Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Buku Sejarah Indonesia Resmi Diluncurkan Kemenbud, Gratis Diunduh!

Buku Sejarah Indonesia Resmi Diluncurkan Kemenbud, Gratis Diunduh!
Buku Sejarah Indonesia Resmi Diluncurkan Kemenbud (youtube.com/@kemenbud)
  • Kemenbud meluncurkan lima jilid awal Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global pada 31 Agustus 2026, sebagai pemutakhiran narasi nasional setelah hampir dua dekade.
  • Penyusunan selama setahun melibatkan 143 pakar dan penulis, 34 perguruan tinggi, serta 11 lembaga independen; Kemenbud menyerahkan substansi dan metodologi kepada sejarawan.
  • Buku mengusung perspektif Indonesia-sentris dan multidisipliner; lima dari total 10 jilid kini dapat dibaca daring serta diunduh gratis melalui pustakabudaya.id setelah membuat akun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) resmi meluncurkan lima jilid pertama buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global pada (31/8/2026), menandai pemutakhiran narasi sejarah nasional secara komprehensif setelah hampir dua dekade tidak mengalami pembaruan substansial. Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dalam Taklimat Media Peluncuran Buku Sejarah Indonesia dilansir YouTube Kemenbud pada (31/8/2026), menyebutkan penyusunan buku ini melibatkan 143 pakar dan penulis, 34 perguruan tinggi, serta 11 lembaga independen.

Kemenbud memosisikan diri sebagai fasilitator yang menyerahkan substansi, metodologi, dan narasi sepenuhnya kepada para sejarawan demi menjaga objektivitas dan kebebasan akademik. Yuk, simak lebih lengkap lima jilid Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global dan cara unduhnya secara gratis!

  1. 1. Proses panjang menuju pemutakhiran sejarah nasional

    Buku Sejarah Indonesia Resmi Diluncurkan Kemenbud (youtube.com/@kemenbud)
    Buku Sejarah Indonesia Resmi Diluncurkan Kemenbud (youtube.com/@kemenbud)

    Peluncuran lima jilid pertama buku sejarah Indonesia pada 31 Agustus 2026 ini, dihadirkan dengan desain akhir dan tampilan foto yang baru. Fadli Zon dalam sambutannya menjelaskan urgensi di balik peluncuran ini.

    "Kita menghadirkan pemutakhiran sejarah nasional secara komprehensif setelah hampir dua dekade tidak mengalami peremajaan substansial. Dulu dibuat pada 1976, kemudian 1980-an, kemudian 'Indonesia dalam Arus Sejarah' pada 2008, tapi banyak substansinya itu di awal reformasi. Jadi kita belum melakukan pemutakhiran dan pembaruan yang seharusnya terjadi," kata Fadli.

    Ia menambahkan, Kemenbud secara konsisten menempatkan diri sebagai fasilitator, sementara substansi, metodologi, dan narasi diserahkan sepenuhnya ke sejarawan. Fadli Zon mengatakan, penulisannya secara independen kepada penulis untuk menjaga objektivitas, kebebasan akademik, dan prinsip dasarnya jelas. Negara juga bertugas menjamin wadah bagi pencarian, pengujian, dan pengayaan sejarah secara terbuka dan objektif.

    Soal proses produksinya, Fadli menjelaskan penyusunan karya ini memakan waktu satu tahun, dengan teks yang sebenarnya sudah selesai sejak akhir tahun lalu sesuai jadwal.

    "Tapi teks saja tidak cukup, perlu juga melakukan proofreading, editing, foto-fotonya masih bersifat template dari berbagai macam sumber, kemudian layout waktu itu masih sangat sederhana. Ternyata dari Januari sampai Agustus, diperlukan waktu untuk proofreading, kemudian proses pembelian dan pengadaan foto, karena tak bisa ambil di internet, Google, atau sumbernya gak jelas," jelasnya.

  2. 2. Perspektif baru: Indonesia-sentris dan multidisipliner

    Buku Sejarah Indonesia Resmi Diluncurkan Kemenbud (youtube.com/@kemenbud)
    Buku Sejarah Indonesia Resmi Diluncurkan Kemenbud (youtube.com/@kemenbud)

    Salah satu misi besar dari pemutakhiran ini adalah mengubah cara pandang sejarah dari sekadar hafalan nama dan tokoh, menjadi instrumen buat mengasah nalar kritis serta memetakan masa depan bangsa lewat ruang dialog yang terbuka. Buku ini disusun dengan perspektif Indonesia-sentris, bukan lagi sudut pandang kolonial yang memosisikan Indonesia sebagai korban sejarah semata.

    "Kita mengusung misi besar, sejarah bukan hanya hafalan nama dan tokoh, tapi juga instrumen untuk mengasah nalar kritis dan memetakan masa depan bangsa melalui ruang dialog yang terbuka. Ini ditulis dari perspektif Indonesia, bukan perspektif kolonial, Indonesia-sentris. Kita bukan lagi korban sejarah, tapi mengintegrasikan artikel jurnal, tesis, memperluas cakupan geografis, dan menghadirkan tokoh, wilayah, atau peristiwa yang selama ini terpinggirkan," lanjut Fadli Zon.

    Pendekatan yang digunakan juga bersifat multidisipliner, mengintegrasikan artikel jurnal dan tesis terbaru, memperluas cakupan geografis, serta menghadirkan tokoh, wilayah, dan peristiwa yang selama ini terpinggirkan dari narasi sejarah arus utama. Selain itu, buku ini turut mengembangkan teori sosial humaniora seperti sejarah lingkungan, gender, memori kolektif, dan konstruksi identitas secara kritis sehingga menjadikannya karya yang multivokal dengan penekanan khusus pada peran perempuan, dinamika masyarakat adat, hingga penegasan kemaritiman sebagai sabuk penghubung Nusantara.

  3. 3. Judul dan jilid yang sudah dipublikasikan beserta link mengunduhnya

    Judul dan jilid Sejarah Indonesia (pustakabudaya.id)
    Judul dan jilid Sejarah Indonesia (pustakabudaya.id)

    Buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global sebenarnya memiliki total 10 jilid. Per (31/8/2026), 5 jilid resmi dipublikasikan terlebih dahulu dengan detail judul:

    • Jilid I: Akar Peradaban Nusantara yang membahas lukisan cadas di Sulawesi yang terbukti sebagai salah satu seni gambar tertua di dunia, jejak navigasi maritim leluhur Nusantara, temuan arkeologi dan genetika manusia purba dari Homo erectus hingga Homo floresiensis, serta praktik pengelolaan hutan sagu berkelanjutan yang telah berlangsung ribuan tahun.
    • Jilid II: Nusantara dalam Jaringan Global yang mencakup perjumpaan budaya dengan India, Tiongkok dan Persia, menegaskan bahwa Nusantara adalah ruang sejarah yang secara aktif menampilkan proses panjang pembentukan peradaban yang plural dan terbuka, bukan sekadar wilayah yang pasif menerima pengaruh luar.
    • Jilid III: Nusantara dalam Jaringan Global: Timur Tengah. Jilid ini menyoroti keterhubungan Nusantara dengan dunia Islam melalui jalur perdagangan maritim yang berporos di Lautan Hindia sejak abad ke-7 Masehi, yang menjadikan kepulauan ini simpul yang semakin penting dalam jaringan perdagangan global rempah-rempah.
    • Jilid IV: Interaksi Awal dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi menarasikan awal interaksi Nusantara dengan dunia Barat yang ditandai masuknya kekuatan Eropa, mulai dari Portugis dan Spanyol, disusul Belanda dan bangsa-bangsa Barat lain ke dalam jaringan perdagangan global. Periode ini menciptakan dinamika kompetisi, aliansi, dan resistensi: melalui jalur maritim dan pelabuhan-pelabuhan strategis, kekuatan lokal seperti Aceh, Gowa, Mataram, Ternate, dan Tidore menjalin baik diplomasi maupun perang dalam menghadapi tekanan militer dan monopoli dagang yang dilakukan maskapai dagang Belanda (VOC), yang kemudian berkembang menjadi kekuatan besar di Nusantara hingga akhir abad ke-18.
    • Jilid V: Masyarakat Indonesia dan Terbentuknya Negara Kolonial 1800-1900 menggambarkan pembentukan negara kolonial di Nusantara setelah runtuhnya VOC pada akhir abad ke-18. Pemerintah kolonial Belanda menata ulang administrasi, hukum, ekonomi, dan infrastruktur untuk memperkuat kendali atas wilayah Nusantara, antara lain melalui sistem tanam paksa, pemungutan pajak, pembangunan jalan dan jalur rel kereta api, serta penerapan hukum positif Eropa, yang bersama-sama memengaruhi kehidupan sosial, agama, dan struktur masyarakat.

    Seluruh jilid yang sudah dipublikasikan bisa dibaca secara online dan diunduh gratis. Silakan kunjungi https://pustakabudaya.id/ dan membuat akun. Setelah melalui proses verifikasi dan berhasil login, kamu bisa pilih buku yang diinginkan. Klik "Pinjam Buku - 30 Hari", pilih "Ya". Lantas, muncul tanda untuk mengunduh di sisi kanan atas.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More