Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hal yang Dipelajari dari Mantan meski Hubungan Sudah Selesai
ilustrasi mantan (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Kebiasaan membandingkan harga per gram, mililiter, atau satuan membantu memilih produk lebih hemat, karena kemasan besar tidak selalu lebih murah.
  • Rutinitas keramas dua kali dapat dicoba saat membutuhkan pembersihan ekstra, tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi rambut dan kulit kepala agar tidak semakin kering.
  • Menyisihkan dana untuk tagihan mendatang, memberi jeda sebelum membalas saat marah, serta menjaga batasan tanpa memelihara dendam menjadi kebiasaan yang tetap berguna setelah hubungan berakhir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah melihat tren “the lessons stay, but they don’t” yang belakangan wara-wiri di media sosial? Tren ini menggambarkan bagaimana seseorang bisa meninggalkan banyak hal dalam hidup kita, bahkan setelah hubungan berakhir. Kadang, yang paling melekat justru kebiasaan kecil yang awalnya kita pelajari dari mantan, mulai dari cara berbelanja sampai mengatur uang. Dulu mungkin terasa sepele, tetapi setelah terbiasa melakukannya sendiri, kita baru sadar bahwa kebiasaan itu ternyata berguna.

Ada hal-hal yang baru kita ketahui karena sering menghabiskan waktu bersama seseorang. Mantan yang teliti saat belanja, misalnya, bisa membuat kita lebih cermat membandingkan harga. Begitu juga dengan kebiasaannya menyisihkan uang atau merawat diri dengan cara tertentu. Hubungannya mungkin sudah selesai, tetapi ada beberapa hal yang dipelajari dari mantan dan masih menjadi bagian dari keseharian kita.

1. Membandingkan harga per ukuran sebelum membeli sesuatu

ilustrasi belanja (pexels.com/Helena Lopes)

Kamu mungkin pernah menemani mantan membeli sabun cuci piring, sampo, atau deterjen, lalu dia sibuk membandingkan harga beberapa kemasan. Padahal, kamu sudah ingin mengambil produk berukuran besar karena menganggap isinya lebih banyak dan harganya pasti lebih hemat. Namun, mantanmu justru memeriksa harga dan jumlah isi setiap produk sebelum memutuskan untuk membeli. Dari kebiasaan itu, kamu belajar bahwa kemasan besar tidak selalu menawarkan harga yang lebih murah.

Sebagai contoh, sabun cuci piring ukuran 750 ml dijual Rp18 ribu, sedangkan ukuran 400 ml harganya Rp8.500. Jika dihitung per 100 ml, kemasan besar berharga Rp2.400, sementara kemasan kecil sekitar Rp2.125. Artinya, kemasan kecil lebih murah berdasarkan jumlah isinya, meskipun kamu perlu membeli ulang lebih cepat. Sekarang, kamu jadi terbiasa memeriksa harga per gram, mililiter, atau satuan sebelum memasukkan barang ke keranjang. Kebiasaan yang dulu kamu anggap terlalu teliti itu ternyata bisa membantu menghemat pengeluaran belanja bulanan.

2. Keramas dua kali agar rambut terasa lebih bersih

ilustrasi keramas (vecteezy.com/toonsteb2535)

Dulu, kamu mungkin heran melihat mantan selalu menggunakan sampo dua kali setiap kali keramas. Menurutnya, keramas pertama membantu mengangkat minyak dan kotoran, sedangkan keramas kedua bisa membersihkan sisa yang masih menempel. Kebiasaan itu akhirnya membuatmu penasaran dan mencoba melakukan hal yang sama, terutama setelah seharian beraktivitas di luar rumah.

Setelah mencobanya, kamu mulai memahami bahwa kebutuhan untuk keramas bisa berbeda tergantung pada kondisi kulit kepala, tingkat minyak, keringat, dan produk rambut yang digunakan. Namun, keramas dua kali bukan aturan wajib untuk semua orang. Jika rambutmu mudah kering atau kulit kepalamu sensitif, penggunaan sampo berulang justru bisa membuat rambut terasa semakin kering. Dari mantan, kamu jadi mengenal rutinitas perawatan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan, lalu belajar menyesuaikannya dengan kondisi rambut sendiri. Bahkan setelah hubungan berakhir, kebiasaan itu mungkin tetap kamu lakukan ketika merasa rambut membutuhkan pembersihan ekstra.

3. Menyisihkan uang untuk pengeluaran yang belum jatuh tempo

ilustrasi menyisihkan uang (unsplash.com/Alexander Grey)

Mantanmu mungkin punya kebiasaan menyiapkan uang untuk kebutuhan yang tanggal pembayarannya masih jauh, seperti pajak kendaraan, biaya mudik, hadiah ulang tahun keluarga, atau perpanjangan dokumen. Sementara itu, kamu terbiasa memikirkan pengeluaran tersebut ketika waktunya sudah dekat. Akibatnya, kamu harus mengambil uang dari anggaran bulanan atau mengurangi tabungan setiap kali ada kebutuhan besar yang datang bersamaan.

Setelah melihat caranya mengatur uang, kamu mulai mencoba menyisihkan dana secara rutin. Misalnya, jika total pengeluaran tahunan yang sudah diperkirakan mencapai Rp1,2 juta, kamu bisa menyiapkan Rp100 ribu setiap bulan. Uang tersebut disimpan terpisah agar tidak tercampur dengan anggaran makan, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari. Ketika tagihan datang, kamu tidak perlu langsung mengorbankan sebagian besar gaji untuk membayarnya. Berkat kebiasaan yang dikenalkan mantan, kamu jadi memahami bahwa pengeluaran yang tidak datang setiap bulan tetap perlu masuk dalam perencanaan keuangan.

4. Memberi jeda sebelum membalas pesan saat sedang marah

ilustrasi membalas chat (pexels.com/Roberto Hund)

Saat masih bersama, kamu dan mantan mungkin pernah bertengkar karena salah paham melalui pesan singkat. Kamu terbiasa langsung mengetik balasan panjang ketika kesal, sedangkan dia memilih menunggu sampai suasana lebih tenang sebelum melanjutkan percakapan. Awalnya, kamu mungkin menganggap caranya menyebalkan karena masalah terasa tidak segera selesai. Namun, setelah beberapa kali mengalami pertengkaran yang semakin panjang akibat balasan spontan, kamu mulai memahami alasan di balik kebiasaannya.

Sekarang, ketika menerima pesan yang membuatmu emosi, kamu mencoba berhenti sejenak sebelum menjawab. Kamu bisa menulis respons terlebih dahulu, membacanya ulang, lalu mengirimkannya setelah merasa lebih tenang. Cara ini membantumu membedakan antara hal yang benar-benar ingin disampaikan dan kata-kata yang muncul hanya karena sedang marah. Kamu tetap bisa menyampaikan keberatan atau membicarakan masalah secara tegas tanpa harus memperburuk situasi. Kebiasaan yang awalnya dipelajari saat menghadapi konflik dengan mantan itu ternyata berguna juga ketika berkomunikasi dengan teman, keluarga, atau rekan kerja.

5. Tidak menyimpan dendam terlalu lama kepada seseorang

ilustrasi dendam (pexels.com/Pixabay)

Hubungan yang berakhir dengan cara yang menyakitkan bisa membuatmu sulit melupakan perlakuan seseorang. Kamu mungkin pernah merasa bahwa orang yang sudah mengecewakanmu tidak pantas mendapat kesempatan atau bantuan lagi darimu. Namun, mantanmu pernah mengingatkan bahwa kamu tidak harus terus membawa kebencian ke mana-mana. Seiring waktu, kamu mulai memahami bahwa melepaskan dendam bukan berarti membenarkan perbuatan orang tersebut, melainkan berhenti membiarkan kejadian lama menguasai pikiranmu.

Pelajaran ini bukan berarti kamu harus memaafkan semua perlakuan buruk, kembali menjalin hubungan, atau terus menyediakan ruang bagi orang yang menyakitimu. Kamu tetap bisa menjaga jarak dan menetapkan batasan. Namun, jika situasinya memungkinkan, bersikap sopan tanpa memperpanjang permusuhan dapat membuat hidup lebih tenang. Kamu mungkin akan bertemu lagi dengan orang tersebut di lingkungan kerja atau lingkaran pertemanan yang sama, bahkan suatu saat berada dalam situasi ketika kamu perlu saling membantu. Kamu tidak harus kembali dekat untuk bersikap baik, dan kamu juga tidak perlu terus membenci seseorang hanya untuk membuktikan bahwa kamu sudah terluka.

Hubungan yang sudah selesai tidak selalu membuat semua hal yang pernah diajarkan mantan ikut hilang. Hal-hal yang dipelajari dari mantan kini menjadi bagian dari keseharianmu. Kalau mengikuti tren “the lessons stay, but they don’t”, kebiasaan apa yang kamu pelajari dari mantan dan masih kamu lakukan sampai sekarang?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article