Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Ungkapan Ini Tanda Seseorang Sulit Mengendalikan Emosi, Sering Dengar?

6 min read
6 Ungkapan Ini Tanda Seseorang Sulit Mengendalikan Emosi, Sering Dengar?
ilustrasi kesal, marah, prengut, emosi (magnific.com/rawpixel.com)
  • Enam ungkapan seperti “aku gak bisa mengendalikan perasaanku” dan “aku memang orangnya seperti ini” dapat menjadi bahan refleksi bila berulang dipakai untuk membenarkan perilaku menyakitkan.
  • Kesulitan mengatur emosi dapat terlihat lewat sikap impulsif, mudah frustrasi, atau sulit tenang, tetapi tidak boleh dinilai hanya dari satu ucapan tanpa melihat konteks dan perilaku keseluruhan.
  • Mengelola emosi berarti mengenali pemicu, memberi jeda sebelum bereaksi, berkomunikasi jujur, serta bertanggung jawab atas tindakan tanpa harus memendam marah, sedih, atau kecewa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setiap orang pasti pernah merasa marah, kecewa, sedih, atau kesal ketika menghadapi situasi tertentu. Perasaan tersebut wajar, tapi cara seseorang merespons emosinya bisa memengaruhi hubungan dengan orang lain. Ada orang yang memilih menenangkan diri sebelum berbicara, sedangkan sebagian lainnya langsung meluapkan perasaan tanpa memikirkan dampaknya.

Kebiasaan tersebut terkadang terlihat dari ucapan sederhana yang berulang kali muncul dalam percakapan sehari-hari. Meski begitu, satu kalimat saja gak cukup untuk menilai kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi karena konteks dan perilakunya secara keseluruhan juga perlu diperhatikan.

Menurut Cleveland Clinic, kesulitan mengatur emosi atau emotional dysregulation dapat membuat seseorang kesulitan mengelola perasaan yang kuat dan menentukan respons terhadapnya. Kondisi ini bisa terlihat melalui perilaku impulsif, mudah frustrasi, atau mengucapkan sesuatu yang kemudian disesali. Namun, kesulitan mengelola emosi bukan berarti seseorang memiliki karakter buruk, ya, dan penilaiannya gak bisa dilakukan hanya dari percakapan singkat.

Lantas, apa saja ucapan yang bisa menjadi bahan refleksi untuk mengenali kebiasaan tersebut? Berikut enam ungkapan yang perlu diperhatikan, terutama jika sering digunakan untuk membenarkan perilaku atau menghindari tanggung jawab.

  1. 1. "Aku gak bisa mengendalikan perasaanku"

    ilustrasi shrug
    ilustrasi shrug (magnific.com/azerbaijan_stockers)

    Pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa dirinya gak bisa mengendalikan perasaan ketika sedang marah atau kecewa? Kalimat ini mungkin muncul ketika emosi terasa begitu kuat hingga sulit ditenangkan. Namun jika terus digunakan untuk membenarkan tindakan menyakitkan, ungkapan tersebut bisa menunjukkan bahwa orang itu belum terbiasa mengambil tanggung jawab atas respons emosionalnya. Ia mungkin merasa bahwa karena sedang marah, orang lain harus menerima apa pun yang dikatakannya.

    Dikutip dari Psychology Today, pakar kepemimpinan, Charles C. Manz, Ph.D., menjelaskan bahwa seseorang dapat belajar mengarahkan emosinya ke tindakan yang lebih konstruktif. Perasaan memang bisa muncul secara spontan, tapi kamu masih bisa berlatih menentukan tindakan setelah merasakannya. Misalnya, ketika kesal dengan perkataan teman, kamu bisa mengambil jeda sebelum memberikan tanggapan. Dengan begitu, kamu tetap bisa mengungkapkan ketidaknyamanan tanpa harus melukai orang lain.

  2. 2. "Aku cuma mau jujur"

    ilustrasi rekan kerja, bicara, komunikasi
    ilustrasi rekan kerja, bicara, komunikasi (pexels.com/Alexander Suhorucov)

    Kejujuran memang penting dalam hubungan dengan pasangan, teman, maupun keluarga. Akan tetapi, ada perbedaan antara menyampaikan perasaan secara jujur dan melontarkan semua yang terlintas di pikiran tanpa mempertimbangkan dampaknya. Seseorang bisa saja menggunakan alasan kejujuran untuk membenarkan komentar kasar atau perkataan yang merendahkan orang lain. Padahal, menyampaikan sesuatu dengan terus terang gak harus dilakukan dengan cara yang menyakitkan, loh.

    Penelitian yang diberitakan NYU Steinhardt pada Juni 2026 menunjukkan bahwa dampak menahan ekspresi emosi terhadap kesehatan psikologis bergantung pada konteks dan cara seseorang berhubungan dengan perasaannya. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Counseling Psychology tersebut menganalisis data survei 483 mahasiswa tahun pertama selama semester musim gugur 2020.

    Hasilnya, penekanan ekspresi emosi yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan kecemasan dan depresi serta penurunan kepuasan hidup dari waktu ke waktu, meskipun hasilnya turut dipengaruhi faktor individual. Temuan ini bukan berarti semua emosi harus langsung diluapkan, melainkan penting untuk memahami perasaan dan memilih cara mengungkapkannya secara tepat.

  3. 3. "Aku memang orangnya seperti ini"

    ilustrasi pasangan bertengkar, argumentasi, konflik, konfrontasi, adu pendapat
    ilustrasi pasangan bertengkar, argumentasi, konflik, konfrontasi, adu pendapat (magnific.com/Drazen Zigic)

    Ucapan ini sering terdengar ketika seseorang ditegur karena perilakunya dianggap berlebihan atau menyakitkan. Alih-alih mengevaluasi tindakannya, ia justru menjadikan karakter pribadi sebagai alasan untuk mempertahankan kebiasaan tersebut. Misalnya, seseorang yang sering membentak saat marah mengatakan bahwa dirinya memang memiliki sifat keras. Padahal, memiliki temperamen tertentu gak berarti seseorang bebas mengabaikan perasaan orang lain, loh.

    Menurut penjelasan Charles C. Manz dalam Psychology Today, kemampuan mengelola emosi dapat dikembangkan dengan mengenali penyebab perasaan, memahami pikiran yang menyertainya, dan memilih respons yang lebih konstruktif. Artinya, kamu gak harus terus terjebak dalam kebiasaan lama hanya karena merasa itulah sifat aslimu. Jika menyadari bahwa kamu sering berkata kasar saat marah, cobalah mengenali pemicunya dan mencari cara untuk merespons dengan lebih tenang. Mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya merupakan langkah penting untuk membangun hubungan yang lebih sehat.

  4. 4. "Aku gak bisa melupakan masalah itu"

    ilustrasi kepikiran
    ilustrasi kepikiran (unsplash.com/Nathan Dumlao)

    Ketika mengalami konflik, wajar jika kamu membutuhkan waktu untuk memproses perasaan sebelum benar-benar bisa melanjutkan hidup. Ada masalah yang memang membutuhkan pembicaraan lebih lanjut, permintaan maaf, atau penyelesaian yang jelas. Namun jika seseorang terus mengulang persoalan yang sama tanpa berusaha memahami atau menyelesaikannya, ia bisa terjebak dalam emosi negatif. Ungkapan, "Aku gak bisa melupakan masalah itu" patut diperhatikan apabila terus digunakan untuk mempertahankan pertengkaran tanpa mencari jalan keluar.

    Dalam Cleveland Clinic, dijelaskan bahwa kesulitan mengatur emosi bisa membuat seseorang lebih gampang merasa frustrasi, sulit menenangkan diri setelah kesal, atau melakukan sesuatu secara impulsif. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi hubungan sosial apabila terjadi secara berulang. Karena itu, ketika masalah lama kembali mengganggu pikiranmu, cobalah membedakan antara persoalan yang memang belum selesai dan perasaan yang masih membutuhkan waktu untuk diproses. Jika masalahnya masih bisa diperbaiki, fokuslah pada langkah penyelesaian daripada terus mengulang pertengkaran yang sama.

  5. 5. "Aku cuma perlu curhat"

    ilustrasi curhat
    ilustrasi curhat (pexels.com/Kaboompics.com)

    Menceritakan masalah kepada orang yang dipercaya memang bisa membantu seseorang merasa lebih lega. Ketika menghadapi hari yang berat, kamu mungkin membutuhkan teman yang bersedia mendengarkan tanpa langsung memberikan nasihat. Namun, kebiasaan meluapkan emosi tanpa berusaha memahami persoalan bisa membuat seseorang terus berkutat pada masalah yang sama. Akibatnya, curhat yang awalnya bertujuan mencari kelegaan justru berisiko memperpanjang pikiran negatif.

    Dalam artikel yang diterbitkan Greater Good Magazine dari University of California, Berkeley, Jill Suttie menjelaskan bahwa manfaat meluapkan perasaan bergantung pada cara seseorang melakukannya dan respons orang yang mendengarkan. Artikel tersebut juga membahas pandangan peneliti Ethan Kross bahwa berbagi perasaan dapat membantu seseorang memperoleh dukungan dan memahami penyebab emosinya.

    Namun jika seseorang terus menceritakan emosi negatif tanpa mencari perspektif baru atau berusaha menenangkan diri, kebiasaan tersebut justru bisa membuatnya merasa lebih buruk. Jadi kamu tetap boleh curhat, tapi cobalah menjadikannya kesempatan untuk memahami perasaan dan menentukan langkah berikutnya.

  6. 6. "Aku lagi gak mood"

    ilustrasi menunggu
    ilustrasi menunggu (magnific.com/freepik)

    Adakalanya kamu merasa lelah, ingin menyendiri, atau gak memiliki energi untuk bertemu orang lain. Dalam situasi seperti itu, menolak ajakan bersosialisasi bisa menjadi pilihan yang wajar, terutama ketika kamu membutuhkan waktu untuk beristirahat. Namun jika suasana hati yang kurang baik selalu dijadikan alasan untuk membatalkan janji secara mendadak, kebiasaan tersebut bisa memengaruhi hubungan dengan orang lain. Apalagi, jika kamu berulang kali mengabaikan komitmen tanpa mempertimbangkan waktu dan perasaan orang yang sudah menunggu.

    Penelitian yang diberitakan Michigan State University pada Januari 2023 membahas bagaimana seseorang membatalkan janji dengan teman dan bagaimana tindakan tersebut diterima oleh orang lain. Studi yang melibatkan lebih dari 1.100 peserta itu menemukan bahwa sekitar 80 persen responden mengatakan pembatalan janji gak akan memengaruhi pertemanan mereka, tapi mereka akan merasa kesal jika mengetahui alasan yang diberikan ternyata bohong.

    Selain itu, hampir 60 persen peserta menginginkan pemberitahuan pembatalan lebih awal dan disampaikan dengan cepat. Temuan ini bukan berarti kamu harus memaksakan diri ketika sedang tidak baik-baik saja, melainkan menegaskan pentingnya komunikasi yang jujur dan menghargai orang lain saat mengubah rencana.

    Enam ungkapan di atas bisa menjadi bahan refleksi untuk mengenali kebiasaan diri sendiri maupun memahami pola komunikasi orang di sekitar. Namun, kamu gak bisa langsung menyimpulkan seseorang sulit mengendalikan emosi hanya karena pernah mengucapkan salah satunya. Perhatikan konteks, frekuensi, serta bagaimana orang tersebut bertindak setelah emosinya mereda. Jika ingin membangun hubungan yang lebih sehat, mulailah dengan mengenali perasaan sendiri, memberi jeda sebelum bereaksi, dan berani bertanggung jawab atas perkataan maupun tindakan.

    Mengendalikan emosi juga bukan berarti kamu harus selalu terlihat tenang atau memendam semua perasaan. Kamu tetap berhak merasa marah, kecewa, dan sedih, tapi perlu belajar menyampaikannya dengan cara yang gak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dengan latihan dan kesadaran diri, kemampuan mengelola emosi bisa terus berkembang seiring waktu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More