Gen Z Makin Enggan Menikah, Benarkah Bisa Mengancam Masa Depan?

- Survei di Amerika Serikat menunjukkan pernikahan makin bukan prioritas Gen Z; banyak yang mendahulukan kestabilan finansial, karier, kebahagiaan, dan kesiapan emosional.
- Minat menikah menurun, sementara keterhubungan sosial mendalam juga menjadi tantangan. Namun, kualitas hubungan dengan pasangan, keluarga, teman, atau komunitas lebih menentukan daripada status pernikahan.
- Pernikahan dapat mendukung pembagian biaya dan perencanaan finansial, tetapi bukan jaminan kaya. Perbedaan nilai gender, kemandirian perempuan, serta kesiapan pribadi turut mendorong penundaan pernikahan.
Menikah selama ini sering dianggap sebagai salah satu pencapaian penting dalam hidup, bersama dengan menyelesaikan pendidikan, memiliki rumah, dan membangun karier. Namun, pandangan tersebut mulai berubah di kalangan Gen Z yang semakin memprioritaskan kestabilan finansial, kebahagiaan, dan kebebasan menjalani hidup. Sebagian anak muda bahkan merasa bahwa menikah bukan lagi keharusan untuk mencapai kehidupan yang sukses.
Fenomena ini terlihat di Amerika Serikat, tempat semakin sedikit anak muda yang menganggap pernikahan sebagai bagian penting dari American Dream atau impian hidup ideal. Meski begitu, keputusan untuk menunda atau tidak menikah ternyata memiliki sejumlah konsekuensi yang perlu dipertimbangkan. Lantas, apakah kecenderungan Gen Z yang makin enggan menikah benar-benar bisa mengancam masa depan?
1. Pernikahan mulai kalah penting dari kestabilan finansial

ilustrasi gaji (vecteezy.com/nuttawan jayawan) Bagi sebagian Gen Z, memiliki penghasilan stabil, rumah sendiri, dan kehidupan yang bahagia terasa lebih penting daripada buru-buru menikah. Pandangan ini terlihat dalam survei CNBC dan SurveyMonkey American Dream Pulse yang melibatkan 4.130 responden di Amerika Serikat. Hasilnya, hanya 37 persen responden Gen Z yang menganggap pernikahan sebagai bagian penting untuk mencapai American Dream. Angka tersebut menunjukkan bahwa pernikahan bukan lagi jadi prioritas utama bagi banyak anak muda di sana.
Perubahan pandangan ini juga terlihat dalam data Pew Research Center mengenai siswa kelas 12 di Amerika Serikat. Pada 2023, sekitar 67 persen responden mengatakan kemungkinan besar mereka akan menikah suatu hari nanti, turun dari 80 persen pada 1993. Artinya, keinginan untuk menikah di kalangan anak muda mengalami penurunan dibandingkan tiga dekade sebelumnya. Meski begitu, angka tersebut bukan berarti seluruh Gen Z menolak pernikahan karena banyak dari mereka mungkin hanya ingin menunggu sampai merasa siap secara emosional dan finansial.
2. Kesepian bisa menjadi tantangan di masa depan

ilustrasi duduk sendiri di sofa, kesepian, sendirian (unsplash.com/James Forbes) Keputusan untuk gak menikah memang gak otomatis membuat seseorang kesepian. Kamu tetap bisa memiliki kehidupan sosial yang menyenangkan melalui pertemanan, keluarga, komunitas, dan berbagai aktivitas yang disukai. Namun, kesempatan membangun hubungan romantis yang mendalam bisa semakin terbatas apabila interaksi sosial sehari-hari ikut berkurang. Hal inilah yang menjadi salah satu kekhawatiran ketika semakin banyak anak muda merasa kesulitan membangun koneksi dengan orang lain.
Survei Institute of Politics di Harvard Kennedy School yang diterbitkan pada April 2025 menemukan bahwa hanya 17 persen orang dewasa Amerika Serikat berusia di bawah 30 tahun merasa memiliki keterhubungan yang mendalam dengan setidaknya satu komunitas. Kondisi ini menunjukkan bahwa membangun hubungan sosial yang bermakna menjadi tantangan bagi sebagian anak muda. Psikolog dan pakar hubungan John Gottman juga menyoroti pentingnya memiliki hubungan yang penuh kasih dan saling mendukung bagi kesejahteraan seseorang. Meski demikian, kualitas hubungan tetap lebih penting daripada status pernikahan semata karena seseorang bisa merasa kesepian meskipun sudah menikah.
3. Ada keuntungan finansial yang berpotensi terlewatkan

Ilustrasi finansial yang buruk (freepik.com/EyeEm) Menikah memang gak menjamin seseorang akan kaya, tapi mengelola keuangan bersama pasangan yang tepat bisa memberikan keuntungan tersendiri. Misalnya, kamu dan pasangan bisa berbagi biaya tempat tinggal, kebutuhan rumah tangga, serta berbagai pengeluaran rutin lainnya. Penghasilan gabungan juga berpotensi membantu kalian mencapai tujuan finansial bersama, seperti membeli rumah atau menyiapkan dana pensiun.
Sebaliknya, menjalani hidup sendiri berarti kamu perlu mengatur seluruh kebutuhan tersebut dengan mengandalkan penghasilan pribadi. Data Biro Sensus Amerika Serikat menunjukkan perbedaan kekayaan bersih di kalangan penduduk berusia di bawah 35 tahun. Median kekayaan bersih pria lajang tercatat sekitar US$22.000 atau Rp352 juta, sedangkan perempuan lajang sekitar US$9.000 atau Rp144 juta.
Sementara itu, median kekayaan bersih pasangan menikah secara gabungan mencapai hampir US$114.000 atau Rp1,82 miliar, dengan perkiraan konversi Rp16.000 per dolar AS. Angka ini menunjukkan adanya perbedaan kekayaan antara kelompok tersebut, tapi gak membuktikan bahwa pernikahan sendirilah yang menyebabkan seseorang menjadi lebih kaya karena pendapatan, usia, pendidikan, dan kondisi ekonomi juga berpengaruh.
4. Perbedaan pandangan tentang pernikahan ikut memengaruhi keputusan Gen Z

ilustrasi pernikahan, anak muda, wedding, pengantin (magnific.com/magnific) Salah satu alasan sebagian Gen Z enggan menikah adalah perubahan cara pandang terhadap peran laki-laki dan perempuan. Perempuan kini memiliki lebih banyak kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi, membangun karier, dan mencapai kemandirian finansial. Akibatnya, sebagian perempuan gak lagi merasa perlu menikah demi mendapatkan keamanan ekonomi.
Mereka cenderung lebih selektif dalam memilih pasangan dan mempertimbangkan apakah pernikahan benar-benar akan meningkatkan kualitas hidupnya. Di sisi lain, ketimpangan kesempatan ekonomi dan perbedaan pandangan mengenai peran gender juga dapat mempersulit hubungan. John Gottman pun menyoroti meningkatnya misogini atau sikap merendahkan perempuan, termasuk dalam komunitas daring yang dikenal sebagai manosphere.
Sikap semacam ini berpotensi memperlebar jarak antara laki-laki dan perempuan ketika membicarakan hubungan, komitmen, serta pembagian tanggung jawab rumah tangga. Pada akhirnya, sebagian anak muda mungkin memilih menunda pernikahan karena belum menemukan pasangan yang memiliki nilai dan pandangan hidup yang sejalan.
5. Menikah lebih lambat bisa memengaruhi perencanaan hidup

ilustrasi suasana kantor, rekan kerja, ruang kerja, karier, sibuk (pexels.com/cottonbro studio) Menunda pernikahan gak selalu menjadi keputusan yang buruk. Banyak anak muda ingin menyelesaikan pendidikan, membangun karier, memperbaiki kondisi finansial, atau mengenal diri sendiri sebelum berkomitmen dengan pasangan. John Gottman menggambarkan perubahan ini sebagai pergeseran dari pernikahan yang menjadi fondasi awal kehidupan menuju pernikahan sebagai pencapaian setelah seseorang meraih sejumlah target pribadi.
Dengan kata lain, sebagian Gen Z ingin merasa lebih siap menjalani kehidupan bersama sebelum memutuskan menikah. Meski begitu, keputusan menunda pernikahan juga bisa memengaruhi sejumlah perencanaan jangka panjang. Perencana keuangan bersertifikat, Douglas Boneparth, menjelaskan bahwa pasangan perlu bekerja sama dalam mengatur uang karena banyak tujuan besar membutuhkan perencanaan bersama.
Dalam konteks Amerika Serikat, pernikahan juga dapat memberikan akses ke sejumlah keuntungan finansial, seperti pilihan pelaporan pajak bersama, asuransi kesehatan pasangan, dan manfaat Jaminan Sosial sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, manfaat tersebut berbeda-beda di setiap negara, sehingga kamu gak bisa langsung menerapkannya pada sistem keuangan Indonesia.
Fenomena Gen Z yang semakin enggan menikah memang memunculkan sejumlah kekhawatiran, mulai dari risiko kesepian hingga tantangan membangun kekayaan dalam jangka panjang. Namun, data yang ada belum membuktikan bahwa menurunnya minat menikah pasti akan mengancam masa depan generasi muda.
Kualitas hubungan sosial, kemampuan mengelola keuangan, dan kesiapan membangun komitmen tetap menjadi faktor penting dalam menentukan kesejahteraan seseorang. Jadi, menikah atau tidak menikah merupakan keputusan pribadi yang perlu dipertimbangkan secara matang, bukan sekadar mengikuti tuntutan sosial.






















