Comscore Tracker

Citra Mustikha: Trainer Perempuan Itu Sering Diremehkan, padahal...

#AkuPerempuan Seringkali "pelakunya" dari sesama perempuan

Perempuan yang berprofesi menjadi instruktur gym mungkin memang tak sebanyak laki-laki. Profesi ini menuntut seseorang harus selalu dalam stamina yang prima dan emosi yang stabil. Endurance dan kemampuan menghapalkan ratusan koreografi setiap hari jadi kunci utamanya. 

Menariknya, Citra Mustikha mengambil jalan unik ini. Ia memutuskan untuk menjadi seorang instruktur gym sejak tahun 2013. Bagi sebagian orang, mungkin hal tersebut tak begitu sulit dilakoni.

Namun, keadaan bisa berbeda untuk orang-orang yang harus membagi fokusnya mengurus keluarga, seperti yang dilakukan Citra. Apalagi perannya sebagai seorang ibu dua anak tanpa bantuan asisten rumah tangga secara penuh menciptakan tantangan tersendiri.

Seperti apa kisahnya? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

1. Hobi olahraga mengantarnya sebagai seorang trainer

Citra Mustikha: Trainer Perempuan Itu Sering Diremehkan, padahal...Citra Mustikha bersama anaknya di Marvell CIty pada Selasa (3/12). IDN Times/Prila Arofani

Sejak dulu hobinya memang berolahraga. Citra rajin mengikuti berbagai kelas gym sebagai member biasa dan olahraga outdoor, seperti lari dan mendaki gunung. Selain ingin mendapatkan badan yang lebih sehat, olahraga sangat berperan dalam stres rilisnya.

Apalagi kala itu, dia menargetkan ingin turun berat badan usai naik puluhan kilogram karena hamil dan melahirkan. "Naiknya 20 kilogram, turunnya cuma 5 kilo," kata Citra kepada IDN Times saat ditemui di Marvell City Surabaya, Selasa, (3/12).

Karena selalu terlihat rajin ikut kelas di gym, terutama Body Combat, Citra mendapatkan tawaran dari trainernya untuk mengajar di Gold's Gym Surabaya pada akhir 2013. "Waktu itu ada ujian lisensi Body Combat di Surabaya, biasanya kan selalu di Jakarta. Nah, aku disuruh ikutan karena dia (trainernya) ngelihat aku senang dan rajin," tuturnya. 

Dari situlah Citra memulai karier barunya. Mendapatkan lisensi instruktur Body Combat tak membuatnya puas begitu saja, ia pun merambah program-program lainnya. Di antaranya seperti RPM, Zumba, Strong by Zumba, dan Body Pump.  

2. Tanggapan dan dukungan keluarga

Citra Mustikha: Trainer Perempuan Itu Sering Diremehkan, padahal...instagram.com/citra_mustikha

Beruntungnya, keputusan Citra bergabung menjadi instruktur gym didukung penuh oleh suami dan keluarga besarnya. Apalagi selama ini dia dibesarkan di keluarga pekerja.

"Jadi support banget. Mereka malah gak suka kalau aku diam aja, gak kerja. Aku juga stres kalau di rumah terus gak ngapa-ngapain," kata alumni Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya tersebut.

3. Tantangan membagi tugas di luar dan dalam rumah

Citra Mustikha: Trainer Perempuan Itu Sering Diremehkan, padahal...instagram.com/citra_mustikha

Perempuan seakan memang diciptakan untuk serba bisa dan multitalented. Tapi, bukan berarti ini pekerjaan yang mudah. Membagi waktu untuk mengajar berbagai program di gym, sembari mengurus anak dan rumah seakan menuntut Citra untuk bersikap lebih tangkas.

"Kalau sendirian tanpa support system, gak mungkin ya. Aku bisa melakukan semuanya karena aku punya support system yang cukup bagus," ujarnya.

Citra rutin mengajar setiap Senin-Sabtu pada pagi dan sore hari. Bahkan, ada satu hari yang mengharuskannya mengajar lima kelas dengan program berbeda-beda. Ini belum termasuk undangan di luar jadwal rutin ya. 

Biasanya sebelum berangkat kerja, ia menyempatkan mengantar anak ke sekolah. Ketika sore atau malam, tugas momong anak digantikan suaminya usai bekerja. Ada pun asisten rumah tangga membantu bersih-bersih rumah hanya pada pukul 08.00 hingga 12.00. 

Citra Mustikha: Trainer Perempuan Itu Sering Diremehkan, padahal...Citra Mustikha bersama kedua anaknya di Marvell CIty pada Selasa (3/12). IDN Times/Prila Arofani

Belum lagi kalau sedang tak ada yang membantunya atau anak sakit. Mau tak mau ia membawa serta anaknya saat mengajar. Kalau sakit, ia terpaksa membatalkan jadwal mengajarnya.

Pernah pula ia harus menitipkan anak di tempat bermain (di dalam mall), karena tak ada yang bisa membantu menjaganya. "Nitip ke mbaknya buat bantu ngawasin. Ya mau gimana lagi," katanya.

Lantas, apa tantangan terbesar menjadi instruktur? "Bikin playlist dan ngapalin koreografi! Kadang ngapalin koreo sambil momong," kata Citra. "Kadang mau gak mau terpaksa kasih HP ke anak biar gak rewel."

Fyi, program-program yang tergabung dalam Less Mills, seperti RPM, Body Combat, dan Body Pump, akan selalu memperbaharui koreografer serta musiknya dalam tiga bulan sekali. Sedangkan, Zumba akan update setiap bulannya. 

"Hapalannya setengah mati, kecuali Zumba. Zumba gak pake hapalan, tapi sekali naik sekitar 16 lagu. Gerakannya tetap harus dipikirkan dan gak boleh ngawur." Kata Citra, playlist mengajar harus selalu berbeda setiap pekannya. "Kalau playlist-nya sama terus, ketahuan banget kalau kita malas."

4. "Trainer perempuan sering diremehkan"

Citra Mustikha: Trainer Perempuan Itu Sering Diremehkan, padahal...instagram.com/citra_mustikha .

Menurut Citra, perempuan yang menjadi trainer kerap dipandang sebelah mata. Perempuan harus selalu extra effort, supaya tak terlihat lemah. "Padahal soal stamina dan skill ya gak kalah sama cowok, bahkan seringkali kita lebih unggul. Tapi, tetap saja sering diremehin," tutur wanita 36 tahun itu.

Kalau instruktur cowok membuat kesalahan seakan selalu dimaklumi. Hal ini jarang berlaku untuk instruktur cewek. "Ya mungkin karena lebih suka lihat cowok, ada yang dilihat gitu ya hehe...."

Saat masih dalam fase menyusui anak pertama, Citra kerap mendapat feedback soal bentuk tubuhnya. "Waktu itu aku masih overweight, terus ngajar RPM, ada instruktur senior bilang, “Citra, kalau instruktur tuh penampilannya jangan seperti member ya, kamu itu overweight, gak enak dipandang" gituu."

Dalam hati Citra berkata," Gak ngerti apa aku ini habis melahirkan, masih harus menyusui." Sesaat dia merasa sedih, tetapi kemudian semua kritik dan masukan, meski pedas, dijadikannya sebagai motivasi.

Citra mengatakan diremehkan dan kerap dibanding-bandingkan dengan lelaki menjadi makanannya sehari-hari. Bahkan, perlakuan tersebut seringkali ia terima dari sesama perempuan.

"Seiring berjalannya waktu, aku belajar untuk gak baper. Soalnya kalau baper, bakal kebawa mood-nya pas ngajar, jadinya stres sendiri."

Sekarang dia mengubah mindset-nya bahwa member yang tak ikut kelasnya bukan berarti tidak menyukainya secara personal, bisa jadi memang tidak cocok dengan caranya mengajar atau jamnya tak sesuai. It's fine, katanya.

"Ada yang bilang, aduh maaf ya aku gak ikut kelasmu. Ya aku jawab, ya gak apa-apa, itu hakmu, gak perlu minta maaf."

5. Gagal itu biasa, tapi apa setelahnya?

Citra Mustikha: Trainer Perempuan Itu Sering Diremehkan, padahal...Citra Mustikha saat ditemui di Marvell CIty pada Selasa (3/12). IDN Times/Prila Arofani

Belum ngapa-ngapain sudah diremehin duluan. Secara langsung atau tidak, hal ini memaksa Citra untuk memiliki mental lebih kuat. Termasuk ketika hampir separuh member-nya meninggalkannya di tengah-tengah kelas.

"Waktu itu aku masih baru ngajar Zumba. Dari 50 orang, 20 orang keluar kelas. Itu rasanya...ya ampuunn, sedih banget," kata perempuan kelahiran Kudus, 19 Juli 1983 itu.

Bukan lantas berlarut-larut dalam kecewa dan menyerah, Citra memilih untuk bangkit dan belajar lagi. Ia pun pernah lebih down ketika ditolak menjadi instruktur di Celebrity Fitness.

"Sempat kesal dan sedih karena gak diterima, tapi paling sedihnya 2-3 hari. Setelah itu ya udah, untungnya aku orang yang gak gampang nyerah," ujarnya.

Di sisi lain, dia mencoba menghibur diri saat mendapat penolakan dari mega gym tersebut. Tuntutan yang tinggi di sana bakal menyusahkan pekerjaan lainnya, terutama soal mengasuh anak. Ia cukup bersyukur dengan statusnya yang saat ini freelance di beberapa tempat gym dan studio, seperti di Atlas Sports Centre, Gold's Gym, dan Urban Athletes.

"Beberapa kali ditawari full time, tapi saya gak mau. Kalau full time, saya harus standby seharian, ya mending saya momong anak di rumah," kata Citra. "Enak gini, ngajar tetap jalan sambil urus anak," kata Citra.

Baca Juga: Benedicta Herlina: Perempuan Berharga karena Dia Manusia

6. Ada prestasi paling berkesan, tapi rasanya tak ingin mengulang

Citra Mustikha: Trainer Perempuan Itu Sering Diremehkan, padahal...Dok. Istimewa

Saat ditanya pengalaman paling berkesan selama bergelut di dunia olahraga, alumni SMAN 9 Surabaya itu berkata, "Malah bukan pas jadi instruktur."

Citra menuturkan pernah beberapa kali naik podium saat mengikuti lari maraton 5-10 kilometer. Bangganya lagi, ia sempat "menaklukkan" rute Bromo-Tengger-Semeru berjarak 70 kilometer dalam waktu 18 jam. Meski tak sampai naik podium, rasanya tetap bangga.

"Race yang panjang gak perlu cepat, tapi lebih ke endurance dan mental. Apalagi di gunung hampir gak ketemu orang. Sekalinya ketemu orang, rasanya senang banget, sambil mastiin itu orang beneran apa bukan, hahaha," katanya sambil tertawa.

Ketika ditanya apakah ingin mengulang kesuksesannya tersebut, dengan tegas Citra menjawab, "Gak, hahaha. Udah sekali aja cukup."

7. Tips menjaga badan tetap bugar tanpa overtrained

Citra Mustikha: Trainer Perempuan Itu Sering Diremehkan, padahal...Dok. Istimewa

Mengajar hampir setiap hari dengan jadwal cukup padat sangat memungkinkan seorang instruktur overtrained. Gimana Citra menjaganya supaya tetap bugar dan fit, tanpa overtrained?

"Kalau aku pribadi harus makan teratur dan tidur siang, at least power nap 15 menit. Udah itu aja, gak usah diet-dietan makan salad segala," tuturnya.

Ia pun memberi tips olahraga yang baik. Kalau bukan instruktur, kita cukup berolahraga 1-2 jam per hari dalam durasi 3-4 kali sepekan. "Sebenarnya olahraga tuh gak perlu terlalu banyak. Kan ada yang pagi-sore datang, ikut 4-5 kelas, itu malah gak bagus."

8. Citra berbagi tips menjadi perempuan seharusnya

Citra Mustikha: Trainer Perempuan Itu Sering Diremehkan, padahal...Citra Mustikha bersama kedua anaknya di Marvell CIty pada Selasa (3/12). IDN Times/Prila Arofani

Meski kerap mendapatkan perlakuan tak adil, kata Citra, perempuan tak boleh gampang menyerah. "Jangan gampang baper atau overthinking, mending selalu positive thinking."

Menurut alumni Program Studi Desain Produk Industri ITS Surabaya itu, perempuan hebat adalah yang bisa mandiri dan mencari uang sendiri. Citra berpendapat perempuan tak boleh bergantung kepada siapa pun, termasuk keluarga atau suaminya sendiri.

"Kita gak pernah tahu jalan hidup, kalau suami tiba-tiba meninggalkan kita, entah karena meninggal atau alasan lainnya, kita mau apa kalau terbiasa bergantung?"

Meski kerap dikonotasikan sebagai "kaum tak berdaya", Citra merasa sangat beruntung menjadi seorang perempuan sekaligus ibu. "Karena perempuan itu sebenarnya lebih kuat dan bisa melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan. Jadi kita gak boleh malas-malasan," ucapnya.

Nah, itulah kisah Citra Mustikha sebagai instruktur gym yang menginspirasi banyak orang, terutama para perempuan, untuk terus berkarya sesuai bidang kita masing-masing. Semoga bisa menyulut api semangatmu juga ya!

Baca Juga: Wike Frinidya, Dokter Estetika dan Ahli Bela Diri di WSDK Surabaya

Topic:

  • Dewi Suci R.
  • Pinka Wima

Berita Terkini Lainnya