Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi pernikahan (pexels.com/Seljan Salimova)

  • Tren "stop the wedding" mengajak calon pasangan peka terhadap red flag sebelum menikah.

  • Perbedaan prinsip hidup, hilangnya kebebasan menjadi diri sendiri, ketimpangan tanggung jawab rumah tangga, dan ketidakjujuran finansial perlu dibahas serta diselesaikan sebelum pernikahan.

  • Pernikahan bukan jaminan pasangan berubah dan tidak seharusnya diputuskan karena tekanan usia, keluarga, atau lingkungan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Akhir-akhir ini, tren "Stop the Wedding" tengah ramai diperbincangkan di berbagai media sosial. Gak sekadar menjadi tren viral, konten-konten yang mengangkat tema ini juga mengajak banyak orang untuk lebih peka terhadap keraguan dan masalah dalam hubungan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.

Sinyal inilah yang menjadi tanda kamu harus "stop the wedding" dan tak harus memaksakan pernikahan. Ada sejumlah red flag dalam hubungan yang perlu diperhatikan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.

Lantas, apa saja tanda kamu harus mempertimbangkan untuk menunda atau membatalkan pernikahan? Yuk, simak penjelasannya!

1. Pasangan pernah melakukan kekerasan fisik

ilustrasi menikah (freepik.com/freepik)

Kekerasan fisik menjadi salah satu red flag serius yang tidak boleh diabaikan sebelum menikah. Tindakan seperti memukul, menampar, mendorong, mencekik, hingga mengancam secara fisik maupun verbal merupakan perilaku yang dapat membahayakan keselamatan. 

Jadi, jangan menganggap tindakan tersebut sebagai luapan emosi sesaat yang akan otomatis hilang setelah kalian menikah. Selain itu, kamu juga perlu memperhatikan jika pasangan hanya meminta maaf dan berjanji berubah setelah melakukan kekerasan, tetapi kemudian mengulanginya lagi. 

Cinta bukan alasan untuk mempertaruhkan keselamatan diri sendiri, ya, Guys! Jika pasangan pernah melakukan kekerasan, kamu berhak mengambil jarak dan mempertimbangkan kembali rencana pernikahan.

2. Pasangan berulang kali berselingkuh

Perselingkuhan yang dilakukan berulang kali dapat menjadi tanda bahwa pasangan gak menghargai komitmen dalam hubungan. Terlebih, jika ia terus berbohong, menyembunyikan komunikasi dengan orang lain, atau selalu memiliki alasan ketika ketahuan berselingkuh. 

Perilaku tersebut dapat merusak kepercayaan yang menjadi salah satu fondasi penting dalam pernikahan. Jangan berharap status pernikahan otomatis membuat seseorang menjadi setia jika ia sendiri tidak menunjukkan kemauan untuk berubah.

3. Pasangan terlalu mengontrol kehidupanmu

ilustrasi pasangan mengganti topik pembicaraan setiap disinggung masalah keuangan (pexels.com/Vitaly Gariev)

Perhatian dan kepedulian dalam hubungan memang penting, tetapi keduanya berbeda dengan perilaku mengontrol. Kamu perlu waspada jika pasangan mulai melarangmu bertemu teman, mengatur pakaian, memeriksa ponsel tanpa izin, hingga membatasi hubunganmu dengan keluarga. 

Ia mungkin berdalih bahwa semua itu dilakukan karena rasa sayang, padahal perilaku tersebut dapat membatasi kebebasanmu. Hubungan yang sehat seharusnya tetap memberikan ruang bagi masing-masing pihak untuk memiliki kehidupan pribadi. 

Pasangan boleh menyampaikan kekhawatiran atau pendapat, tetapi bukan berarti ia berhak menentukan seluruh keputusan hidupmu, ya. Jika perilaku mengontrol terus terjadi hingga membuatmu kehilangan kebebasan, hal tersebut patut dipertimbangkan sebelum menikah!

4. Hubungan dipenuhi pertengkaran tanpa penyelesaian

Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam hubungan. Namun, kamu perlu mengevaluasi kembali hubungan jika pertengkaran terus terjadi dengan topik yang sama tanpa penyelesaian. 

Misalnya, setiap konflik berakhir dengan saling menyalahkan, menghindari pembicaraan, atau melakukan silent treatment. Kebiasaan bersikap dingin dan tidak mau berkomunikasi setiap kali terjadi masalah dapat membuat konflik semakin sulit diselesaikan. 

Jika pola tersebut terus berulang, masalah yang belum terselesaikan bisa terbawa ke kehidupan pernikahan. Sebelum melanjutkan rencana pernikahan, pastikan kalian mampu berkomunikasi secara terbuka dan mencari solusi bersama ketika menghadapi perbedaan pendapat, ya,

5. Memiliki prinsip hidup yang bertolak belakang

ilustrasi pasangan bertengkar, argumentasi, konflik, konfrontasi, adu pendapat (magnific.com/Drazen Zigic)

Cinta saja gak selalu cukup untuk menyatukan dua orang dalam pernikahan, ya, Teman-teman! Kamu dan pasangan juga perlu membicarakan prinsip serta tujuan hidup yang akan dijalani bersama. 

Misalnya, perbedaan pandangan mengenai keputusan memiliki anak, melanjutkan karier, atau menentukan tempat tinggal setelah menikah. Perbedaan tersebut sebenarnya tidak selalu menjadi masalah selama kalian bisa berdiskusi dan menemukan kesepakatan. 

Namun, jika masing-masing pihak memiliki pendirian yang sulit dikompromikan, konflik bisa terus muncul setelah menikah. Oleh karena itu, jangan mengabaikan perbedaan prinsip yang berkaitan dengan keputusan besar dalam kehidupan rumah tangga.

6. Kamu gak bisa menjadi diri sendiri saat bersamanya

Pernah merasa harus menyembunyikan karakter asli atau mengurangi kegiatan yang kamu sukai agar pasangan tetap menyukaimu? Jika iya, coba evaluasi kembali dinamika hubungan kalian. 

Kamu mungkin merasa perlu selalu mengikuti keinginannya karena takut mendapat kritik, penolakan, atau pertengkaran. Padahal, hubungan yang sehat seharusnya membuat kedua pihak merasa diterima tanpa harus kehilangan identitas masing-masing. 

Kamu tetap berhak memiliki minat, pendapat, dan kehidupan pribadi. Jika selama menjalin hubungan kamu justru merasa gak bebas menjadi diri sendiri, hal tersebut patut dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk menikah.

7. Pasangan gak mau berbagi tanggung jawab rumah tangga

ilustrasi pasangan berdebat (pexels.com/ Yan Krukau)

Perlu dipahami bahwa prnikahan bukan hanya tentang membangun hubungan romantis, tetapi juga menjalani berbagai tanggung jawab bersama. Karena itu, kamu perlu memperhatikan bagaimana pasangan memandang pembagian pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak. 

Kamu perlu mewaspadai jika pasanganmu menganggap memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, hingga mengurus anak sepenuhnya menjadi tugas seorang istri. Pembagian tanggung jawab memang bisa disesuaikan dengan kondisi dan kesepakatan masing-masing pasangan. 

Namun, keduanya perlu memiliki kesadaran untuk saling membantu dan menghargai kontribusi satu sama lain. Jika pasangan gak mau berdiskusi atau menganggap pekerjaan rumah hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, kalian perlu menyelesaikan perbedaan pandangan ini sebelum menikah.

8. Pasangan gak jujur dan gak bertanggung jawab soal keuangan

Keterbukaan mengenai kondisi keuangan menjadi salah satu hal penting sebelum menikah. Kamu perlu waspada jika pasangan menyembunyikan utang, memiliki kebiasaan berutang tanpa tanggung jawab, berjudi, atau menghamburkan uang hingga membebani orang lain. 

Perilaku tersebut bisa menjadi masalah serius ketika kalian mulai mengelola keuangan rumah tangga bersama. Namun, perlu dipahami bahwa memiliki utang bukan berarti seseorang otomatis gak layak menjadi pasangan. 

Hal yang perlu kamu perhatikan adalah kejujuran dan tanggung jawabnya dalam mengelola keuangan. Sebelum menikah, sebaiknya diskusikan kondisi finansial masing-masing agar gak ada masalah tersembunyi yang baru diketahui setelah menjalani kehidupan rumah tangga.

9. Kamu berharap pasangan berubah setelah menikah

ilustrasi pasangan yang sedang mengalami kecemasan dalam hubungannya. (Unsplash.com/vitalygariev)

Berharap pasangan menjadi pribadi yang lebih baik memang gak salah. Namun, kamu perlu berhati-hati jika alasan utama tetap melanjutkan hubungan adalah keyakinan bahwa ia akan berubah setelah menikah. 

Misalnya, kamu berharap pasangan yang pemarah menjadi lebih sabar, lebih bertanggung jawab, berhenti merendahkanmu, atau mulai mau menyelesaikan masalah setelah resmi menjadi suami istri. Ingat, ya, teman-teman! Pernikahan bukan jaminan bahwa seseorang akan berubah secara otomatis. 

Perubahan membutuhkan kesadaran, kemauan, dan tindakan nyata dari orang yang bersangkutan. Karena itu, jangan hanya berpegang pada janji atau harapan tentang sosok pasangan di masa depan. Perhatikan bagaimana ia memperlakukanmu saat ini sebelum mengambil keputusan besar.

10. Kamu menikah karena tekanan

Pernikahan seharusnya menjadi keputusan yang diambil secara sadar oleh kedua pihak, bukan karena merasa dikejar usia, tuntutan keluarga, atau tekanan lingkungan. Kamu mungkin merasa harus segera menikah karena sudah berpacaran bertahun-tahun, takut mengecewakan orang tua, atau malu membatalkan persiapan yang sudah berjalan. 

Namun, semua alasan tersebut tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk melanjutkan pernikahan. Coba tanyakan kembali kepada diri sendiri apakah kamu benar-benar ingin menikah dengan pasangan saat ini. Jika gak ada tekanan dari keluarga atau lingkungan, apakah kamu tetap akan memilihnya? 

Rasa gugup menjelang pernikahan memang wajar, tetapi jika ada keraguan mendasar yang terus kamu abaikan, kamu berhak mengambil waktu untuk mempertimbangkannya. Menunda pernikahan bukan berarti gagal dalam hubungan, melainkan memberikan kesempatan untuk mengambil keputusan dengan lebih matang.

Mengenali tanda kamu harus "stop the wedding" gak berarti langsung mengakhiri hubungan setiap kali menghadapi masalah. Namun, berbagai red flag seperti kekerasan, perselingkuhan berulang, perilaku mengontrol, hingga ketidakjujuran finansial gak boleh dianggap sepele. Ingat, keselamatan, kenyamanan, dan kesiapanmu adalah prioritas utama!

Curated For You

Editorial Team

Related Article