ilustrasi curhat (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)
Teman yang selalu dicari ketika kamu punya masalah rumah tangga lama-lama bisa capek juga. Bukan karena tidak mau membantu, tetapi karena hubungan terasa berat sebelah. Ketika hidup sedang baik, mereka kamu anggap tidak ada. Ketika rumah tangga sedang kacau, baru sibuk mencari tempat bersandar. Kalau hal semacam ini berlangsung bertahun-tahun, sangat mungkin teman akhirnya melakukan mirroring atas apa yang kamu perbuat selama ini.
Keputusan untuk menjaga jarak juga tidak selalu berarti teman sudah tidak peduli. Bisa jadi dia masih sayang, masih mendoakan, bahkan masih mau membantu jika memang terjadi sesuatu yang serius. Hanya saja, dia tidak mau terus berada dalam posisi sebagai orang yang baru dianggap penting ketika kehidupan rumah tangga sedang berantakan.
Mereka bukan tempat sampah untuk kamu lupakan emosi. Saat mereka menasehati, tak jarang kamu pun berkata, "Kalau orang yang belum nikah ya mana ngerti". Menjadi teman seseorang yang sudah menikah memang berarti memahami bahwa hidupnya berubah, tetapi memahami perubahan itu tidak mengharuskan seseorang rela diperlakukan sesuka hati.
Pernikahan memang membuat kamu punya kehidupan baru, tetapi teman lama tidak otomatis menjadi bagian dari masa lalu. Hubungan pertemanan boleh berubah bentuk, frekuensi bertemu boleh berkurang, dan obrolan mungkin tidak lagi sepanjang dulu. Sebab, yang sering membuat hubungan benar-benar renggang justru bukan karena kamu sudah menikah, melainkan karena setelah mendapatkan pasangan, kamu merasa tidak perlu lagi menjaga hubungan bersama orang-orang yang dulu selalu ada untuknya.