Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Memahami Red Herring, Strategi Pengalihan Isu dalam Percakapan

Memahami Red Herring, Strategi Pengalihan Isu dalam Percakapan
ilustrasi ngobrol (pexels.com/fauxels)
Intinya Sih
  • Red herring mengalihkan pembahasan dari topik utama ke isu lain.

  • Teknik ini sering muncul dalam debat, media, dan percakapan sehari-hari.

  • Dampaknya, diskusi menjadi tidak fokus dan masalah utama terabaikan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dalam percakapan sehari-hari, sering muncul situasi ketika sebuah pembahasan tiba-tiba berubah arah tanpa terasa. Topik yang awalnya dibicarakan perlahan bergeser ke hal lain yang sebenarnya tidak terlalu berkaitan dengan masalah utama. Hal seperti ini kadang terasa wajar, tetapi dalam banyak kasus justru dilakukan secara sengaja untuk mengalihkan perhatian.

Fenomena tersebut dikenal dengan istilah ikan haring merah (red herring), teknik mengalihkan fokus pembicaraan dengan memasukkan isu lain yang tampak penting, tetapi sebenarnya tidak relevan dengan topik utama. Cara ini sering muncul dalam debat, diskusi publik, bahkan percakapan santai sehari-hari. Tanpa disadari, red herring bisa membuat orang sesat pikir atau lupa pada masalah awal yang seharusnya sedang dibahas. Untuk memahami konsep ini dengan lebih jelas, berikut penjelasan selengkapnya.

1. Mengalihkan pembahasan dari masalah utama

ilustrasi ngobrol
ilustrasi ngobrol (pexels.com/Cliff Booth)

Red herring pada dasarnya cara menggeser pembicaraan dari inti masalah ke topik lain yang terlihat menarik atau emosional. Orang yang menggunakan teknik ini biasanya tidak menjawab persoalan utama secara langsung. Sebagai gantinya, perhatian pendengar diarahkan ke hal lain sehingga diskusi bergerak menjauh dari topik semula.

Kamu bisa melihatnya dalam percakapan sehari-hari, misalnya saat seseorang terlambat datang ke rapat. Ketika ditanya alasannya, ia justru mulai membicarakan betapa macetnya kota atau bagaimana sistem transportasi di daerah tersebut buruk. Pembahasan akhirnya berubah menjadi keluhan tentang kemacetan, sementara pertanyaan awal mengenai keterlambatan tidak pernah benar-benar dijawab.

2. Sering digunakan dalam perdebatan

ilustrasi debat
ilustrasi debat (pexels.com/Gustavo Fring)

Dalam debat atau diskusi serius, red herring sering muncul sebagai strategi retorika. Teknik ini membuat lawan bicara terseret ke topik baru yang tidak lagi berhubungan langsung dengan persoalan awal. Akibatnya, arah diskusi menjadi kabur dan inti argumen sulit kembali ditemukan.

Bayangkan sebuah diskusi tentang kebijakan lingkungan di sebuah kota. Ketika seseorang mempertanyakan dampak limbah pabrik terhadap sungai, pihak yang dikritik justru mengalihkan pembahasan dengan mengatakan bahwa perusahaan tersebut telah membuka banyak lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Isu lapangan kerja memang penting, tetapi sebenarnya tidak menjawab pertanyaan tentang pencemaran sungai.

3. Muncul dalam percakapan sehari-hari

ilustrasi ngobrol
ilustrasi ngobrol (pexels.com/Ron Lach)

Red herring tidak hanya terjadi dalam debat formal, tetapi juga dalam percakapan sehari-hari di rumah, sekolah, atau tempat kerja. Kadang, teknik ini digunakan secara tidak sadar ketika seseorang merasa tidak nyaman dengan topik yang sedang dibahas. Mengalihkan pembicaraan menjadi cara cepat untuk keluar dari situasi tersebut.

Sebagai gambaran, simak obralan antara orangtua dan anak. Ketika anak ditanya tentang nilai ulangan yang menurun, ia justru mulai bercerita tentang guru yang terlalu sering memberi tugas atau tentang temannya yang juga mengalami kesulitan belajar. Pembicaraan akhirnya bergeser ke pengalaman di sekolah, sementara pertanyaan tentang nilai ulangan tidak lagi dibahas secara langsung.

4. Banyak dipakai dalam media dan politik

ilustrasi tokoh politik
ilustrasi tokoh politik (pexels.com/Werner Pfennig)

Di dunia media dan politik, red herring sering digunakan untuk membentuk persepsi publik. Dengan mengangkat isu lain yang lebih emosional atau kontroversial, perhatian masyarakat dapat diarahkan menjauh dari persoalan utama. Strategi ini bekerja karena manusia cenderung mudah tertarik pada topik yang memancing reaksi kuat.

Sebagai contoh, sebuah lembaga mendapat kritik mengenai penggunaan anggaran. Alih-alih menjelaskan detail penggunaan dana, pihak terkait justru menyoroti prestasi program mereka atau membicarakan keberhasilan kegiatan sosial yang telah dilakukan. Prestasi tersebut mungkin benar adanya, tetapi tidak berkaitan langsung dengan pertanyaan mengenai transparansi anggaran.

5. Membuat diskusi menjadi tidak fokus

ilustrasi diskusi
ilustrasi diskusi (pexels.com/Mikhail Nilov)

Salah satu dampak utama red herring ialah membuat pembicaraan kehilangan arah. Ketika perhatian terus dialihkan ke berbagai topik lain, masalah utama menjadi sulit diselesaikan. Diskusi yang seharusnya mencari solusi akhirnya berubah menjadi rangkaian topik yang saling tidak berkaitan.

Situasi ini sering terlihat dalam rapat kerja. Sebuah tim mungkin sedang membahas keterlambatan proyek, tetapi percakapan tiba-tiba beralih ke masalah jadwal libur, sistem kerja lama, atau bahkan cerita pengalaman proyek sebelumnya. Tanpa disadari, waktu rapat habis untuk membicarakan banyak hal, sementara persoalan awal yang ingin diselesaikan justru belum menemukan jawaban.

Memahami konsep red herring membantu seseorang lebih peka terhadap arah sebuah percakapan. Ketika menyadari adanya pengalihan isu, pembicaraan bisa kembali diarahkan ke masalah utama yang sebenarnya perlu dibahas. Dengan begitu, diskusi menjadi lebih fokus dan tidak mudah terseret ke topik yang sebenarnya tidak relevan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us