Pernikahan seharusnya menjadi keputusan yang diambil secara sadar oleh kedua pihak, bukan karena merasa dikejar usia, tuntutan keluarga, atau tekanan lingkungan. Kamu mungkin merasa harus segera menikah karena sudah berpacaran bertahun-tahun, takut mengecewakan orang tua, atau malu membatalkan persiapan yang sudah berjalan.
Namun, semua alasan tersebut tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk melanjutkan pernikahan. Coba tanyakan kembali kepada diri sendiri apakah kamu benar-benar ingin menikah dengan pasangan saat ini. Jika gak ada tekanan dari keluarga atau lingkungan, apakah kamu tetap akan memilihnya?
Rasa gugup menjelang pernikahan memang wajar, tetapi jika ada keraguan mendasar yang terus kamu abaikan, kamu berhak mengambil waktu untuk mempertimbangkannya. Menunda pernikahan bukan berarti gagal dalam hubungan, melainkan memberikan kesempatan untuk mengambil keputusan dengan lebih matang.
Mengenali tanda kamu harus "stop the wedding" gak berarti langsung mengakhiri hubungan setiap kali menghadapi masalah. Namun, berbagai red flag seperti kekerasan, perselingkuhan berulang, perilaku mengontrol, hingga ketidakjujuran finansial gak boleh dianggap sepele. Ingat, keselamatan, kenyamanan, dan kesiapanmu adalah prioritas utama!