ilustrasi transportasi umum (commons.wikimedia.org/LN9267)
Bagi sebagian perempuan, perjalanan pulang setelah bekerja lembur, menghadiri acara, atau bertemu teman tidak bisa dilakukan dengan pikiran yang sepenuhnya tenang. Rute yang gelap, halte yang sepi, trotoar yang terputus, minimnya pilihan transportasi pada malam hari, dan kekhawatiran mengalami pelecehan dapat membuat perjalanan singkat terasa jauh lebih melelahkan. Bahkan, ada perempuan yang sengaja menolak pekerjaan dengan jam pulang larut, tidak mengambil jadwal kegiatan tertentu, atau meninggalkan acara lebih awal karena harus mempertimbangkan keamanan perjalanan pulang.
Situasi tersebut tidak cukup diselesaikan dengan imbauan agar perempuan lebih berhati-hati atau selalu meminta seseorang menjemput. Keamanan ruang publik juga berkaitan dengan kebijakan tata kota, penerangan jalan, desain halte, ketersediaan transportasi umum, pengawasan terhadap titik rawan, serta penanganan laporan kekerasan dan pelecehan. Penerangan yang memadai, misalnya, dapat membantu meningkatkan visibilitas di jalan, meskipun tidak dengan sendirinya menjamin seseorang bebas dari ancaman. Trotoar yang layak dan akses transportasi yang terintegrasi juga bisa mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, terutama bagi perempuan yang harus berpindah dari satu moda transportasi ke moda lainnya.
Perencanaan kota yang mempertimbangkan kebutuhan perempuan turut menentukan siapa yang dapat menggunakan ruang publik dengan nyaman dan pada jam berapa fasilitas tersebut dapat diakses. Ketika keamanan hanya dibebankan kepada individu, perempuan akhirnya harus mengeluarkan biaya, waktu, dan tenaga tambahan untuk menghindari risiko yang seharusnya juga ditangani melalui sistem pelayanan publik. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat perjalanan pulang, tetapi juga bisa memengaruhi kesempatan bekerja, pilihan tempat tinggal, akses pendidikan, dan kebebasan menikmati kehidupan sosial. Rasa aman, dengan demikian, bukan sekadar urusan pribadi perempuan, melainkan bagian dari hak warga untuk menggunakan ruang publik tanpa harus terus-menerus membatasi aktivitasnya karena takut menjadi korban.
Urusan yang terlihat sangat personal sering kali memiliki hubungan dengan keputusan yang dampaknya dirasakan bersama oleh masyarakat. Memahami urusan perempuan yang punya sangkut paut dengan politik bukan berarti setiap masalah harus diserahkan kepada pemerintah, melainkan membantu kita membedakan persoalan yang bisa diselesaikan secara individual dan persoalan yang membutuhkan perubahan sistem. Semoga semakin banyak perempuan yang merasa berhak menyuarakan kebutuhannya tanpa harus menganggap kesulitan sehari-hari sebagai sesuatu yang wajar dan tidak bisa diubah. Dari lima persoalan di atas, mana yang paling dekat dengan pengalamanmu dan menurutmu perlu mendapat perhatian lebih besar dari para pengambil kebijakan?
Refensi
"Why Does Everything Seem Political?" Psychology Today. Diakses pada Oktober 2026.
"'Menstrual poverty': Brazil tampon row gets political." France 24. Diakses pada Oktober 2026.