Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Budaya Senioritas Bisa Membuat Bullying Dianggap Wajar?

4 min read
Kenapa Budaya Senioritas Bisa Membuat Bullying Dianggap Wajar?
ilustrasi korban bullying (pexels.com/Puwadon Sang-ngern)
  • Budaya senioritas membuat senior merasa lebih berkuasa dan menganggap bullying sebagai cara membentuk mental junior.

  • Junior sering takut melawan karena khawatir dianggap tidak sopan atau mendapat perlakuan lebih buruk.

  • Sikap diam dan sulitnya mengkritik senior membuat bullying terus dianggap wajar di lingkungan tersebut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Budaya senioritas masih cukup kuat di berbagai lingkungan, mulai dari sekolah, kampus, organisasi, hingga tempat kerja. Orang yang lebih dulu bergabung biasanya dianggap memiliki pengalaman dan kedudukan lebih tinggi. Sebenarnya, menghormati orang yang lebih berpengalaman bukanlah sesuatu yang salah. Masalah muncul ketika status senior digunakan sebagai alasan untuk memperlakukan orang lain secara semena-mena.

Tidak sedikit tindakan perundungan (bullying) yang justru dianggap sebagai bagian dari tradisi atau proses pembentukan mental. Junior yang mendapat perlakuan buruk diminta untuk bersabar, sementara senior merasa tindakannya wajar karena pernah mengalami hal serupa. Lantas, kenapa budaya senioritas bisa membuat bullying terus terjadi, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang normal?

  1. 1. Senior merasa memiliki hak lebih besar daripada junior

    ilustrasi seorang senior memberikan tugas pada karyawan lain
    ilustrasi seorang senior memberikan tugas pada karyawan lain (pexels.com/Kampus Production)

    Dalam lingkungan yang sangat menjunjung senioritas, lama seseorang bergabung sering kali menentukan seberapa besar kekuasaan yang dimilikinya. Senior merasa lebih berhak memberikan perintah, mengatur perilaku junior, bahkan menentukan bagaimana junior seharusnya bersikap. Sayangnya, tidak semua orang bisa membedakan antara membimbing dan menguasai. Ada senior yang merasa bebas membentak, mempermalukan, atau memberikan tugas tidak masuk akal hanya karena posisinya lebih tinggi.

    Perilaku seperti ini kemudian dianggap biasa karena junior memang diharapkan menghormati senior. Padahal, menghormati orang yang lebih berpengalaman tidak berarti harus menerima perlakuan buruk darinya. Pengalaman seharusnya membuat seseorang lebih bijaksana, bukan merasa berhak merendahkan orang lain.

  2. 2. Bullying sering disamarkan sebagai cara membentuk mental

    ilustrasi beberapa orang sedang tertawa
    ilustrasi beberapa orang sedang tertawa (pexels.com/Yan Krukau)

    Tidak semua bullying dalam budaya senioritas dilakukan secara terang-terangan. Ada pula yang dibungkus dengan alasan mendidik, melatih kedisiplinan, atau membentuk mental junior agar lebih kuat. Misalnya, junior sengaja dipermalukan di depan banyak orang karena dianggap kurang cekatan. Ada juga yang terus-menerus diberi komentar merendahkan dengan alasan supaya tidak mudah tersinggung.

    Cara seperti ini mungkin dianggap efektif oleh sebagian orang. Namun, seseorang sebenarnya bisa belajar disiplin dan bertanggung jawab tanpa harus mengalami penghinaan. Teguran yang tegas pun tidak harus disampaikan dengan cara yang menjatuhkan harga diri. Masalahnya, ketika perlakuan buruk sudah diberi label sebagai pendidikan mental, orang yang keberatan justru dianggap lemah. Akhirnya, bullying semakin sulit dikenali karena pelakunya merasa sedang melakukan sesuatu yang bermanfaat.

  3. 3. Junior takut melawan karena khawatir dianggap tidak sopan

    ilustrasi lingkungan kerja yang tidak sehat
    ilustrasi lingkungan kerja yang tidak sehat (pexels.com/Yan Krukau)

    Budaya senioritas juga membuat korban bullying kesulitan membela diri. Dalam lingkungan tertentu, membantah senior dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan, bahkan ketika senior tersebut jelas melakukan kesalahan. Akibatnya, junior memilih diam meskipun merasa tidak nyaman. Mereka khawatir akan dikucilkan, mendapat penilaian buruk, atau justru menjadi sasaran perlakuan yang lebih parah jika berani menyampaikan keberatan.

    Situasi ini membuat hubungan antara senior dan junior menjadi tidak seimbang. Senior memiliki kebebasan untuk bersikap keras, sedangkan junior dituntut selalu menjaga sikap. Padahal, menyampaikan keberatan terhadap perlakuan yang tidak pantas bukan berarti tidak menghormati orang lain. Rasa hormat seharusnya berlaku dua arah, terlepas dari siapa yang lebih lama berada dalam suatu lingkungan.

  4. 4. Orang sekitar memilih diam karena sudah terbiasa

    ilustrasi beberapa orang sedang tertawa
    ilustrasi beberapa orang sedang tertawa (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Bullying tidak selalu bertahan hanya karena pelakunya merasa berkuasa. Sikap orang-orang di sekitarnya juga bisa membuat perilaku tersebut terus berlangsung. Ketika seorang junior dipermalukan, orang lain mungkin memilih diam karena menganggap kejadian tersebut sudah biasa. Sebagian bahkan mengatakan bahwa senior tersebut memang memiliki karakter yang keras.

    Lama-kelamaan, perlakuan buruk menjadi sesuatu yang tidak lagi dipertanyakan. Orang yang menyaksikannya merasa tidak perlu ikut campur, sedangkan korban semakin sulit mencari dukungan. Padahal, kebiasaan yang sudah berlangsung lama belum tentu benar. Kalau suatu tindakan membuat orang lain merasa terintimidasi atau direndahkan secara berulang, sudah seharusnya lingkungan sekitar mulai mempertanyakannya, bukan sekadar memakluminya.

  5. 5. Senioritas membuat kritik terhadap senior sulit diterima

    ilustrasi berbicara dengan senior
    ilustrasi berbicara dengan senior (pexels.com/Sora Shimazaki)

    Di lingkungan yang terlalu mengagungkan senioritas, pendapat senior sering dianggap lebih benar daripada pendapat junior. Bahkan, ketika junior menyampaikan kritik yang masuk akal, kritik tersebut bisa dianggap sebagai bentuk perlawanan. Kondisi ini membuat senior jarang mendapat evaluasi atas perilakunya. Mereka mungkin merasa tidak melakukan kesalahan karena selama ini tidak ada yang berani menegur.

    Sebaliknya, junior yang mencoba berbicara justru berisiko mendapat cap negatif, seperti tidak tahu diri atau tidak bisa menghargai orang yang lebih tua. Padahal, pengalaman tidak membuat seseorang selalu benar. Senior tetap bisa melakukan kesalahan dan perlu menerima masukan. Lingkungan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi siapa pun untuk menyampaikan pendapat tanpa harus takut diperlakukan buruk.

    Pada akhirnya, budaya senioritas sebenarnya tidak harus dihilangkan sepenuhnya. Yang perlu diubah adalah anggapan bahwa orang yang lebih senior boleh memperlakukan junior sesuka hati. Sebab, ukuran kedewasaan seseorang bukan terletak pada seberapa banyak orang yang tunduk kepadanya, melainkan bagaimana ia memperlakukan orang yang posisinya lebih rendah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More