Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengapa Banyak Protagonis Perempuan Nyentrik di Novel Jepang?

Mengapa Banyak Protagonis Perempuan Nyentrik di Novel Jepang?
novel Jepang dengan lakon perempuan nyentrik nonkonformis (dok. Picador/Breasts and Eggs | dok. Penguin/Hunchback)
Intinya Sih
  • Kemunculan protagonis perempuan nyentrik di novel Jepang muncul sebagai respons terhadap dominasi perspektif laki-laki dalam sastra klasik yang sarat male gaze dan budaya patriarki.
  • Penulis perempuan kontemporer seperti Mieko Kawakami dan Sayaka Murata menggunakan karakter nonkonformis untuk mengkritik kultur misogini, tekanan sosial, serta ketimpangan peran domestik dan profesional di Jepang modern.
  • Tema women support women hadir sebagai reaksi atas alienasi perempuan, menyoroti solidaritas sesama perempuan dalam menghadapi ekspektasi sosial dan struktur patriarki yang membatasi kebebasan mereka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Sadarkah kamu kalau banyak novel Jepang yang pakai lakon perempuan nyentrik di dalamnya? Bukan pixie manic dream girl yang ngeselin dan sebenarnya adalah fantasi atau ekspektasi tak realistis kaum pria, tetapi lebih ke tipe perempuan nonkonformis yang punya pendirian kuat. Gak heran sih, karakter-karakter nyentrik nonkonformis itu memang kebanyakan ditemukan di novel-novel karya penulis perempuan seperti Mieko Kawakami, Sayaka Murata, Natsuo Kirino, Fumiko Enchi, dan Asako Yuzuki.

Kira-kira kenapa, ya? Apa yang bikin mereka kompak memakai PoV perempuan nyentrik sebagai nyawa cerita? Adakah hubungannya dengan tatanan sosial di Jepang? Mari kita bahas!

1. Respons terhadap dominasi perspektif laki-laki dalam sastra Jepang

novel Jepang lakon perempuan
novel klasik feminis Jepang (dok. Penguin/Territory Of Light | dok. Vintage/The Waiting Years)

Secara umum, kehadiran novelis-novelis perempuan dengan lakon perempuannya adalah respons terhadap dominasi perspektif pria dalam sastra Jepang. Osamu Dazai, Yukio Mishima dan Junichiro Tanizaki yang mendominasi sastra klasik Jepang secara langsung maupun tidak, menggambarkan male gaze dan budaya patriarki Jepang khas abad 20-an. Meski Dazai dan Mishima terkadang penggambaran karakter perempuan di buku-buku Dazai dan Mishima cenderung netral, mereka tak benar-benar bisa mencapai akurasi seperti yang dilakukan Fumiko Enchi (The Waiting Years), Ichiyo Higuchi (Troubled Waters), dan Yuko Tsushima (Territory of Light).

Dalam dua novel klasik itu, untuk pertama kalinya, kamu bisa menemukan kritik terhadap kultur patriarki yang menyisihkan perempuan demi kepentingan pria. Sebuah revelasi bahwa perempuan tak seharusnya menggantungkan diri kepada laki-laki juga disenggol di sana. Sayangnya, beberapa dekade kemudian, tepatnya pada era kontemporer, perspektif pria tak berhenti mendominasi. Lihat kesuksesan Haruki Murakami terlepas dari penggambaran seksisnya tentang perempuan. Bahkan beberapa penulis yang disebut sebagai jujukan oleh penikmat sastra Jepang kontemporer pun, tak luput dari indikasi tersebut. Cek saja novelnya Keigo Higashino yang berjudul Salvation of Saint dan In the Miso Soup karya Ryu Murakami. Ada kecenderungan patronase pria dan penggambaran karakter perempuan yang stereotipikal dalam dua novel itu.

2. Bentuk perlawanan dan kritik terhadap kultur misogini dan seksis di Jepang

novel Jepang lakon perempuan
novel Jepang dengan lakon perempuan nonkonformis (dok. HarperCollins/Dillema of Working Women | dok. Gramedia Pustaka Utama/Gadis Minimarket)

Tak pelak, kehadiran novelis-novelis perempuan muda macam Mieko Kawakami dan Sayaka Murata terasa seperti angin segar sekaligus tamparan bagi publik Jepang. Beda dengan beberapa pendahulunya, Kawakami dan Murata cukup berani menyenggol hal-hal yang dianggap tabu, seperti glorifikasi berlebih terhadap peran reproduksi perempuan (melahirkan dan jadi ibu), standar kecantikan yang tak masuk akal, tekanan untuk bisa segalanya (jadi istri, ibu, dan pencari nafkah sekaligus), sampai ekspektasi untuk merepresi nafsu seksual.

Isu-isu tadi tentunya adalah respons terhadap kultur misogini dan seksis di Jepang yang termanifestasi jadi pembagian beban kerja tak dibayar (unpaid labor) yang tak seimbang. Menurut Biro Kesetaraan Gender Kabinet Jepang, sejak tahun 1975, jumlah perempuan yang masuk pasar kerja meningkat secara konsisten. Bahkan puncaknya terlihat pada tahun 1995 dengan persentase perempuan di pasar kerja mencapai hampir 50 persen.

Namun, data itu menyimpan satu fakta yang sering terlewatkan. Pada 2023, Japan Center of Economic Research merilis data yang menunjukkan bahwa lebih banyak perempuan yang status kepegawaiannya tidak tetap ketimbang yang tetap. Menurut mereka, ini mengindikasikan kecenderungan perempuan untuk mengimbangi antara peran profesional dan domestik. Fenomena ini pula yang mendasari mengapa angka kelahiran dan pernikahan di Jepang pun menurun. Beban ganda dan ekspektasi tak masuk akal yang dilimpahkan kepada perempuan adalah beberapa isu yang sering jadi bahan kritik novel-novel kontemporer Jepang berlakon perempuan. Coba tengok Breasts and Eggs (Kawakami), Out (Natsuo Kirino), The Dilemmas of Working Women (Fumio Yamamoto) dan Convenience Store Woman (Sayaka Murata). Keempatnya menyuarakan pentingnya liberasi pilihan dan otonomi tubuh perempuan.

3. Alienasi terhadap perempuan mendorong munculnya trope ''women support women"

novel Jepang lakon perempuan
novel-novel Jepang tentang alienasi perempuan (dok. Penguin/Sisters in Yellow | dok. HarperCollins/Hooked | dok. Pushkin Press/Hollow Inside)

Tak hanya liberasi atau pembebasan, trope lain yang belakangan muncul adalah women support women atau perempuan bantu perempuan. Akar masalahnya adalah alienasi yang juga dialami perempuan, tetapi kerap disepelekan. Ironisnya, alienasi ini tidak hanya dirasakan perempuan-perempuan yang tidak memenuhi standar sosial (melajang atau bercerai), tetapi bahkan yang sudah menikah dan berkeluarga seperti yang ditulis Mieko Kanai dalam Mild Vertigo dan Asako Yuzuki dalam Hooked.

Isu ini kemudian berkembang jadi trope perempuan bantu perempuan. Seperti kohabitasi sukarela dua perempuan lajang dalam Hollow Inside (Asako Otani), A Perfect Day to Be Alone (Nanae Aoyama), dan Sisters in Yellow (Mieko Kawakami). Novel Where the Wild Ladies Are (Aoko Matsuda) dan Woman Running in the Mountains (Yūko Tsushima) juga memakai elemen itu, meski tidak selalu lugas.

Kalau kita perhatikan lakon perempuan dalam novel-novel Jepang tadi sebenarnya tidak nyentrik dalam arti aneh dan ganjil. Mereka hanya perempuan biasa yang memilih untuk memprioritaskan kewarasan mereka ketimbang mengikuti tatanan patriarki yang destruktif untuk perempuan. Bagaimana menurutmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa

Related Articles

See More