Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Orang Terdekat Kadang Gak Suka Melihatmu Sukses?

4 min read
Kenapa Orang Terdekat Kadang Gak Suka Melihatmu Sukses?
ilustrasi teman-teman kantor (pexels.com/Kampus Production)

Kamu akan kecewa jika berharap orang-orang ikut gembira atas setiap kabar baik dalam hidupmu. Kesuksesan punya makna yang luas. Bukan sekadar sukses dalam pekerjaan.

Dirimu berhasil memperoleh beasiswa untuk berkuliah lagi, beli rumah kecil setelah bertahun-tahun tinggal di kos-kosan, punya usaha sampingan, dan sebagainya juga bentuk pencapaian. Idealnya memang orang terdekat seperti sahabat serta saudara ikut senang. Sayangnya, kadang faktanya malah kebalikannya.

Kamu seakan-akan mendadak dimusuhi olehnya. Ini tampak dari sikapnya yang berubah dingin, menjauhimu, bahkan mengatakan hal-hal negatif seputar pencapaianmu. Ada apa dengannya? Apakah ada yang salah dari raihan dalam hidupmu?

  1. 1. Merasa tersaingi

    pertemanan
    ilustrasi pertemanan (pexels.com/Arif Syuhada)

    Kamu barangkali bingung. Kenapa orang lain harus merasa tersaingi olehmu? Dirimu tidak merasa sedang mengajak siapa pun berlomba atau menjadikannya lawan. Selama ini kamu selalu fokus ke impian-impianmu sendiri.

    Apa yang diusahakan olehmu sama sekali tidak dimaksudkan buat mengalahkan siapa-siapa. Apalagi dia masih orang terdekatmu. Seharusnya kata kompetisi tak ada di antara kalian. Namun, itulah yang ada dalam benaknya.

    Ia mungkin menganggapmu sebagai kawan atau saudara biasa cuma saat posisi kalian benar-benar setara bahkan kamu sedikit di bawahnya. Begitu dirimu melejit dengan beragam pencapaian hidup, ia tak merasa aman sebagai teman atau saudara. Dirimu serta hasil kerja kerasmu dipandangnya tidak lebih dari ancaman.

  2. 2. Merasa dirinya lebih pantas untuk sukses

    pertemanan
    ilustrasi pertemanan (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Dari mana perasaan ini muncul? Tentu subjektif sekali dan kamu belum tentu setuju. Ia dapat merasa lebih pantas sukses karena tingkat pendidikannya lebih tinggi darimu. Atau, dia punya banyak privilese sejak kecil.

    Namun, justru dirimu yang dibesarkan dalam keluarga serba terbatas lebih berhasil. Bahkan sesimpel dia saudaramu yang lebih tua pun bisa dianggapnya sebagai hak untuknya lebih sukses daripada kamu. Padahal, buatmu kesuksesan bukan tentang semua itu.

    Kesuksesan adalah kombinasi kerja keras, kerja cerdas, kesempatan yang pas, serta keberuntungan. Semua orang pantas sukses baik dengan meratanya seluruh faktor keberhasilan di atas atau dominasi beberapa di antaranya saja. Bila pun ia seorang pemalas parah, dia tetap dapat merasa lebih berhak sukses darimu dengan alasan-alasan yang gak masuk akal.

  3. 3. Sikap orang-orang di sekitar yang mengistimewakanmu

    teman kerja
    ilustrasi teman kerja (pexels.com/Artem Podrez)

    Dia merasa kepanasan bukan murni karena keberhasilanmu. Boleh jadi ia sebenarnya kurang peduli dengan hal tersebut. Dia dengan akal sehatnya juga paham betul bahwa kamu sudah bekerja keras sehingga pantas memperolehnya.

    Hanya saja, sikap orang-orang di sekitar kalian yang membuatnya tidak nyaman. Mereka terlalu mengelu-elukanmu. Setiap kalian berkumpul, topiknya selalu tentang dirimu dan keberhasilanmu.

    Kamu juga gak minta menjadi pusat perhatian. Akan tetapi, reaksi orang-orang tetap membuatnya merasa dikesampingkan. Seakan-akan dia tidak ada apa-apanya darimu yang tengah memancarkan cahaya sangat terang. Dia bukan cuma bosan sebagai pendengar, tetapi mungkin juga merasa gak nyaman ketika sedikit banyak kalian dibandingkan.

  4. 4. Perasaan tertinggal dan sebenarnya marah ke diri sendiri

    pertemanan
    ilustrasi pertemanan (pexels.com/Muhammad Dzaki Zaidan)

    Cara pandang orang tentang siapa meninggalkan siapa memang bisa sangat rumit. Hidup sesungguhnya perjalanan individual sekalipun setiap orang tinggal di dunia dalam kelompok-kelompok. Ada kelompok yang terbentuk karena hubungan keluarga, pekerjaan, tempat tinggal, dan sebagainya.

    Antara satu orang dengan orang lainnya juga menempuh rute masing-masing. Tujuan kalian lain. Kelokan, tanjakan, serta lubang yang mesti dilalui pun berbeda. Wajar apabila ketika jalanmu sedang lurus dan mulus, jalan orang lain boleh jadi lagi terjal-terjalnya.

    Begitu pula sebaliknya, kadang kamu yang masih harus bersusah payah ketika orang lain mulai menikmati hasil kerjanya. Akan tetapi, gak semua orang dapat melihat hal-hal di atas dengan sejernih itu. Dalam benaknya cuma ada perasaan tertinggal setiap kali tersiar kabar kesuksesan orang lain. Lalu muncul rasa marah pada diri sendiri yang dinilai payah, tapi ekspresinya diarahkan padamu.

  5. 5. Mungkin ada perubahan dalam caramu membawa diri

    teman-teman
    ilustrasi teman-teman (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Kamu memang tidak harus menyenangkan semua orang. Akan tetapi, jika dirimu ingin meminimalkan rasa tak suka orang saat kamu sukses dalam sesuatu perhatikan betul caramu membawa diri. Jangan sampai ada kesan kamu meninggikan diri di hadapan orang lain.

    Bila mungkin malah mereka tak perlu tahu pencapaianmu baru-baru ini. Atau, kamu tetap memublikasikannya tetapi benar-benar hanya di media sosialmu. Bukan lantas dirimu menyebutnya dalam percakapanmu dengan siapa pun.

    Andai ada orang yang memberimu ucapan selamat dan bertanya-tanya seputar kesuksesanmu, tanggapi dengan rendah hati. Lebih sedikit dirimu bicara lebih baik. Tidak semua orang yang ikut mendengarnya dapat merasa nyaman.

    Satu hal yang wajib digarisbawahi ialah ketidaksukaan orang atas kesuksesanmu jangan sampai menurunkan semangatmu. Kamu harus tetap berusaha menjadi makin hebat dari waktu ke waktu. Asal dirimu sudah berusaha menjaga sikap, kalaupun masih ada orang yang kurang suka bukan lagi tanggung jawabmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More