Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Rekan Kerja Sering Memilih Diam saat Melihat Bullying?
ilustrasi bullying di kantor (pexels.com/Pavel Danilyuk)
  • Rekan kerja memilih diam saat melihat bullying karena takut menjadi sasaran berikutnya atau terlibat konflik kantor.

  • Bullying sering dianggap sebagai candaan biasa sehingga dampak buruknya terhadap korban diabaikan.

  • Dukungan sederhana dari rekan kerja dapat membantu korban dan mencegah bullying dianggap sebagai hal yang wajar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bayangkan kamu sedang berada di ruang kerja ketika seorang karyawan dijadikan bahan ejekan oleh rekan-rekannya. Semua orang mendengar komentar yang merendahkan tersebut. Beberapa bahkan ikut tertawa, sementara yang lain memilih kembali menatap layar komputer dan pura-pura sibuk. Tidak ada yang membela, tidak ada yang menegur. Seolah-olah kejadian tadi hanyalah bagian biasa dari rutinitas kantor.

Situasi seperti ini menunjukkan bahwa bullying di tempat kerja bukan hanya soal pelaku dan korban. Ada orang-orang lain yang menyaksikan kejadian tersebut, tetapi memilih tidak melakukan apa-apa. Sebagian mungkin takut ikut menjadi sasaran, sedangkan sebagian lainnya merasa bahwa ikut campur hanya akan membuat urusan mereka semakin rumit. Lantas, kenapa rekan kerja sering memilih diam saat melihat bullying, bahkan ketika mereka tahu perlakuan itu sudah keterlaluan?

1. Takut menjadi target bullying berikutnya

ilustrasi beberapa orang sedang tertawa (pexels.com/Yan Krukau)

Salah satu alasan paling masuk akal adalah rasa takut. Di lingkungan kerja yang tidak sehat, orang yang membela korban bisa saja ikut menjadi sasaran berikutnya. Apalagi jika pelaku bullying memiliki jabatan tinggi, dekat dengan atasan, atau dikenal sebagai sosok yang sulit diajak berkonflik. Dalam situasi seperti ini, seseorang mungkin berpikir bahwa diam adalah pilihan paling aman. Selama dirinya tidak ikut campur, ia berharap pekerjaannya tidak terganggu dan hubungannya dengan rekan kerja lain tetap baik-baik saja.

Pikiran tersebut memang bisa dimengerti, terutama ketika seseorang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tidak semua orang memiliki keberanian atau posisi yang cukup kuat untuk menghadapi pelaku bullying secara langsung. Namun, jika ketakutan semacam ini terus dibiarkan, lingkungan kerja bisa semakin tidak sehat. Pelaku merasa tindakannya tidak memiliki konsekuensi, sedangkan korban harus menghadapi perlakuan buruk tanpa dukungan yang memadai.

2. Menganggap bullying sebagai candaan biasa

ilustrasi melakukan prank pada teman (pexels.com/Ron Lach)

Tidak semua orang menyadari bahwa dirinya sedang menyaksikan bullying. Ada yang menganggap ejekan sebagai bagian dari keakraban, sindiran sebagai cara bercanda, atau perlakuan merendahkan sebagai sesuatu yang wajar dalam dunia kerja. Misalnya, seorang karyawan terus-menerus diejek karena dianggap lambat memahami pekerjaan. Setiap kali ia melakukan kesalahan, rekan-rekannya tertawa dan mengulang lelucon yang sama. Orang lain mungkin melihatnya sebagai hiburan ringan, padahal orang yang menjadi sasaran bisa merasa malu, tertekan, bahkan kehilangan kepercayaan diri.

Masalahnya, sesuatu yang dianggap lucu oleh banyak orang belum tentu menyenangkan bagi orang yang menerimanya. Apalagi jika candaan tersebut terus diulang meskipun korban sudah menunjukkan ketidaknyamanan. Ketika bullying dibungkus dengan humor, batas antara bercanda dan merendahkan seseorang menjadi kabur. Akibatnya, orang-orang di sekitar merasa tidak perlu melakukan apa-apa karena menganggap situasinya tidak serius. Padahal, niat bercanda tidak otomatis menghapus dampak buruk dari suatu tindakan.

3. Tidak ingin terlibat dalam konflik kantor

ilustrasi mengobrol dengan rekan kerja (pexels.com/fauxels)

Ada juga orang yang sebenarnya menyadari bahwa bullying sedang terjadi, tetapi memilih menjauh karena tidak ingin terseret ke dalam masalah kantor. Mereka datang bekerja untuk menyelesaikan tugas, mendapatkan penghasilan, lalu pulang tanpa harus terlibat dalam drama yang melelahkan. Sekilas, sikap ini mungkin terlihat masuk akal. Terlebih jika sebelumnya mereka pernah menyaksikan konflik yang berlarut-larut hanya karena seseorang mencoba membela rekan kerjanya.

Sayangnya, keinginan untuk menjaga ketenangan terkadang membuat seseorang mengabaikan masalah yang seharusnya tidak dibiarkan. Mereka memilih berpura-pura tidak tahu agar tidak perlu menghadapi drama kantor yang sulit. Padahal, diam bukan selalu berarti netral. Ketika seseorang terus-menerus direndahkan dan orang-orang di sekitarnya tidak memberikan respons apa pun, pelaku bisa merasa bahwa perilakunya dapat diterima.

4. Menganggap korban harus menyelesaikan masalahnya sendiri

ilustrasi korban bullying (pexels.com/Yan Krukau)

Pernah melihat rekan kerja yang menjadi sasaran bullying, tetapi orang-orang di sekitarnya justru berkata bahwa ia harus lebih kuat? Komentar semacam ini mungkin terdengar sederhana, tetapi bisa membuat korban merasa bahwa masalahnya adalah tanggung jawab pribadi yang harus diselesaikan sendiri. Ya, banyak orang berpikir bahwa konflik di tempat kerja merupakan urusan antara pelaku dan korban. Jika korban merasa tidak nyaman, ia dianggap harus berani melawan, menegur pelaku, atau melaporkannya kepada atasan.

Cara pandang ini mengabaikan kenyataan bahwa posisi setiap karyawan tidak selalu setara. Korban mungkin takut kehilangan pekerjaan, khawatir dianggap pembuat masalah, atau tidak memiliki cukup bukti untuk melaporkan perlakuan yang diterimanya. Dalam kondisi seperti itu, dukungan dari rekan kerja bisa sangat berarti. Dukungan tersebut tidak harus berupa konfrontasi besar. Menanyakan keadaan korban, memastikan apa yang terjadi, atau bersedia menjadi saksi ketika diperlukan sudah bisa membantu. Korban bullying tidak seharusnya dibebani tanggung jawab untuk memperbaiki lingkungan kerja sendirian.

5. Takut dianggap mencari perhatian atau sok ikut campur

ilustrasi beberapa orang sedang tertawa (pexels.com/Mikhail Nilov)

Lingkungan kerja terkadang memiliki budaya yang membuat seseorang merasa harus selalu mengikuti arus. Jika mayoritas karyawan tertawa ketika seorang rekan direndahkan, orang yang memilih tidak tertawa saja mungkin sudah merasa berbeda. Apalagi jika ia secara terbuka menegur pelaku. Ia bisa dicap terlalu sensitif, tidak bisa diajak bercanda, atau sok menjadi pahlawan. Label seperti ini membuat banyak orang memilih diam agar tidak dianggap menggurui rekan kerja lain.

Padahal, membela seseorang yang diperlakukan tidak pantas bukan berarti merasa paling benar. Kita juga tidak harus mengetahui seluruh persoalan pribadi antara korban dan pelaku untuk menyadari bahwa penghinaan berulang bukan cara yang sehat dalam berinteraksi. Tidak semua orang yang bersuara ingin terlihat hebat. Terkadang, mereka hanya tidak ingin ikut menormalisasi sesuatu yang jelas-jelas menyakiti orang lain.

Lingkungan kerja yang sehat bukan lingkungan yang tidak pernah memiliki konflik, melainkan lingkungan yang tidak membiarkan seseorang menghadapi ketidakadilan sendirian. Kita mungkin tidak selalu bisa menghentikan bullying saat itu juga, tetapi setidaknya kita bisa memilih untuk tidak ikut menertawakan, tidak menyebarkan penghinaan, dan tidak membuat korban merasa bahwa semua orang menganggap penderitaannya sebagai hal biasa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article