novel Jepang dengan lakon perempuan nonkonformis (dok. HarperCollins/Dillema of Working Women | dok. Gramedia Pustaka Utama/Gadis Minimarket)
Tak pelak, kehadiran novelis-novelis perempuan muda macam Mieko Kawakami dan Sayaka Murata terasa seperti angin segar sekaligus tamparan bagi publik Jepang. Beda dengan beberapa pendahulunya, Kawakami dan Murata cukup berani menyenggol hal-hal yang dianggap tabu, seperti glorifikasi berlebih terhadap peran reproduksi perempuan (melahirkan dan jadi ibu), standar kecantikan yang tak masuk akal, tekanan untuk bisa segalanya (jadi istri, ibu, dan pencari nafkah sekaligus), sampai ekspektasi untuk merepresi nafsu seksual.
Isu-isu tadi tentunya adalah respons terhadap kultur misogini dan seksis di Jepang yang termanifestasi jadi pembagian beban kerja tak dibayar (unpaid labor) yang tak seimbang. Menurut Biro Kesetaraan Gender Kabinet Jepang, sejak tahun 1975, jumlah perempuan yang masuk pasar kerja meningkat secara konsisten. Bahkan puncaknya terlihat pada tahun 1995 dengan persentase perempuan di pasar kerja mencapai hampir 50 persen.
Namun, data itu menyimpan satu fakta yang sering terlewatkan. Pada 2023, Japan Center of Economic Research merilis data yang menunjukkan bahwa lebih banyak perempuan yang status kepegawaiannya tidak tetap ketimbang yang tetap. Menurut mereka, ini mengindikasikan kecenderungan perempuan untuk mengimbangi antara peran profesional dan domestik. Fenomena ini pula yang mendasari mengapa angka kelahiran dan pernikahan di Jepang pun menurun. Beban ganda dan ekspektasi tak masuk akal yang dilimpahkan kepada perempuan adalah beberapa isu yang sering jadi bahan kritik novel-novel kontemporer Jepang berlakon perempuan. Coba tengok Breasts and Eggs (Kawakami), Out (Natsuo Kirino), The Dilemmas of Working Women (Fumio Yamamoto) dan Convenience Store Woman (Sayaka Murata). Keempatnya menyuarakan pentingnya liberasi pilihan dan otonomi tubuh perempuan.