“Dari situ kita berkolaborasi, kita mulai mencari cara bagaimana membuat life span (masa pakai) lebih panjang dan kemudian mengajarkan karyawan kita bahwa seragam bekas ini sebetulnya bisa berkontribusi langsung terhadap lingkungan. Maka sejak tahun 2023, semua hasil seragam yang kita olah kembali itu kita membuat sebuah cost. Cost-nya adalah setiap seragam jadi upcycle, dibeli oleh karyawan, kemudian kita sumbangkan untuk mangrove,” ungkap Aleta.
Kolaborasi OCBC dan UKM Dorong Gaya Hidup Berkelanjutan

- OCBC memperkenalkan inisiatif RISE dalam Upcydea Festival 2026 untuk menjadikan sustainability sebagai kebiasaan harian melalui pemanfaatan ulang barang dan circular fashion.
- Sejak 2023, seragam bekas karyawan OCBC di-upcycle, lalu dibeli karyawan; dana hasilnya disumbangkan untuk mangrove sebagai bagian pengelolaan sourcing, operasional, dan limbah.
- OCBC menggandeng UKM perempuan serta mentor untuk mengolah barang tak terpakai menjadi produk inovatif bernilai jual, memperpanjang usia pakai, mengurangi limbah, dan membuka peluang ekonomi.
Jakarta, IDN Times – Gaya hidup berkelanjutan atau sustainability masih sering dianggap sebagai sesuatu yang rumit dan sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, keberlanjutan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, mulai dari mengubah kebiasaan, memanfaatkan kembali barang yang sudah tidak terpakai, hingga menciptakan inovasi baru yang memberi nilai lebih bagi lingkungan dan masyarakat.
Melalui media gathering Upcydea Festival 2026 yang digelar OCBC di OCBC Tower, Karet Kuningan, Jakarta Selatan, pada Rabu (5/8/2026), OCBC mengajak masyarakat melihat bahwa sustainability bukan sekadar konsep, melainkan gaya hidup yang bisa diterapkan setiap hari. Bersama Aleta Hanafi selaku Brand & Communication Head OCBC, desainer Billy Tjong, serta Petty Fatimah selaku Women's Entrepreneurship Advocate, Communication Strategist, dan Lecturer, OCBC juga memperkenalkan RISE (Responsible Innovation for Sustainable Everyday Lifestyle), sebuah inisiatif yang mendorong kolaborasi dengan UKM perempuan untuk mengubah waste menjadi value melalui inovasi dan circular fashion. Berikut penjelasannya.
1. Mengajak karyawan memanfaatkan barang yang sudah tidak terpakai

Komitmen OCBC terhadap gaya hidup berkelanjutan dimulai dari lingkungan internal perusahaan. Aleta Hanafi menjelaskan bahwa inisiatif ini berangkat dari keinginan untuk membangun kesadaran bahwa hidup berkelanjutan merupakan hal yang mudah dilakukan setiap hari. Program tersebut berfokus pada tiga aspek utama, yaitu sourcing, operational, dan waste, dengan tujuan mengubah pola pikir bahwa sustainability bukan lagi sesuatu yang langka, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memanfaatkan kembali seragam karyawan yang sudah tidak digunakan melalui proses upcycle. Program ini menjadi upaya OCBC untuk mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai lebih melalui konsep circular fashion.
2. Mendorong lahirnya inovasi dan kreativitas

Selain mengurangi limbah, gaya hidup berkelanjutan juga dinilai mampu melahirkan kreativitas dan inovasi. OCBC melihat bahwa barang-barang yang sudah tidak terpakai masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk baru yang lebih bernilai apabila dipadukan dengan ide dan kreativitas.
Menurut Aleta, sustainability tidak hanya berkaitan dengan menjaga lingkungan, tetapi juga mampu memunculkan berbagai inovasi baru. Karena itu, OCBC menghadirkan Billy Tjong dan Petty Fatimah sebagai mentor yang membantu pelaku UKM mengembangkan ide kreatif melalui program ini.
“Kita merasa bahwa sustainability itu gaya hidup, tapi juga akan menimbulkan spark inovasi. Di situlah makanya kami ada Kak Billy, Kak Petty, yang membantu kita untuk mementor," tambah Aleta.
Melalui pendampingan tersebut, OCBC ingin mengajak masyarakat memandang barang bekas bukan sebagai limbah, melainkan sebagai bahan yang dapat diolah menjadi produk baru yang memiliki nilai lebih melalui kreativitas dan inovasi.
3. Berkolaborasi dengan UKM menciptakan produk yang berkelanjutan

Tidak hanya diterapkan di lingkungan internal perusahaan, OCBC juga menggandeng UKM perempuan untuk bersama-sama membangun ekosistem circular economy. Kolaborasi ini bertujuan mengolah barang yang sudah tidak terpakai menjadi produk baru sekaligus memperpanjang masa pakainya agar tidak berakhir di tempat pembuangan akhir (landfill).
Menurut Petty Fatimah, konsep sustainability tidak hanya berbicara mengenai proses daur ulang, tetapi juga bagaimana sebuah produk dirancang agar memiliki umur pakai yang lebih panjang melalui prinsip reduce, reuse, dan recycle.
“Jadi ketika kita menciptakan suatu produk, kita harus mulai berpikir bagaimana caranya memperpanjang usia produk itu sepanjang-panjangnya yang bisa dilakukan agar tidak cepat-cepat masuk ke landfill. Itu sebabnya ada recycle, reduce, reuse dan lain-lainnya,” jelasnya.
Melalui kolaborasi ini, OCBC berharap semakin banyak UKM yang mampu menghadirkan produk-produk inovatif sekaligus menerapkan prinsip keberlanjutan dalam proses bisnisnya.
4. Membuka peluang ekonomi melalui produk hasil upcycle

Kolaborasi bersama UKM juga menjadi upaya OCBC untuk menciptakan nilai ekonomi dari barang-barang yang sebelumnya dianggap sebagai limbah. Dalam program ini, Billy Tjong turut memberikan perspektif dari dunia fashion agar produk hasil upcycle tetap memiliki desain yang menarik dan tidak terlihat seperti barang bekas.
“Kita juga memberikan cara pandang berbeda, bagaimana caranya supaya produk yang dihasilkan itu nggak kelihatan kuno, nggak kelihatan kayak bekas, tapi itu adalah sesuatu yang baru yang tidak dilihat sebagai 'oh ini kayak seragam bekas nih’, sepertinya enggak bisa lagi dipakai,” ujar Billy.
Melalui program mentorship, OCBC memberikan ruang bagi para pelaku UKM untuk mengembangkan kreativitas dalam mengolah barang yang sudah tidak terpakai menjadi produk dengan nilai jual yang lebih tinggi. Dengan demikian, sustainability tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi para pelaku usaha.
Melalui kolaborasi bersama UKM, OCBC ingin menunjukkan bahwa sustainability bukan hanya sebatas mendaur ulang barang bekas. Lebih dari itu, gaya hidup berkelanjutan dapat menjadi cara untuk menjaga lingkungan, mengurangi limbah, menciptakan inovasi, sekaligus menghadirkan nilai ekonomi dari barang yang sebelumnya dianggap tidak lagi memiliki manfaat.




















