ilustrasi hewan peliharaan di atas sofa (pexels.com/Samson Katt)
“Tadi aku capek banget deh, gara-gara kerjaan numpuk.” Kalimat itu keluar begitu saja saat kamu merebahkan diri di sofa, sementara kucingmu duduk beberapa langkah darimu. Kamu terus bercerita, sesekali memanggil namanya dengan suara melengking. Dia mungkin hanya berkedip, mengeong sebentar, lalu kembali sibuk menjilati bulunya. Tidak ada jawaban yang bisa kamu pahami, apalagi solusi atas masalah yang baru saja kamu ceritakan. Namun, anehnya, kamu tetap melanjutkan obrolan itu.
Berbeda bahasa ternyata gak membuat kamu kehabisan alasan untuk mengajak hewan peliharaanmu berbicara. Kamu mengubah nada suara saat memanggilnya atau menyisipkan pertanyaan yang sebenarnya kamu juga tidak berharap ada jawaban verbal darinya. Kamu belajar membaca respons kecil dari mereka, mulai dari telinga yang bergerak hingga ekor yang bergoyang. Mungkin mereka tidak mengerti seluruh cerita kamu, tetapi interaksi yang mereka lakukan itu tetap terasa seperti sebuah percakapan.
Besok pagi, saat kamu kembali memanggil nama si anabul dengan suara yang lebih tinggi dari biasanya, kamu mungkin akan melakukannya lagi tanpa berpikir panjang. Dia mungkin datang menghampiri, mengibaskan ekor, atau justru menatapmu sebentar sebelum kembali berpaling. Kamu pun tetap akan mengajaknya bicara, seolah-olah ada banyak hal yang perlu diceritakan di hari itu.
Bagimu, tidak masalah jika kalian tidak saling memahami kata-kata satu sama lain. Ada cara lain untuk kamu menunjukkan perhatian dan membangun kedekatan dengan hewan peliharaanmu. Kadang, percakapan paling menyenangkan justru gak selalu membutuhkan bahasa yang sama.