Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 MBTI Cowok yang Sering Terjebak Savior Complex dalam Hubungan

ilustrasi pasangan romantis
ilustrasi pasangan romantis (pexels.com/JOAO ARAUJO)
Intinya sih...
  • INFJ cenderung merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan dan penyembuhan pasangan, mengabaikan kebutuhan diri sendiri.
  • ENFJ merasa gagal jika gak mampu memberi solusi pada pasangan, membuat hubungan terasa seperti proyek perbaikan.
  • INFP terjebak dalam relasi yang menguras energi emosional karena idealismenya tentang cinta yang mampu menyembuhkan segalanya.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam dinamika hubungan, ada tipe cowok yang merasa harus selalu hadir sebagai penyelamat. Ia terpanggil untuk memperbaiki, menolong, dan memikul beban emosional pasangan, bahkan ketika hal itu melewati batas sehat. Pola ini sering dikaitkan dengan istilah savior complex, yaitu kecenderungan merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan dan penyembuhan orang lain.

Menariknya, beberapa tipe MBTI lebih rentan terjebak pola ini karena karakter empatik, idealis, atau berorientasi solusi. Niat awalnya mulia, tapi tanpa batas yang jelas, hubungan bisa terasa timpang dan melelahkan. Alih-alih setara, relasi berubah menjadi misi penyelamatan yang penuh tekanan emosional. Yuk, kenali tipe-tipe MBTI yang sering terjebak savior complex supaya hubungan tetap sehat dan seimbang!

1. INFJ

ilustrasi pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/Andrea Piacquadio)

INFJ dikenal sebagai pribadi yang intuitif, empatik, dan penuh visi. Ia cenderung peka terhadap luka batin pasangan bahkan sebelum hal itu diungkapkan secara langsung. Kepekaan ini sering membuat INFJ merasa memiliki tanggung jawab moral untuk membantu proses penyembuhan tersebut.

Sayangnya, dorongan untuk menjadi penyelamat sering membuat INFJ mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Ia bisa terlalu fokus pada perbaikan pasangan sampai lupa bahwa hubungan sehat membutuhkan dua pihak yang sama-sama bertumbuh. Ketika ekspektasi perubahan gak sesuai harapan, kekecewaan emosional bisa terasa sangat dalam.

2. ENFJ

ilustrasi pasangan mesra
ilustrasi pasangan mesra (pexels.com/ArtHouse Studio)

ENFJ punya karakter hangat dan suportif yang kuat. Ia sering merasa puas ketika bisa membantu orang lain berkembang menjadi versi terbaik dirinya. Dalam hubungan, ENFJ cenderung mengambil peran sebagai motivator sekaligus pendukung utama.

Namun, kecenderungan ini bisa berubah menjadi tekanan internal untuk selalu hadir dan menyelesaikan masalah pasangan. Ketika pasangan mengalami kesulitan, ENFJ bisa merasa gagal jika gak mampu memberi solusi. Pola ini membuat hubungan terasa seperti proyek perbaikan, bukan kemitraan yang setara.

3. INFP

ilustrasi memberi hadiah pasangan
ilustrasi memberi hadiah pasangan (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

INFP dikenal sebagai pribadi yang romantis dan penuh imajinasi tentang cinta. Ia sering memandang hubungan sebagai perjalanan emosional yang mendalam dan penuh makna. Ketika melihat pasangan terluka atau memiliki masa lalu kelam, INFP merasa terpanggil untuk menjadi cahaya dalam kegelapan tersebut.

Idealismenya membuat ia percaya bahwa cinta mampu menyembuhkan segalanya. Padahal, realitas hubungan jauh lebih kompleks dan membutuhkan batas yang sehat. Tanpa kesadaran diri, INFP bisa terjebak dalam relasi yang menguras energi emosional.

4. ISFJ

ilustrasi pasangan tertawa
ilustrasi pasangan tertawa (unsplash.com/Rydale Clothing)

ISFJ dikenal sebagai tipe yang penuh dedikasi dan setia. Ia memiliki dorongan kuat untuk merawat dan memastikan orang terdekat merasa aman serta nyaman. Dalam hubungan, ia sering mengutamakan kebutuhan pasangan di atas kebutuhannya sendiri.

Kecenderungan ini membuat ISFJ rentan terjebak dalam pola pengorbanan berlebihan. Ia sulit berkata tidak, bahkan ketika situasi sudah melewati batas yang wajar. Tanpa keseimbangan, relasi bisa berubah menjadi beban yang perlahan menguras kestabilan emosionalnya.

5. ENFP

ilustrasi pasangan tersenyum
ilustrasi pasangan tersenyum (unsplash.com/Quaid Lagan)

ENFP memiliki semangat tinggi dan keyakinan besar pada potensi seseorang. Ia mudah melihat sisi terbaik pasangan, bahkan ketika orang lain hanya melihat kekurangannya. Optimisme ini membuat ENFP sering merasa mampu membantu pasangan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Namun, semangat memperbaiki tersebut bisa membuat ENFP terjebak dalam hubungan yang penuh drama. Ia bisa terlalu lama bertahan karena percaya perubahan akan terjadi suatu saat nanti. Tanpa batas yang jelas, energi emosional ENFP bisa terkuras tanpa hasil yang sepadan.

Savior complex sering berawal dari niat baik, tapi tanpa kesadaran diri, niat tersebut bisa berubah menjadi pola relasi yang gak sehat. Hubungan yang seimbang bukan tentang siapa yang menyelamatkan siapa, melainkan tentang dua individu yang saling mendukung tanpa kehilangan diri sendiri. Memahami kecenderungan kepribadian membantu mengenali pola sebelum menjadi masalah yang lebih besar. Pada akhirnya, cinta yang sehat adalah tentang tumbuh bersama, bukan tentang menjadi pahlawan sendirian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Men

See More

5 MBTI Cowok yang Sering Terjebak Savior Complex dalam Hubungan

17 Feb 2026, 07:15 WIBMen