ilustrasi chat dengan PDKT (pexels.com/Maksim Goncharenok)
Membalas pesan bukan satu-satunya bentuk perhatian dalam sebuah hubungan. Seseorang bisa saja baru membalas setelah beberapa jam, tetapi ketika akhirnya menjawab, ia benar-benar membaca pesan, memberikan respons yang relevan, dan mengingat hal-hal yang sebelumnya kamu ceritakan.
Sebaliknya, seseorang bisa membalas dalam hitungan detik tetapi hanya memberikan jawaban singkat tanpa benar-benar memperhatikan isi percakapan. Dalam psikologi hubungan, konsep yang lebih penting adalah perceived partner responsiveness, yaitu sejauh mana seseorang merasa pasangannya memahami, memvalidasi, dan peduli terhadap dirinya.
Peneliti Beyzanur Arican-Dinc dan Shelly L. Gable menjelaskan bahwa responsivitas bukan sekadar memberikan respons. Hal ini juga berkaitan dengan apakah seseorang merasa pikirannya dipahami, posisinya divalidasi, dan kesejahteraannya diperhatikan.
"Persepsi terhadap responsivitas telah lama dipandang sebagai konstruksi mendasar dalam pengembangan dan pemeliharaan keintiman dalam hubungan romantis. Persepsi terhadap responsivitas merupakan elemen kunci yang mendasari interaksi dalam berbagai konteks, seperti dukungan sosial, rasa syukur, dan interaksi capitalization (berbagi kabar baik)," tambahnya dikutip dari studi Responsiveness in romantic partners' interactions dalam PubMed.
Jadi, perceived responsiveness ini berkaitan dengan sejauh mana seseorang merasa dipahami, divalidasi, dan dipedulikan oleh pasangan atau orang yang berinteraksi dengannya. Jadi, kecepatan membalas bukan satu-satunya ukuran apakah seseorang responsif atau tidak.