Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Milenial Lebih Suka Upload Status daripada Gen Z?

Kenapa Milenial Lebih Suka Upload Status daripada Gen Z?
ilustrasi menggunakan smartphone (pexels.com/Atlantic Ambience)
Intinya Sih
  • Milenial memanfaatkan status media sosial untuk membangun personal branding, menstabilkan karier, dan mempertahankan relevansi di hadapan audiens.
  • Teman milenial makin tersebar, sehingga status menjadi cara praktis memantau kabar, termasuk memastikan teman masih baik-baik saja setelah pengalaman kehilangan beberapa kawan.
  • Di tengah tanggung jawab kerja dan keluarga, milenial memakai status sebagai hiburan singkat sekaligus ruang menyuarakan kritik terhadap isu yang dianggap penting.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jika diperhatikan, pengguna media sosial yang masih aktif mengunggah status didominasi oleh generasi milenial. Sementara generasi Z malah sebaliknya. Mereka terkesan sangat misterius.

Tanpa foto profil, nama akun gak jelas, dan unggahan 0. Kalaupun ada postingan, cuma bayangannya di pasir pantai, fotonya yang membelakangi kamera, dan sebagainya. Jumlahnya sedikit serta seakan-akan sengaja diunggah untuk memperkuat kesan misteriusnya.

Buat Gen Z, kegemaran milenial mengunggah apa pun terkait keseharian, pemikiran, sampai repost berita mungkin terasa berlebihan. Mereka seperti caper, haus validasi, dan berisik sendiri. Akan tetapi, sebetulnya milenial lebih suka upload status daripada Gen Z ada penyebabnya secara sadar maupun tidak sadar. Berikut ini alasan di balik tindakan tersebut.

1. Milenial sadar pentingnya personal branding dalam pekerjaan mereka

menggunakan smartphone
ilustrasi menggunakan smartphone (pexels.com/fauxels)

Bukan cuma generasi milenial yang sekarang sudah bekerja. Banyak dari Gen Z juga telah bekerja dan berusia 25 tahun ke atas. Namun, terdapat perbedaan kebutuhan antara kedua generasi ini.

Generasi Z masih sibuk mencari pengalaman. Itu sebabnya mereka sering berganti pekerjaan. Fokus mereka adalah mengumpulkan, memilah, lalu memilih kesempatan yang lebih menarik untuk pengembangan karier. Sementara tugas generasi milenial yang di atasnya ialah menstabilkan posisinya saat ini.

Membangun personal branding melalui media sosial menjadi sangat penting. Agar orang-orang mengenal mereka sebagai siapa dan punya keahlian di bidang apa. Bagi generasi milenial, media sosial adalah panggung yang bisa dimanfaatkan untuk memantapkan karier mereka sekaligus tetap relevan dengan audiens.

2. Teman makin tersebar, tahu kabar lebih efektif via medsos

menunjukkan media sosial
ilustrasi menunjukkan media sosial (pexels.com/Mikhail Nilov)

Makin usia bertambah, kenalan dan teman-teman lama juga makin tersebar. Repot apabila generasi milenial mesti japri satu per satu via WA, misalnya, hanya untuk mengetahui kabar terkini kawan-kawan mereka. Lebih gampang memantau status masing-masing.

Akan terlihat apakah jumlah anggota keluarganya bertambah atau tidak, kondisinya sedang sehat atau justru sedang ada masalah, dan sebagainya. Tentu generasi Z juga punya banyak kawan.

Hanya saja, lingkarannya tidak sebesar milenial. Pertemanannya masih didominasi oleh kawan semasa kuliah atau teman kerja sekarang. Banyak dari mereka masih tinggal sekota. Cukup lewat grup WA, kabar masing-masing dapat terlacak dengan mudah. Ketemu langsung pun bisa kapan saja.

3. Beberapa kawan telah meninggal, update status jadi tanda masih hidup

menggunakan smartphone
ilustrasi menggunakan smartphone (pexels.com/Gustavo Fring)

Ini bagian yang menyedihkan dalam pertemanan generasi milenial. Mereka belum lanjut usia, tetapi sudah mulai harus menghadapi kenyataan pahit. Beberapa kawan mendadak dikabarkan meninggal dunia dan bikin mereka syok.

Rasanya seperti ada trauma yang bikin generasi milenial tidak ingin ketinggalan kabar mengenai teman-temannya. Sampai banyak orang berprinsip untuk memperbarui status medsos secara berkala. Bukan karena narsis, melainkan buat memberi tahu dunia bahwa mereka masih hidup.

Demikian pula mereka rajin memantau unggahan kawan cuma buat memastikan masih di bumi yang sama. Bahkan melihat tanda bahwa teman baru mengunggah status terbaru saja telah membuat mereka cukup lega. Status menjadi pernyataan eksistensi diri.

4. Hiburan singkat dan cepat di tengah kesibukan

menggunakan smartphone
ilustrasi menggunakan smartphone (pexels.com/Kindel Media)

Tanpa maksud meremehkan kesibukan gen Z, kesibukan milenial cenderung lebih tinggi. Ini disebabkan oleh posisi mereka dalam pekerjaan yang relatif sudah di atas generasi Z. Bersama dengan itu, otomatis tanggung jawab mereka dalam pekerjaan juga lebih besar.

Banyak generasi milenial telah menjadi orangtua. Kerap kali mereka punya pekerjaan sampingan buat menambah pemasukan keluarga. Di tengah kesibukan setinggi ini, mereka butuh hiburan yang dapat diakses dengan cepat.

Media sosial memfasilitasi kebutuhan tersebut. Mereka dapat mengaksesnya sebentar-sebentar saja. Seperti bikin status, tutup, lalu nanti curi-curi waktu kembali untuk mengecek notifikasi dan membalas komentar. Malah generasi milenial gak terlalu sering scrolling karena itu lebih membuang waktu serta mengganggu konsentrasi.

5. Saksi hidup tumbangnya orde baru sehingga lebih kritis

menggunakan smartphone
ilustrasi menggunakan smartphone (pexels.com/cottonbro studio)

Milenial menjadi generasi paling muda yang menyaksikan runtuhnya Orde Baru di Indonesia setelah 32 tahun berkuasa. Generasi milenial kelahiran tahun 1988, misalnya, saat itu telah duduk di sekolah dasar. Mereka tahu apa yang terjadi sekalipun hanya melihat melalui berita televisi dan membaca koran.

Termasuk terkait kerusuhan Mei 1998 yang mengerikan. Tanpa sadar, paparan peristiwa sebesar ini pada usia mereka yang belia sangat memengaruhi karakter kritis mereka. Generasi milenial sukar diam saja ketika membaca dan melihat berita-berita di media sosial.

Apalagi di hal-hal yang dirasa gak tepat, mereka cepat bereaksi dengan memberikan kritik. Generasi milenial tidak puas apabila tidak menyuarakan pendapat mereka. Milenial tidak menggunakan medsos sekadar untuk berjejaring, melainkan juga untuk memperkuat demokrasi di Indonesia.

Milenial lebih suka upload status daripada Gen Z bukan sekadar untuk mengekspresikan diri. Ada tujuan terkait pekerjaan dan motivasi lainnya. Namun, tentu milenial juga mesti tetap berhati-hati agar unggahannya tidak menimbulkan akibat negatif seperti kegaduhan, penyebaran hoaks, kebencian, atau pengabaian privasi dan keamanan data.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More