Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Bijak Menggunakan Media Sosial agar Mental Tetap Sehat

5 Cara Bijak Menggunakan Media Sosial agar Mental Tetap Sehat
ilustrasi mengakses instagram (pexels.com/Mayara Caroline Mombelli)
  • Kurasi feed secara berkala dengan berhenti mengikuti akun yang memicu tekanan atau perbandingan hidup, agar informasi yang masuk lebih sehat bagi pikiran.
  • Tidak wajib mengikuti semua isu viral; ambil jeda saat kapasitas mental penuh, serta blokir, batasi, atau laporkan akun yang melakukan cyberbullying.
  • Pisahkan waktu online dari waktu pemulihan, terutama sebelum tidur dan setelah bangun, lalu periksa alasan mengunggah agar validasi tidak bergantung pada likes atau komentar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Scroll media sosial memang cuma butuh waktu beberapa menit, tetapi efeknya bisa kebawa sampai berjam-jam. Melihat pencapaian orang lain, membaca komentar pedas, atau terus-terusan terpapar kabar buruk bisa bikin pikiran ikut penuh. Tanpa sadar, kesehatan mental pun ikut terdampak hanya karena terlalu lama berada di dunia maya.

Bukan berarti kamu harus menghilang dari media sosial sepenuhnya. Kamu hanya perlu tahu kapan harus berhenti, apa yang layak dilihat, dan siapa yang pantas mendapat akses ke perhatianmu. Berikut ini beberapa cara bijak bermedsos yang bisa kamu terapkan sehari-hari.

  1. 1. Lakukan kurasi feeds secara berkala

    ilustrasi melakukan kurasi feeds instagram
    ilustrasi melakukan kurasi feeds instagram (pexels.com/cottonbro studio)

    Mungkin kamu sadar ada akun tertentu yang selalu bikin kamu membandingkan hidup sendiri dengan orang lain. Kamu gak iri pada orangnya, tetapi lelah melihat standar hidup yang terus muncul setiap hari. Rasa sesak itu bisa datang dari paparan kecil yang berulang, bukan satu unggahan saja.

    Karena itu, kurasi feeds bisa jadi bentuk kepedulian pada diri sendiri. Berhenti mengikuti akun yang memicu tekanan bukan berarti kamu kalah atau sensitif. Kamu hanya sedang memilih informasi yang layak mendapat ruang di kepalamu.

  2. 2. Jangan merasa wajib mengikuti semua isu

    ilustrasi menggunakan media sosial
    ilustrasi menggunakan media sosial (magnific.com/magnific)

    Satu isu viral bisa muncul dari pagi sampai malam, lengkap dengan komentar yang makin panas. Kamu mungkin awalnya cuma ingin tahu, tetapi akhirnya ikut membaca setiap perdebatan meski gak punya kaitan langsung. Tanpa sadar, energi mentalmu habis untuk sesuatu yang sebenarnya gak perlu kamu selesaikan.

    Kamu berhak melewatkan informasi tertentu ketika kapasitasmu sedang penuh. Menjauh sebentar dari topik yang melelahkan bukan berarti apatis terhadap keadaan. Justru, jeda membantu kamu kembali melihat informasi dengan kepala yang lebih jernih.

  3. 3. Segera blokir akun yang melakukan cyberbullying

    ilustrasi memblokir akun instagram
    ilustrasi memblokir akun instagram (pexels.com/ready made)

    Komentar yang merendahkan sering dianggap sepele karena cuma muncul di layar. Padahal, kalimat pendek dari orang asing tetap bisa mengganggu kepercayaan dirimu, terutama jika dibaca berulang. Kamu gak perlu membuktikan ketangguhan dengan terus membiarkan akses itu terbuka.

    Gunakan fitur blokir, batasi komentar, atau laporkan akun jika diperlukan. Melindungi diri dari cyberbullying bukan tindakan berlebihan, melainkan batas yang sehat. Media sosial seharusnya jadi ruang berbagi, bukan tempat orang lain bebas melukai kamu.

  4. 4. Pisahkan waktu online dari waktu untuk memulihkan diri

    ilustrasi perempuan duduk rileks di sofa
    ilustrasi perempuan duduk rileks di sofa (magnific.com/lifeforstock)

    Bayangkan kamu baru selesai bekerja, lalu tangan otomatis membuka aplikasi sebelum sempat menarik napas. Tubuh memang sudah berhenti bekerja, tetapi otak langsung menerima berita, opini, promosi, dan kehidupan orang lain. Waktu istirahat akhirnya terasa seperti perpanjangan dari hari yang melelahkan.

    Coba buat momen tertentu tanpa media sosial, terutama sebelum tidur atau setelah bangun. Jeda seperti ini memberi otak kesempatan berpindah dari mode menerima informasi ke mode beristirahat dengan lebih tenang, tanpa tuntutan apa pun. Kamu jadi punya ruang untuk mengenali perasaan sendiri tanpa terus tertutup suara bising dari luar.

  5. 5. Periksa alasan sebelum mengunggah sesuatu

    ilustrasi perempuan berpikir
    ilustrasi perempuan berpikir (magnific.com/benzoix)

    Keinginan mengunggah sesuatu kadang muncul karena ingin mendapat validasi, bukan karena benar-benar ingin berbagi. Ketika respons yang datang gak sesuai harapan, suasana hati bisa ikut naik turun mengikuti jumlah likes dan komentar. Di titik ini, media sosial perlahan berubah dari sarana ekspresi menjadi pengukur harga diri.

    Sebelum mengunggah, coba tanyakan apakah kamu nyaman jika responsnya biasa saja. Kalau jawabannya belum, menunda unggahan bisa jadi pilihan yang lebih bijak. Kamu tetap boleh berbagi, tetapi jangan sampai penilaian orang lain menentukan nilai dirimu yang sebenarnya.

    Media sosial akan selalu menghadirkan banyak suara, tetapi kamu gak harus menerima semuanya. Menjaga kesehatan mental berarti berani menentukan apa yang boleh masuk, apa yang perlu dilewati, dan kapan kamu perlu berhenti sejenak. Bijak bermedsos bukan tentang menjauh dari dunia digital, melainkan tetap punya kendali atas dirimu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Agsa Tian
EditorAgsa Tian

Related Articles

See More