Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Suara Kita Berubah saat Bicara dengan Hewan Peliharaan?
ilustrasi hewan peliharaan (pexels.com/Samson Katt)
  • Orang cenderung memakai nada lebih tinggi dan manja untuk menarik perhatian hewan peliharaan; penelitian menunjukkan gaya suara ini dapat membuat mereka lebih memperhatikan, meski respons tiap hewan berbeda.
  • Nada lembut, ceria, dan ekspresif menjadi cara pemilik menyampaikan kasih sayang serta membangun kedekatan dengan hewan peliharaan melalui interaksi yang terasa hangat.
  • Meski tidak berbagi bahasa verbal, pemilik tetap berbicara dengan hewan dan membaca respons kecil seperti gerakan telinga atau ekor sebagai bagian dari komunikasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kamu baru saja pulang setelah melewati hari yang sangat melelahkan. Kamu meletakkan tas di sofa, melepas sepatu, lalu kucing peliharaanmu berlari menghampiri. “Hai, Sayang! Kangen, ya?” tanyamu. Nada suaramu mendadak meninggi, kata-katanya memanjang, bahkan terdengar jauh lebih manja daripada ketika kamu berbicara dengan pasanganmu sendiri. Padahal, kucing peliharaanmu hanya mengeong sebentar sebelum kembali sibuk dengan urusannya.

Kamu sebenarnya tahu mereka tidak akan membalas dengan kalimat yang sama, tetapi tetap saja dorongan untuk berbicara dengan suara imut pada anabul (anak bulu) tetap ada. Menariknya, perubahan nada suara kamu ini bukan sekadar kebiasaan lucu bagi kamu si pencinta hewan. Tanpa disadari, ada beberapa alasan kenapa tiba-tiba kamu mengubah nada suaramu ketika berhadapan dengan hewan peliharaanmu.

1. Kita ingin menarik perhatian mereka

ilustrasi hewan peliharaan (unsplash.com/Oleg Ivanov )

Kucingmu sedang duduk di dekat jendela ketika kamu memanggil namanya dari ruang tengah. Kamu panggil sekali, tidak menoleh. Dua kali, hanya telinganya yang bergerak. Hingga akhirnya, kamu mengubah nada suara, “Pusss, sini, dong!” Kali ini, kepalanya berbalik ke arahmu. Kamu pun merasa berhasil, meskipun belum tentu dia benar-benar berniat menghampiri.

Peneliti bahasa bayi, Dr. Antonia Goetz, menjelaskan mengapa orang cenderung menggunakan suara yang lebih manja saat berbicara dengan bayi hingga hewan peliharaan, “Penelitian menunjukkan bahwa hewan peliharaan akan memberikan perhatian lebih ketika kita menggunakan nada suara seperti itu,” dikutip dari ABC Australia.

Ketika kamu tanpa sadar meninggikan suara saat memanggil peliharaan, kamu mungkin sedang membuat panggilanmu agar terdengar lebih menarik. Meski begitu, respons setiap hewan bisa berbeda. Bisa jadi, kucingmu malah memilih melanjutkan tidur siangnya karena panggilanmu dirasa belum cukup menarik untuk membuatnya beranjak.

2. Kita ingin menunjukkan rasa sayang

ilustrasi hewan peliharaan kucing dan anjing (unsplash.com/Chewy)

Anjingmu akhirnya naik ke sofa dan meletakkan kepalanya di pangkuanmu. Kamu spontan mengelusnya sambil berkata, "Aduh, anak siapa ini yang paling ganteng?" Kalimat itu diulang beberapa kali dengan nada yang sama. Anjingmu tidak menjawab, tetapi kamu terus mengajaknya bicara sambil tersenyum.

Kebiasaan ini bisa menjadi salah satu cara kamu mengekspresikan kasih sayang kepada hewan peliharaan. Nada yang lebih lembut, intonasimu yang ekspresif, dan panggilan khusus membuat interaksi dengan hewan peliharaanmu terasa lebih akrab. Kamu ingin menunjukkan perhatian melalui cara bicara.

Dalam wawancara dengan ABC Australia, Dr. Antonia Goetz, peneliti bahasa bayi, menjelaskan, “Kehangatan tersampaikan melalui suara kita. Melalui senyuman dan nada suara yang terdengar ceria dengan intonasi naik turun, kita bisa membangun banyak hubungan sosial lewat suara”.

Kamu menggunakan nada manja kepada anjing kesayanganmu karena ingin menciptakan suasana akrab atau sekadar menikmati momen kebersamaan. Terkadang, kamu memang punya cara sendiri untuk menunjukkan kasih sayang, termasuk melalui percakapan dengan intonasi yang kamu bentuk sendiri.

3. Kita ingin berkomunikasi meski berbeda bahasa

ilustrasi hewan peliharaan di atas sofa (pexels.com/Samson Katt)

“Tadi aku capek banget deh, gara-gara kerjaan numpuk.” Kalimat itu keluar begitu saja saat kamu merebahkan diri di sofa, sementara kucingmu duduk beberapa langkah darimu. Kamu terus bercerita, sesekali memanggil namanya dengan suara melengking. Dia mungkin hanya berkedip, mengeong sebentar, lalu kembali sibuk menjilati bulunya. Tidak ada jawaban yang bisa kamu pahami, apalagi solusi atas masalah yang baru saja kamu ceritakan. Namun, anehnya, kamu tetap melanjutkan obrolan itu.

Berbeda bahasa ternyata gak membuat kamu kehabisan alasan untuk mengajak hewan peliharaanmu berbicara. Kamu mengubah nada suara saat memanggilnya atau menyisipkan pertanyaan yang sebenarnya kamu juga tidak berharap ada jawaban verbal darinya. Kamu belajar membaca respons kecil dari mereka, mulai dari telinga yang bergerak hingga ekor yang bergoyang. Mungkin mereka tidak mengerti seluruh cerita kamu, tetapi interaksi yang mereka lakukan itu tetap terasa seperti sebuah percakapan.

Besok pagi, saat kamu kembali memanggil nama si anabul dengan suara yang lebih tinggi dari biasanya, kamu mungkin akan melakukannya lagi tanpa berpikir panjang. Dia mungkin datang menghampiri, mengibaskan ekor, atau justru menatapmu sebentar sebelum kembali berpaling. Kamu pun tetap akan mengajaknya bicara, seolah-olah ada banyak hal yang perlu diceritakan di hari itu.

Bagimu, tidak masalah jika kalian tidak saling memahami kata-kata satu sama lain. Ada cara lain untuk kamu menunjukkan perhatian dan membangun kedekatan dengan hewan peliharaanmu. Kadang, percakapan paling menyenangkan justru gak selalu membutuhkan bahasa yang sama.

Curated For You

Editorial Team

Related Article