka bekerja

    ilustrasi berjabat tangan dengan rekan kerja (pexels.com/fauxels)
    ilustrasi berjabat tangan dengan rekan kerja (pexels.com/fauxels)

    Gen Z gak selalu menganggap kantor sebagai satu-satunya tempat untuk bekerja. Terbiasa dengan teknologi membuat mereka lebih terbuka pada sistem kerja yang memungkinkan pekerjaan dilakukan dari lokasi lain agar lebih efektif. Bagi mereka, yang penting bukan sekadar berada di kantor, tetapi bisa bekerja bersama orang-orang yang tepat.

    Dan Schawbel menyebut Gen Z lebih mementingkan pekerjaan dan orang-orang yang bekerja bersama mereka daripada ruang kantor. Fleksibilitas juga memberi mereka kesempatan menyesuaikan cara kerja tanpa mengabaikan tanggung jawab terhadap hasil. Karena itu, perusahaan bisa menerapkan pola kerja yang lebih fleksibel selama target dan kualitas pekerjaan tetap terjaga.

    “Ini bukan lagi tentang ruang kantor perusahaan, melainkan lebih tentang pekerjaan yang mereka lakukan dan orang-orang yang bekerja bersama mereka,” ujar Dan Schawbel.

  4. 4. Jangan menganggap mereka masih anak-anak

    ilustrasi bekerja di kantor (pexels.com/fauxels)
    ilustrasi bekerja di kantor (pexels.com/fauxels)

    Sebagai generasi termuda di dunia kerja, Gen Z sering dianggap masih minim pengalaman. Padahal, sebagian sudah punya pengalaman magang, bekerja saat kuliah, atau kegiatan lain yang mengasah kemampuan profesional. Menganggap mereka terlalu muda justru bisa membuat perusahaan melewatkan ide dan potensi mereka.

    Jangan pula menganggap Gen Z selalu membutuhkan kontrol dari karyawan yang lebih senior. Mereka memang masih membutuhkan arahan, tetapi tetap perlu diberi ruang untuk mengambil keputusan dan menunjukkan kemampuan. Dengan memberikan kesempatan tersebut, perusahaan bisa lebih mudah melihat potensi dan gagasan yang mereka bawa.

  5. 5. Mereka punya ambisi besar, tetapi tetap perlu batasan

    ilustrasi diskusi di kantor (pexels.com/canvastudio)
    ilustrasi diskusi di kantor (pexels.com/canvastudio)

    Gen Z dikenal ambisius dan gak keberatan mencurahkan waktu serta usaha untuk mencapai tujuannya. Mereka juga cenderung membangun jalur karier lebih awal dengan mencari pengalaman di bidang yang diminati. Jika diarahkan dengan baik, ambisi ini bisa menjadi kekuatan di tempat kerja.

    Namun, dorongan untuk terus berprestasi juga bisa membuat mereka bekerja terlalu keras hingga mengalami burnout. Karena masih baru di dunia kerja, mereka terkadang belum tahu cara mengatur beban dan intensitas kerja. Dukungan atasan diperlukan agar ambisi mereka tetap berkembang tanpa mengabaikan batas kemampuan diri.

  6. 6. Kejujuran pemimpin sangat menentukan kepercayaan mereka

    ilustrasi kelompok diskusi di kantor (pexels.com/fauxels)
    ilustrasi kelompok diskusi di kantor (pexels.com/fauxels)

    Gen Z ingin bekerja dengan pemimpin yang terbuka dan berintegritas, bukan sekadar memiliki jabatan tinggi. Studi yang dikutip Business Insider menunjukkan lebih dari separuh Gen Z menilai kejujuran sebagai kualitas terpenting seorang pemimpin. Mereka juga menginginkan pemimpin yang mampu memberikan visi organisasi dengan jelas.

    Jim Link mengatakan Gen Z memandang kepemimpinan sebagai kepercayaan yang perlu dijaga. Karena itu, manajer perlu menunjukkan kejujuran dan integritas untuk mendapatkan kepercayaan mereka. Keterbukaan juga dapat membuat Gen Z lebih mudah menerima arahan dan merasa yakin pada pemimpinnya.

    “Gen Z memandang kepemimpinan sebagai sebuah hak istimewa,” ujar Jim Link.

    Bekerja dengan Gen Z gak berarti perusahaan harus mengubah seluruh sistem kerja. Yang penting, pahami cara mereka berkomunikasi, bekerja, dan berkembang. Jika diarahkan dengan tepat, karakter adaptif dan ambisius Gen Z bisa jadi kekuatan di tempat kerja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More