Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Misi Pemberdayaan Nadya Saib, dari Wangsa Jelita ke Well-Being Journey
Nadya Saib, co-founder Well-Being Journey (dok. Nadya Saib)
  • Nadya Saib merintis Wangsa Jelita sejak 2008 dengan misi produk perawatan natural dan pemberdayaan petani, pengrajin lokal, serta komunitas.
  • Pandemi membuat produksi Wangsa Jelita terhenti setelah dua pabrik mitra bangkrut; Nadya menutup bisnis pada 2021 dan mengalihkan fokus ke pemberdayaan individu.
  • Melalui Well-Being Journey, Nadya mengembangkan journaling, kelas, dan program 14 Hari Menulis Jurnal sebagai ruang refleksi diri, sambil menegaskan kebutuhan bantuan profesional untuk masalah berat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Di kehidupan ini, selalu ada orang yang datang dan pergi, selalu ada yang bertahan dan dilepaskan. Ada kalanya hidup memaksa seseorang untuk menutup suatu hal yang sudah dibangun dengan susah payah. Bukan karena menyerah, tapi keadaan yang tidak memberi ruang untuk bertahan.

Setelah 12 tahun merintis Wangsa Jelita, Nadya Saib memilih melepaskannya. Justru dari situlah, ia menemukan kembali panggilan hidupnya untuk memberdayakan orang lain lewat journaling. Perjalanan panjang co-founder Well-Being Journey ini bukan bukti dari kesuksesan yang mulus melainkan bukti bahwa selalu ada rencana yang jauh lebih indah untuk menggantikan apa yang pernah hilang. Ini dia obrolan hangat Nadya Saib dengan IDN Times mengenai perjalanannya dari membangun Wangsa Jelita hingga Well-Being Journey.


1. Visioner, Nadya sudah tahu apa yang mau diraihnya sejak dini

WJ Community Gathering (dok. Nadya Saib)

Gak semua orang bisa menentukan arah hidupnya sejak dini . Namun, Nadya sudah punya rencana yang matang sejak duduk di bangku SMA.

“Aku pede (percaya diri) banget dulu ambil farmasi. Bukan karena aku pengin jadi apoteker, aku pengin punya bisnis di bidang kosmetik dan itu aku udah tahu dari SMA. Jadi, dari SMA, orang udah nanya mau kuliah di mana? Aku udah tahu, jawabanku adalah Farmasi ITB (Institut Teknologi Bandung),” ceritanya saat ditemui IDN Times secara langsung di daerah Tebet, Jakarta Selatan, pada Sabtu (27/6/2026).

Apa yang diyakininya benar-benar menjadi kenyataan. Di tahun 2008, ia lulus sebagai Sarjana Farmasi dan langsung melanjutkan pendidikan apoteker. Tepat di 2008 juga, ia membangun Wangsa Jelita, brand yang mengeluarkan produk personal care berbahan natural, bersama teman-temannya. Sekalipun berbekal ilmu apoteker, Nadya justru lebih tertarik mengerjakan hal-hal di luar pengembangan produk.

Nama Wangsa Jelita sendiri punya makna yang begitu indah. Nadya mengambil nama tersebut dari bahasa Sanskerta, artinya dinasti yang cantik. Nama ini menggambarkan apa yang ia kerjakan, yaitu mengeluarkan produk-produk kecantikan.

“Penginnya adalah dinasti yang umurnya panjang. Gak cuma sekadar cantik karena ada di industri kecantikan, tapi kami juga ingin bisnis ini gak cuma mencari profit tapi juga ada misi yang dikejar,” lanjutnya.

Karena itu, sejak awal membangun Wangsa Jelita, Nadya berkolaborasi dengan banyak orang. Ketika konsep social entrepreneurship belum sepopuler sekarang, Nadya sudah melakukannya dengan menggaet para petani dan pengrajin lokal hingga mengadakan beberapa acara dengan komunitas. Ia ingin apa yang dikerjakannya juga bisa berdampak baik ke orang lain.


2. Lewat Wangsa Jelita, Nadya memperkenalkan bagaimana konsep natural untuk personal care product

WJ core team dan fasilitator (dok. Nadya Saib)

Yang dibawa oleh Wangsa Jelita adalah kejujuran tentang definisi “natural”. Selama ini, Nadya merasa banyak orang mempertanyakan apa yang dimaksud natural dalam suatu produk kecantikan. Menurutnya, gak ada pakem atau aturan yang bisa menjelaskan konsep tersebut.

“Bukan berarti gak ada bahan kimia, itu salah juga. Tapi bahan kimia yang dipakai memang harus terpilih. Jadi, 100 persen tidak ada bahan kimia yang berbahaya,” katanya.

Di Wangsa Jelita, ia dan tim bukan sekadar memperkenalkan kembali apa itu definisi natural. Tapi, juga mengedukasi masyarakat tentang bahan-bahan yang bermanfaat dan yang berpotensi berbahaya buat tubuh.

Wangsa Jelita tumbuh di saat industri kecantikan dan perawatan belum sebesar sekarang. Konsep natural yang dibawa pun bukan sekadar klaim melainkan bukti bahwa ada banyak bahan yang bisa dipakai untuk menciptakan produk-produk berkualitas. Bukan kosmetik melainkan produk-produk perawatan diri.

3. Well-Being Journey sudah ada sejak Wangsa Jelita masih berdiri

WJ Products (dok. Nadya Saib)

Well-Being Journey bukan komunitas yang baru dibangun. Sebelum pandemik membawa perubahan besar, Wangsa Jelita sudah bergerak untuk memberdayakan banyak perempuan. Sejak Wangsa Jelita masih berdiri, Nadya dan tim sudah membuat WJ Class, sebagai wujud visi mereka untuk menjadi brand yang berdampak. 

“WJ Class adalah kelas-kelas di mana perempuan bisa datang bersama-sama, melakukan refleksi, dan ada narasumbernya. Topiknya yang berhubungan dengan well-being, jadi ada physical well-being. Kita ajak perempuan untuk kumpul, belajar, semakin mengenal dirinya,” ucap Nadya.

Waktu itu, penerima Dean’s List of Outstanding Accomplishment Award ini masih memiliki masih punya keinginan besar untuk terus mendampingi perempuan memahami dirinya. Di tahun 2018, ia sudah membuat WJ Journal, yang sebenarnya berasal dari nama Wangsa Jelita.

Jurnal tersebut sengaja dibuat untuk membantu orang lain mengenali dan memahami dirinya, serta terbantu untuk menjalani hidup lebih berkesadaran.Tanpa disadari, inisiatif inilah yang menjadi batu loncatan menuju perubahan yang jauh lebih besar. Bukan sebagai Wangsa Jelita melainkan Well-Being Journey. 

4. Melepaskan Wangsa Jelita mengantarkannya pada misi sosial yang berdampak luas

WJ Community Gathering (dok. Nadya Saib)

Pandemik COVID-19 membawa kekalahan telak bagi beberapa industri di berbagai sektor, tak terkecuali bisnis Wangsa Jelita. Butuh usaha yang luar biasa untuk bisa menghidupkan kembali bisnisnya di era yang sulit. Sayangnya, Nadya tidak berhasil membawa Wangsa Jelita melewati krisis ini.

“Bisnisnya gak jalan. Kami, produksinya numpang ke beberapa pabrik. Dua pabrik yang kami tempati itu bangkrut, jadi gak bisa lanjutin produksinya,” jelasnya.

Di 2020 awal, Nadya masih merasa sanggup mengelola Wangsa Jelita. Namun, ia membuat keputusan besar di tahun 2021 dengan menutup Wangsa Jelita. Meski begitu, ia tidak punya penyesalan. Nadya justru melihat momentum ini untuk melangkah lebih jauh menuju arah yang lebih ia yakini.

“Sedih banget, iya, sampai ke psikolog, tapi penyesalan sih enggak. Mungkin buat aku, justru melihatnya, di satu sisi sedih karena ibaratnya punya anak dirawat terus harus ngelepasin. As in bukan melepaskan dia menjadi mandiri tapi melepaskan karena dia udah gak ada lagi. Tapi di saat yang sama, juga jadi motivasi buat aku karena dari dulu aku udah pengin fokus ke women empowerment,” sambungnya.

Membuat WJ Journal, membuka beberapa kelas, menyisakan rasa yang begitu menyenangkan daripada mengembangkan suatu produk. Pengalaman ini menyadarkannya banyak orang belum benar-benar mengenal dan jujur pada dirinya sendiri.

" (Bukan) Titik balik mungkin titik lompat kali ya, kan kita gak balik ya, tapi kita melompat ke yang lain," katanya, menggambarkan bagaimana ia memaknai penutupan Wangsa Jelita bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai batu loncatakan untuk suatu hal yang lebih baik.

5. Lahirnya Well-Being Journey

WJ Community Gathering (dok. Nadya Saib)

Menurut perempuan yang juga menjadi Life Coach ini, Wangsa Jelita lahir di waktu yang tepat ketika belum banyak orang tahu tentang topik seputar produk-produk personal care natural. Begitu pun dengan Well-Being Journey, ia merasa hadirnya wadah ini sangat sesuai dengan kebutuhan banyak orang. Secara branding, badan hukumnya resmi berganti nama menjadi PT Teman Tumbuh Bermakna, meninggalkan sepenuhnya identitas legal Wangsa Jelita yang lama.

Buat Nadya, journaling adalah alat refleksi diri yang sebenarnya sangat mudah diakses. Sebagai lulusan farmasi, Nadya melihat journaling seperti suplemen yang tentunya sangat memengaruhi kondisi emosional seseorang.

Ia melanjutkan, “Untuk kita memproses emosi yang ringan, menjaga stamina, mental health sehari-hari, journaling itu tepat. Tapi, kalau seandainya memang ada hal yang butuh bantuan profesional, journaling gak akan cukup. Ibaratnya, bantuan profesional itu obatnya dan obat gak bisa menggantikan suplemen.”

Filosofi itulah yang selalu ditekankan Nadya dan menjadi fondasi dalam setiap program Well-Being Journey. Ia tidak menjamin bahwa journaling bisa menjadi solusi dari setiap masalah. Justru, Nadya yang ikut mendorong agar orang lain mau berkonsultasi dengan psikolog kalau memang ada permasalahan berat yang gak bisa diselesaikan sendiri.

Yang rutin Nadya lakukan adalah journaling untuk memantau bagaimana kondisinya. Ia jadi lebih mengenal siapa dirinya dari rencana yang ia buat, bagaimana hari itu berjalan, dan apa pola yang muncul dari setiap kegiatannya.

“Biasanya, journaling memang spesifik untuk melihat kondisiku. Tapi, ketika aku butuh untuk memproses emosi, ya, aku baru cerita, aku baru nulis kejadiannya begini dan respons yang kuterima begini,” jelasnya.

Maka dari itu, hadirlah Well-Being Journey. Nadya mengatakan bahwa Well-Being Journey fokus memberikan intervensi kepada individu. Tujuannya agar mereka tahu bagaimana caranya berdaya, mengenal dirinya, tahu apa yang dia mau, tahu tujuan hidupnya, dan termotivasi.

6. Membangun ruang aman untuk tumbuh bersama

WJ Community Gathering (dok. Nadya Saib)

Sekarang Well-Being Journey semakin berkembang menjadi ruang aman untuk tumbuh bersama. Ia dan tim hadir untuk mendampingi individu memperdalam pemahaman diri sehingga bisa berkontribusi lebih bermakna bagi komunitas dan lingkungan sekitar 

Tiap tahunnya, Well-Being Journey mengadakan Community Gathering yang selalu mengangkat tentang cara mengenal diri sendiri melalui pendekatan journaling.

Di tahun 2025, Nadya sempat menggelar pertemuan ini di akhir tahun. Ia mengajak peserta untuk merefleksikan apa saja yang sudah terjadi di tahun 2025 dan apa yang diinginkan di tahun 2026. Nadya juga terbuka dengan setiap usul tema yang berhubungan dengan wellbeing supaya setiap orang bisa saling mendukung satu sama lain.

Well-Being Journey sendiri punya program andalan yang disebut 14 Hari Menulis Jurnal. Program ini dilakukan selama 14 hari dengan tema atau journaling prompt yang berbeda tiap harinya secara online.

Nadya memberi contoh, “Misalnya, topiknya sekarang yang lagi jalan itu burnout. Kami mengacu pada  buku Epidemic of Burnout. Jadi, dia merumuskan dari hasil penelitian, penyebab burnout itu apa saja. Itulah yang dijadikan bahan prompt. Jadi, setiap harinya kita mengulik penyebab burnout, gimana caranya supaya kita bisa lebih apresiatif.”

Nadya memandang 14 Hari Menulis Jurnal sebenarnya menjadi medium untuk seseorang mengenal siapa diri mereka. Setiap orang punya proses dan cerita kehidupan yang gak akan pernah sama. Itulah yang membuat mereka menjadi pribadi yang unik dan spesial.

“Aku rasa journaling itu sebenarnya sesuatu yang bisa dikemas menjadi hal yang semua orang suka. Cuma, orang suka bingung mulai dari mana, yang ditulis apa, terus mungkin ada rasa ketakutan kalau nanti tulisannya dibaca orang jadi malu. Bahkan, mungkin malu untuk jujur sama diri sendiri,” ucapnya.

Nadya beranggapan bahwa Well-Being Journey bukan bantuan profesional. Buatnya, komunitas ini adalah alat untuk kita bisa lebih mengenal diri sendiri dan dalam prosesnya ketemu sama orang-orang dengan semangat yang sama.

Ada banyak topik yang diangkat oleh Well-Being Journey. Selain burnout, ada juga topik romansa, batasan, dan finansial. Romansa fokus untuk mempersiapkan diri menjadi pasangan yang baik. Topik ini bisa menjadi bahan refleksi untuk mereka yang sudah atau belum punya pasangan untuk introspeksi diri bagaimana ia bisa menjadi orang yang tepat untuk pasangannya.

Well-Being Journey juga mengangkat tema tentang emosi. Mereka yang ikut 14 Hari Menulis Jurnal diajak untuk merefleksikan emosi apa yang muncul dalam diri mereka. Ada juga topik tentang luka hati, bagaimana memproses kehilangan, dan tema-tema tentang hubungan.

Meskipun ini menjadi ruang aman untuk orang-orang menuangkan cerita mereka, Nadya tetap membuat batasan agar semuanya saling menghormati. Nadya percaya semua orang punya jalannya masing-masing. Jadi, ia berharap mereka yang mengikuti program ini bisa saling menghargai dan menghormati kisah-kisah personal orang lain.

7. Kata Nadya Saib tentang individu yang berdaya

Nadya Saib, co-founder Well-Being Journey (dok. Nadya Saib)

“Aku berharap Well-Being Journey menjadi top of mind ketika orang-orang ngomongin journaling. Bukan untuk orang bisa journaling tapi supaya mereka bisa melihat manfaat dari journaling,” kata Nadya.

Dulunya Well-Being Journey memang hadir sebagai bentuk women empowerment. Namun, sekarang Nadya memandang Well-Being Journey sebagai pengembangan individu secara umum. Pasalnya, menurut Nadya, semua orang bisa berdaya.

“Individu yang berdaya itu menurutku adalah individu yang tahu dan memahami dan menerima dirinya seperti apa dan mampu menghormati itu dan berkontribusi sama orang sekitarnya. Menurutku dua hal itu tuh yang dibutuhkan untuk kita bisa berdaya dalam jangka panjang,” ucapnya.

Ia menekankan bahwa dua elemen ini - mengenal diri dan berkontribusi pada sekitarnya - harus berjalan bersamaan. Buatnya adalah hal yang percuma ketika seseorang belajar mengenal dirinya sendiri tetapi tidak berkontribusi. Sederhananya, apa yang kita pelajari akan lebih baik kalau dibagikan juga kepada orang lain.

Tak ada harapan yang muluk dari Nadya soal Well-Being Journey. Ia hanya ingin membuat orang merasa punya andil dan otoritas atas setiap keputusan dalam hidupnya. Justru, cerita-cerita orang lainlah yang membahagiakannya. Artinya, apa yang sudah ia perjuangkan selama ini tidak berlalu dengan sia-sia.

Perjalanan Nadya ini menunjukkan bagaimana kegigihannya untuk terus bereksperimen. Nadya merupakan gambaran perempuan yang mau untuk terus belajar dan berdaya. Meski berlatar belakang farmasi, ia justru mendalami berbagai ilmu lainnya, yang merupakan hasil praktik langsung bertahun-tahun.

Selain mengelola Well-Being Journey, Nadya juga menjalankan PT Kolaborasi Keberagaman Inklusif (KKI). Sebagai coach atau konsultan, Nadya banyak mendampingi organisasi dari berbagai negara serta platform yang membantu organisasi membangun sistem rekrutmen yang lebih sehat.

Bukan perjalanan karier yang mudah untuk Nadya, tapi kita bisa belajar bahwa kegigihan akan membukakan banyak pintu-pintu kesempatan baru yang mungkin tidak pernah direncanakan sebelumnya. Misi Nadya tetap sama, yaitu membantu individu berkembang menjadi versi terbaik dari diri mereka.

Apa yang dialami Nadya mengingatkan bahwa kehilangan bukanlah akhir, melainkan awal dari perubahan yang jauh lebih besar. Keberanian melepaskan sesuatu adalah hal yang patut diapresiasi dan bukan hal yang harus ditakuti. Dengan begitu, kita bisa melompat ke tempat yang lebih tinggi dengan membawa visi yang lebih besar.

Curated For You

Editorial Team

Related Article