Pelajaran dari Kasus Perceraian, Lihat Hubunganmu dengan Pasangan

- Rumah tangga punya ujian masing-masing, seperti kesulitan ekonomi dan masalah momongan
- Cinta butuh usaha, banyak yang bercerai karena kurang merawat hubungan
- Anak sering menjadi korban perceraian, tapi kadang juga diselamatkan dari nasib buruk
Kasus perceraian yang mencuat ke publik melalui pemberitaan tidak hanya terjadi di kalangan public figure. Perpisahan suami istri di kalangan masyarakat biasa pun tak sedikit yang diberitakan. Biasanya karena ada kejadian tragis yang menyertainya.
Seperti perceraian akibat perselingkuhan dengan saudara ipar atau mertua. Cerai yang diwarnai dengan kekerasan dalam rumah tangga bahkan hingga pembunuhan. Misalnya, seorang pria gak terima mantan istrinya menikah lagi pasca bercerai dengannya.
Dari semua kasus perpisahan suami istri, ada banyak pelajaran dari kasus perceraian yang dapat dipetik. Jangan sibuk menghakimi pihak mana pun. Cukup enam hal berikut menjadi catatan penting supaya sebisa mungkin dirimu gak mengalami kepahitan yang sama dalam berumah tangga.
1. Setiap rumah tangga punya ujian masing-masing

Jangankan perkawinan antara dua orang. Tiap orang saja pasti punya ujian hidup masing-masing. Ada rumah tangga yang diuji dengan kesulitan ekonomi. Namun, hubungan suami istri tetap harmonis.
Mereka saling menguatkan untuk bertahan serta memperbaiki taraf perekonomian keluarga. Terdapat pula pernikahan yang diuji dengan momongan yang tidak kunjung datang sehingga adopsi menjadi pilihan. Lalu seperti kasus yang mencuri perhatianmu, perceraian karena berbagai sebab.
Ada kepala keluarga yang menelantarkan anak istri, perselingkuhan, KDRT fisik, dan sebagainya. Ujian dalam rumah tangga lain jangan membuatmu merasa keluarga kecilmu sempurna. Kalaupun sampai sekarang perkawinan terasa baik-baik saja boleh jadi ujian besarnya hanya belum muncul.
2. Merawat cinta ternyata butuh usaha, tidak cukup secara alami

Hampir semua orang saat ini menikah karena cinta. Tidak seperti dahulu saat banyak orang menikah sebab perjodohan. Akan tetapi, nyatanya cinta di awal tak menjamin hubungan mereka langgeng hingga maut memisahkan.
Tidak sedikit suami istri yang bercerai setelah belasan bahkan puluhan tahun menikah. Banyak orang sampai tak habis pikir. Apa lagi yang dicari mereka? Di samping berbagai persoalan yang mewarnai pernikahan, boleh jadi ini lantaran cinta yang kurang dirawat.
Orang merasa terlalu puas di awal karena menikah dengan kekasih yang amat dicintai. Mereka begitu percaya diri bakal bahagia bersama hingga tua. Tanpa sadar, banyak hal kemudian diabaikan. Perhatian tidak lagi sama antara sebelum dan sesudah menikah.
Malah dari tahun ke tahun mereka lebih sering saling galak. Penampilan juga dianggap tak penting lagi sehingga daya tarik serta rasa berdebar-debar makin berkurang. Lalu akhirnya ketertarikan hilang sama sekali.
3. Anak paling sering menjadi korban

Anak bahkan kerap tidak punya kesempatan buat menyuarakan pendapatnya. Kedua orangtua cuma fokus pada pendapat masing-masing. Belum lagi jika mereka justru saling melemparkan tanggung jawab tentang pengasuhan dan masa depan anak.
Tidak sedikit anak yang akhirnya hidup bersama kakek dan nenek atau om serta tantenya. Bahkan ada pula anak yang begitu saja ditinggalkan sebatang kara. Anak seperti harus menanggung seluruh akibat dari perpisahan orangtua.
Ketika ia masih kecil barangkali dampak dari perceraian orangtua belum tampak. Dia masih seceria anak-anak lain. Namun, ketika ia dewasa baru luka-luka itu terlihat makin jelas. Bahkan dapat sampai terjadi penyimpangan perilaku.
4. Namun, kadang juga menyelamatkan anak dari nasib yang lebih buruk

Namun, apakah perceraian selalu negatif? Tentu tidak. Tergantung dengan apa perpisahan pasangan tersebut dibandingkan. Kalau keluarga baik-baik saja sudah pasti gak perlu terjadi perceraian.
Akan tetapi, perceraian juga dapat menjadi jalan terbaik bukan hanya untuk suami istri, melainkan juga anak. Contohnya, anak yang sering dianiaya oleh salah satu orangtuanya. Berbagai cara telah coba dilakukan buat menghentikannya.
Namun, penganiayaan terus terjadi. Daripada anak mengalami cacat permanen, trauma psikis yang tak pernah sembuh, bahkan kehilangan nyawa; lebih baik orangtua bercerai. Hak asuh anak bakal otomatis jatuh ke ayah atau ibu yang tidak melakukan penganiayaan.
5. Ada mantan pasangan yang berseteru, ada juga yang akur

Kebanyakan kasus perceraian yang terekspos memang karena pertikaian hebat. Media dapat memberitakannya berulang-ulang dalam waktu bulanan bahkan tahunan. Namun, tidak dimungkiri ada pula perceraian yang sangat tenang dan bikin masyarakat heran.
Menjelang, selama, sampai setelah perpisahan terjadi mereka masih terlihat baik-baik saja. Ini bukan hal yang mudah dilakukan dengan kepura-puraan. Besar kemungkinan mereka telah berhasil menenangkan badai dalam diri masing-masing.
Ego diturunkan sedemikian rupa demi perceraian minim drama. Rumah tangga yang tidak berakhir bahagia saja sudah menjadi pukulan berat bagi keduanya. Mereka tak mau memperburuk keadaan apalagi psikis anak dengan cekcok berkepanjangan.
6. Pentingnya perempuan memiliki penghasilan sendiri

Tentu tidak hanya perempuan yang harus memiliki penghasilan sendiri. Pria pun sama. Namun, dalam kasus perceraian suami istri, banyak perempuan terseok-seok melanjutkan hidupnya karena gak punya pekerjaan.
Satu sisi, seorang ibu lega bila hak asuh anak jatuh ke tangannya. Di sisi lain, ada tanggung jawab finansial yang amat besar dan akan terus meliputinya hingga anak dewasa. Kalau perempuan bekerja sejak masih menikah, tentu ia dapat mengemban tanggung jawab tersebut dengan lebih baik.
Malah hidupnya bersama anak-anak akan lebih sejahtera jika selama ini suaminya malah minta dinafkahi. Tanpa pekerjaan dan pendapatan, perempuan yang bercerai dapat seperti keluar dari mulut buaya dan masuk ke kandang singa. Kesulitan sambung-menyambung hingga bikin putus asa.
Jangan hanya larut dalam serunya berita perseteruan pasangan yang bercerai. Nanti kamu cuma sibuk menghakimi tanpa mempelajari hal-hal penting dari peristiwa tersebut. Baik dirimu sudah menikah atau masih lajang, memetik pelajaran dari kasus perceraian adalah langkah bijak buat mencegahmu jatuh ke lubang yang sama.



















