Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengenal Crush Recession, Saat Gen Z Enggan Punya Gebetan

Mengenal Crush Recession, Saat Gen Z Enggan Punya Gebetan
ilustrasi beberapa orang bermain handphone (pexels.com/mart-production)
Intinya Sih
  • Fenomena crush recession menggambarkan penurunan antusiasme Gen Z terhadap perasaan suka dan hubungan romantis karena dianggap rumit, melelahkan, serta dipengaruhi budaya hubungan kasual dan aplikasi kencan.
  • Media sosial membuat rasa suka terasa lebih berisiko karena privasi sulit dijaga, sehingga banyak Gen Z enggan menunjukkan ketertarikan agar terhindar dari perhatian publik atau rasa malu.
  • Tekanan ekonomi, banyaknya pilihan di aplikasi kencan, serta dampak pandemi membuat Gen Z lebih fokus pada kestabilan diri daripada menjalin hubungan romantis yang dianggap menambah beban emosional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Punya gebetan jadi salah satu bagian paling seru dalam kehidupan remaja dan dewasa muda. Rasanya bisa muncul dari hal-hal sederhana, seperti menunggu balasan pesan, diam-diam memperhatikan seseorang di kampus atau tempat kerja, hingga senyum-senyum sendiri saat nama mereka muncul di layar ponsel. Namun, pengalaman yang dulu terasa begitu umum itu kini mulai berkurang di kalangan gen Z.

Belakangan, muncul istilah crush recession atau "resesi gebetan" yang ramai dibahas di media sosial. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika semakin banyak anak muda yang tidak lagi antusias memiliki gebetan atau mengejar ketertarikan romantis. Bukan karena mereka tidak ingin dekat dengan orang lain, melainkan karena proses menuju hubungan dianggap semakin rumit dan menguras energi. Buat kamu yang penasaran, berikut ini penjelasan lebih tentang apa itu crush recession.

1. Crush recession menggambarkan menurunnya antusiasme untuk punya gebetan

ilustrasi pasangan duduk di taman
ilustrasi pasangan duduk di taman (pexels.com/budgeronbach)

Punya gebetan dulu sering dianggap sebagai salah satu pengalaman paling seru saat remaja atau dewasa muda. Namun, belakangan muncul istilah crush recession yang ramai dibahas di media sosial untuk menggambarkan menurunnya antusiasme anak muda terhadap perasaan suka dan ketertarikan romantis. Fenomena ini terutama banyak dikaitkan dengan gen Z.

Meski begitu, kondisi ini bukan berarti gen Z tidak lagi ingin menjalin hubungan. Para ahli menilai, mereka tetap mendambakan kedekatan emosional, tetapi merasa proses menuju hubungan kini lebih melelahkan dan penuh risiko. Kehadiran aplikasi kencan, situationship, hingga budaya hubungan kasual juga membuat pengalaman memiliki gebetan terasa berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

"Crush recession adalah konsep yang muncul di media sosial untuk menggambarkan penurunan antusiasme, spontanitas, dan optimisme seseorang terhadap perasaan berdebar atau kegembiraan yang biasanya muncul ketika memikirkan orang yang disukai atau ketertarikan romantic," ujar Dr. Alexandra Foglia, DMFT, Direktur Program Keluarga di All in Solutions, dikutip dari VICE.

2. Media sosial membuat perasaan suka terasa lebih berisiko

ilustrasi sekelompok orang berfokus pada handphone
ilustrasi sekelompok orang berfokus pada handphone (pexels.com/cottonbro)

Kalau dulu seseorang bisa menyimpan rasa sukanya diam-diam, situasinya kini berbeda. Kehadiran media sosial membuat kehidupan pribadi dan hubungan romantis lebih mudah menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Bahkan, ketertarikan yang masih dalam tahap awal pun bisa dengan cepat diketahui lingkungan sekitar.

Kondisi ini membuat sebagian gen Z merasa lebih berhati-hati saat menyukai seseorang. Mereka tidak hanya memikirkan kemungkinan ditolak, tetapi juga kemungkinan menjadi bahan obrolan teman-teman atau viral di media sosial. Akibatnya, memiliki gebetan tidak lagi terasa sebagai pengalaman pribadi yang aman.

"Dulu ketertarikan pada seseorang merupakan pengalaman yang bersifat pribadi. Namun sekarang, bahkan rasa suka yang kecil sekalipun bisa terasa terlihat oleh banyak orang, sehingga meningkatkan risiko rasa malu dan patah hati," ujar Julie Nguyen, pelatih kencan bersertifikat di Hily, dikutip dari Real Simple.

3. Tekanan ekonomi membuat romansa terasa seperti beban tambahan

ilustrasi pasangan berkonsultasi dengan profesional
ilustrasi pasangan berkonsultasi dengan profesional (pexels.com/shvetsproduction)

Gen Z saaat ini tumbuh di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan. Harga kebutuhan hidup meningkat, biaya pendidikan tidak murah, dan banyak anak muda harus memikirkan kestabilan finansial sejak usia dini. Dalam situasi seperti ini, hubungan romantis terkadang terasa seperti tanggung jawab tambahan yang membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya.

Bukan berarti cinta selalu membutuhkan pengeluaran besar, tetapi banyak orang merasa harus mempersiapkan diri secara finansial sebelum menjalin hubungan serius. Saat energi sudah habis untuk menghadapi tekanan hidup sehari-hari, urusan percintaan sering kali ditempatkan di urutan belakang. Akibatnya, keinginan untuk memiliki gebetan pun ikut menurun.

"Harus menghadapi ketidakstabilan finansial dan kondisi dunia yang tidak menentu, sambil menempatkan diri dalam posisi rentan untuk sebuah hubungan yang kemungkinan besar akan berakhir, terasa terlalu berat untuk dijalani sekaligus," ujar Brittany Woolford, PhD, psikolog berlisensi dan salah satu pendiri Authentic Connections Therapy and Wellness, dikutip dari Real Simple.

4. Terlalu banyak pilihan justru membuat orang sulit fokus

ilustrasi pria dan wanita membaca buku di perpus
ilustrasi pria dan wanita membaca buku di perpus (pexels.com/timamiroshnichenko)

Aplikasi kencan memang memudahkan orang bertemu calon pasangan baru. Dalam hitungan menit, seseorang bisa melihat ratusan bahkan ribuan profil yang tersedia. Namun, kemudahan tersebut ternyata juga membawa konsekuensi yang tidak selalu positif.

Ketika pilihan terasa tidak ada habisnya, seseorang menjadi lebih sulit memberikan perhatian penuh kepada satu orang. Muncul perasaan bahwa selalu ada pilihan lain yang mungkin lebih menarik di luar sana. Akibatnya, perasaan spesial yang biasanya menjadi ciri khas sebuah gebetan menjadi lebih sulit tumbuh dan bertahan.

5. Pandemik mengubah cara gen Z membangun hubungan

ilustrasi mahasiswa dalam kelas
ilustrasi mahasiswa dalam kelas (pexels.com/yankrukov)

Dikutip dari Real Simple, menurut Danna Bodenheimer, LCSW, DSW, seorang terapis, pandemik COVID-19 juga menjadi salah satu faktor mengapa crush recession ada. Masa pandemik terjadi ketika banyak gen Z sedang berada pada fase penting untuk belajar bersosialisasi, membangun pertemanan, dan menjalin hubungan romantis. Namun, interaksi tatap muka yang terbatas membuat pengalaman ini tidak berkembang seperti generasi sebelumnya.

“Kita belum pernah benar-benar mengalami sesuatu seperti ini yang mampu memutus pola organisasi sosial dan interaksi manusia dalam skala sebesar itu,” jelas Bodenheimer.

Selama bertahun-tahun, banyak anak muda terbiasa berinteraksi dari balik layar dan menghabiskan lebih banyak waktu sendirian. Pengalaman tersebut membuat sebagian orang merasa lebih nyaman menjaga jarak secara emosional. Gak heran, jika setelah pandemik berakhir sebagian gen Z masih membutuhkan waktu lebih lama untuk membuka diri terhadap hubungan romantis.

Jadi kalau kamu merasa makin jarang punya gebetan, ternyata bukan kamu saja yang mengalaminya. Bisa jadi kamu sedang merasakan salah satu dampak dari fenomena crush recession yang banyak dibicarakan gen Z saat ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto

Related Articles

See More